Pagi di Pesantren Ar-Raudlatul Ilmiyah Kertosono selalu memiliki iramanya sendiri. Suara santri mengaji, langkah kaki menuju masjid, dan kesibukan para ustadz menjadi denyut kehidupan yang terus berjalan dari generasi ke generasi. Di tengah denyut itulah nama KH Ali Manshur Kastam hadir sebagai salah satu tokoh penting yang menjaga nyala pesantren tetap hidup hingga hari ini.
Ia bukan hanya pengasuh pesantren. Di mata santri dan koleganya, KH Ali Manshur dikenal sebagai sosok tekun, sederhana, dan tidak pernah berhenti belajar. Sosok yang lebih banyak menunjukkan keteladanan melalui kerja sunyi dibandingkan pidato panjang.
KH Ali Manshur Kastam lahir di Dengok, Paciran, Lamongan, pada 3 Februari 1956. Ia merupakan anak keenam pasangan Kastam dan Romlah sekaligus adik kandung KH Musta’in Kastam atau yang akrab dikenal Kiai Ta’in.
Meski bersaudara kandung, perjalanan kepemimpinan pesantren tidak pernah didasarkan pada hubungan keluarga. Pesantren Ar-Raudlatul Ilmiyah memiliki tradisi tersendiri: kepemimpinan diberikan kepada sosok yang dianggap layak oleh yayasan dan alumni.
Setelah wafatnya Kiai Ta’in pada 1994, pengurus yayasan bersama alumni senior bermusyawarah menentukan arah pesantren. Dipimpin Sun’an Karwalib, mereka akhirnya sepakat menunjuk tiga ustadz senior sebagai pengasuh secara kolektif-kolegial, yakni KH Ali Manshur Kastam, Kiai Ali Hamdi Muda’im, dan KH Ja’far Yasa’. Dari tiga nama itu, KH Ali Manshur dipercaya menjadi ketua pengasuh.
Kepercayaan itu tidak datang tiba-tiba.
Sejak muda, KH Ali Manshur dikenal sebagai santri yang tekun. Ia sempat belajar di MI Muhammadiyah Blimbing hingga kelas lima sebelum mengikuti sang kakak mondok di Kertosono pada 1969. Selama lima tahun ia belajar di bawah asuhan Kiai Salim.
Sebenarnya, ia ingin menempuh pendidikan formal di luar pesantren. Namun Kiai Salim meminta agar dirinya fokus belajar di pesantren saja. Sebagai santri, ia memilih taat kepada dawuh kiai.
Pilihan itu kemudian membentuk karakter keilmuannya. KH Ali Manshur tumbuh sebagai kiai yang ditempa murni oleh tradisi pesantren. Ia tidak banyak mengenal bangku pendidikan formal, tetapi kegemarannya membaca menjadikan cakrawala pengetahuannya luas.
Banyak kolega dan santrinya mengenang satu kebiasaan yang hampir tidak pernah lepas dari dirinya: membaca. Di sela kesibukan mengajar maupun mengurus pesantren, ia selalu menyempatkan diri membuka kitab atau buku.
Ketekunan itu pernah membawanya meraih prestasi tingkat nasional. Pada 1982, ia menjadi runner up lomba Bahasa Arab tingkat nasional yang diadakan LIPIA Jakarta. Pesertanya berasal dari berbagai pondok pesantren di Indonesia.
Menariknya, KH Ali Manshur ditempatkan di kategori mutaqaddimun atau tingkat atas, bersaing dengan peserta lulusan perguruan tinggi Timur Tengah seperti Ummul Qura, Al-Azhar, hingga Universitas Khartoum. Penilaiannya mencakup kemampuan nahwu, sharaf, balaghah, dan takallum.
Di balik keluasan ilmunya, KH Ali Manshur dikenal rendah hati. Ia menikah dengan Sri Wahyuningsih, santrinya sendiri yang berasal dari Krian, Sidoarjo. Dari pernikahan itu lahir empat putri: Izzatur Rusuli, Tuhfatur Rusuli, Usfiyatur Rusuli, dan Niqbatur Rusuli.
Semua putrinya tumbuh dalam tradisi pesantren. Sebagian melanjutkan studi hingga luar negeri dan perguruan tinggi ternama, tetapi tetap memiliki keterikatan kuat dengan dunia pendidikan Islam.
Selepas nyantri pada 1974, KH Ali Manshur mulai membantu mengajar di pesantren. Mata pelajaran yang diampunya beragam, mulai nahwu, fikih, tafsir, hingga hadits.
Corak pengajarannya memiliki kekhasan tersendiri. Dalam mengajarkan tafsir, misalnya, ia tidak terpaku pada satu kitab tafsir tertentu. Ia mengajarkan makna Al-Qur’an secara lafdziyah, lalu menjelaskan kandungan ayat dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Penjelasannya sering panjang, mengalir, dan kontekstual. Banyak santri merasa pengajian tafsir KH Ali Manshur bukan sekadar mengurai makna ayat, tetapi juga membaca realitas sosial.
Karakter itu membuat sebagian orang melihat pengaruh gaya Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dalam cara beliau menjelaskan Al-Qur’an.
Berbeda dengan Kiai Ta’in yang dikenal ringkas dan langsung pada inti pembahasan, KH Ali Manshur lebih senang mengaitkan tafsir dengan persoalan masyarakat, kehidupan sehari-hari, hingga tantangan zaman.
Selain mengajar di kelas, ia juga aktif mengajar bandongan selepas Isya dan Subuh. Metode pengajarannya tetap mempertahankan tradisi khas Kertosono: seorang santri membaca kitab per lafadz, lalu kiai memaknai dan menjelaskan kandungannya.
Bagi KH Ali Manshur, pesantren bukan sekadar tempat belajar kitab. Pesantren harus mampu menjawab perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Pandangan itu tampak kuat setelah ia memimpin pesantren pasca wafatnya Kiai Ta’in. Masa itu bukan periode mudah. Pesantren sempat mengalami penurunan jumlah santri dan membutuhkan konsolidasi ulang.
Namun dari situ pula lahir berbagai pembaruan.
Pada pertengahan 1990-an, Pesantren Ar-Raudlatul Ilmiyah mulai melakukan penyesuaian besar dalam sistem pendidikan. Kurikulum formal dari Kementerian Agama mulai diakomodasi lebih luas. Jurusan IPA dan IPS dibuka pada tingkat aliyah, disusul jurusan keagamaan beberapa tahun kemudian.
Langkah itu diambil agar santri tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki akses lebih luas ke perguruan tinggi.
Perubahan tersebut memang tidak mudah. Jadwal belajar sempat sangat padat. Beberapa pelajaran kitab harus dikurangi demi menyesuaikan tuntutan pendidikan formal.
Tetapi di tengah perubahan itu, KH Ali Manshur tetap berusaha menjaga ruh pesantren.
Ia memperkuat budaya literasi, membuka ruang kompetisi akademik, hingga mendorong lahirnya majalah dinding “Shoutu Ulin Nuha” atau SUN yang kemudian melahirkan banyak penulis alumni.
Perhatian beliau tidak hanya pada kurikulum. Pembinaan santri di asrama juga menjadi perhatian serius.
Saat sistem Guru Praktik mulai dihapus karena tuntutan formalitas pendidikan, KH Ali Manshur menyadari pembinaan santri tidak boleh kosong. Bersama yayasan dan dukungan DDII Jawa Timur, ia kemudian mengajak para alumni kembali ke pesantren sebagai musyrif dan pembina asrama.
Perubahan demi perubahan terus dilakukan. Fasilitas pesantren dibenahi, perpustakaan diperkuat, laboratorium dibangun, hingga pembelian lahan pengembangan pesantren dilakukan.
Perlahan wajah pesantren berubah menjadi lebih rapi, lebih tertata, dan lebih hidup.
Di luar pesantren, KH Ali Manshur juga aktif dalam gerakan sosial-keagamaan. Muhammadiyah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Ia lahir dan tumbuh di kawasan pantura Lamongan yang dikenal sebagai basis Muhammadiyah. Kedekatannya dengan persyarikatan itu pun terus terjalin hingga dewasa.
Berbeda dengan generasi pengasuh sebelumnya yang memilih berada di tengah tanpa masuk struktur organisasi, KH Ali Manshur justru aktif secara terbuka di Muhammadiyah.
Pada Musyawarah Daerah Muhammadiyah tahun 2010, ia bahkan memperoleh dukungan terbanyak untuk menjadi Ketua PDM Nganjuk. Namun amanah itu tidak diambil karena ia merasa tanggung jawab mengasuh pesantren lebih utama.
Selain di Muhammadiyah, ia juga aktif di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Timur. Dari jejaring itulah Pesantren Ar-Raudlatul Ilmiyah semakin dikenal luas dan terhubung dengan banyak lembaga pendidikan Islam di Indonesia.
Meski secara formal pesantren tidak berafiliasi dengan ormas tertentu, masyarakat telanjur mengenalnya sebagai “pesantren Muhammadiyah”. Banyak alumni dan ustadznya menjadi kader maupun simpatisan Muhammadiyah.
Pesantren ini bahkan dikenal sebagai salah satu pemasok kader ulama Muhammadiyah, khususnya di Jawa Timur.
Namun bagi KH Ali Manshur, hal terpenting bukan label organisasi, melainkan bagaimana pesantren terus melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi zaman.
Kini, di usia yang tidak lagi muda, KH Ali Manshur masih terus membersamai pesantren. Selain menjadi pengasuh Pesantren Ar-Raudlatul Ilmiyah, ia juga dipercaya sebagai tim ahli Lembaga Pengembangan Pesantren Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur periode 2022–2027.
Perjalanan panjangnya menunjukkan satu hal: perubahan memang tidak bisa dihindari, tetapi pesantren tidak boleh kehilangan ruhnya.
Dan di tengah arus perubahan zaman itu, KH Ali Manshur Kastam memilih tetap menjaga nyala tradisi, ilmu, dan pengabdian dari pesantren kecil di timur Pasar Kertosono untuk umat yang lebih luas. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments