Siswa Madrasah Aliyah Muhammadiyah 1 Karangasem (Mamsaka) Paciran mengikuti pembelajaran berbasis proyek melalui pembuatan eco enzyme pada Selasa (12/5/2026). Kegiatan tersebut memadukan mata pelajaran Biologi dan Kimia dalam praktik pengolahan limbah organik menjadi produk ramah lingkungan.
Sejak pagi, para siswa terlihat menyiapkan berbagai bahan, seperti kulit jeruk, kulit nanas, serta sisa sayuran untuk difermentasi. Botol-botol fermentasi berjajar di area madrasah, sementara siswa berdiskusi mengenai komposisi bahan dan tahapan pembuatan eco enzyme.
Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada proses fermentasi limbah organik, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan produk sabun ramah lingkungan berbahan dasar eco enzyme. Para siswa mempraktikkan secara langsung proses pencampuran limbah organik dengan gula merah atau molase dan air sesuai takaran yang telah ditentukan.
Guru pembimbing, Rifa’ul Ummah, S.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang agar siswa dapat memahami materi pelajaran melalui praktik langsung di lapangan.
“Melalui kolaborasi Biologi dan Kimia ini, siswa belajar tentang proses penguraian oleh mikroorganisme sekaligus memahami reaksi kimia yang terjadi selama fermentasi. Nantinya hasil eco enzyme juga akan dikembangkan menjadi produk sabun,” ujarnya.
Menurutnya, pembelajaran berbasis proyek menjadi sarana agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, siswa didorong untuk memahami pemanfaatan limbah organik menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Dalam mata pelajaran Biologi, siswa mempelajari peran mikroorganisme pada proses fermentasi limbah organik. Sementara dalam mata pelajaran Kimia, siswa mempelajari komposisi larutan, perubahan zat, hingga teknik pengolahan eco enzyme menjadi produk yang dapat dimanfaatkan.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari edukasi lingkungan di lingkungan madrasah. Limbah organik yang sebelumnya dibuang dimanfaatkan kembali menjadi bahan yang memiliki nilai manfaat dan potensi ekonomi.
Selain melakukan praktik pembuatan, setiap kelompok siswa juga diminta melakukan pengamatan terhadap proses fermentasi. Mereka mencatat perubahan warna, aroma, dan hasil fermentasi yang nantinya dipresentasikan di depan kelas sebagai bagian dari evaluasi pembelajaran.
Kepala madrasah, Purwanto, M.Pd., mengapresiasi pelaksanaan pembelajaran kolaboratif tersebut. Menurutnya, model pembelajaran berbasis proyek dapat mendorong siswa lebih aktif dalam proses belajar.
“Anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga belajar inovasi, kerja sama, dan kepedulian terhadap lingkungan. Ini menjadi bekal penting bagi mereka di masa depan,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, madrasah berharap siswa dapat memahami penerapan ilmu sains secara lebih kontekstual sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap pengelolaan limbah organik dan lingkungan sekitar. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments