Ahad, 10 Mei 2026, Auditorium KH Abdurrahman Syamsury Pondok Karangasem menjelma ruang haru yang dipenuhi kenangan dan keikhlasan melepas perpisahan. Para purnasiswa duduk dalam balutan pakaian terbaik mereka, namun yang paling tampak sesungguhnya adalah mata-mata yang mulai basah oleh kesadaran bahwa hari itu menjadi batas antara kehidupan pondok dan kerasnya dunia nyata.
Ketika Indonesia Raya berkumandang, suara paduan suara yang jernih dan syahdu menjadikan lagu itu terasa sebagai panggilan sejarah bagi generasi muda untuk mengabdikan ilmu dan jiwa mereka bagi bangsa dan kemanusiaan.
Suasana semakin mengguncang batin saat Mars Muhammadiyah menggema dengan irama perjuangan yang kokoh. Lagu itu menegaskan bahwa mereka bukan sekadar lulusan, melainkan generasi yang dipersiapkan untuk menjaga nilai, melayani umat, dan menghidupkan peradaban.
Dan ketika Mars Karangasem dilantunkan, kenangan tentang makan bersama, belajar bersama, diniyah, muhadlarah, hingga malam-malam panjang di asrama hadir berdesakan dalam ingatan. Air mata perlahan jatuh, sebab mereka sadar bahwa kebersamaan yang selama ini terasa sederhana ternyata begitu berharga ketika harus ditinggalkan.
Puncak haru pecah saat Himne Guru mengalun lirih dan mendalam. Lagu itu terdengar seperti doa panjang para guru yang selama bertahun-tahun mendidik dengan ilmu, kesabaran, dan cinta yang tak banyak terucap. Banyak siswa menundukkan kepala, menahan tangis di hadapan orang-orang yang telah membesarkan jiwa mereka dengan adab dan perjuangan.
Hari itu, Karangasem tidak sekadar melepas para purnasiswa. Karangasem sedang mengantar generasi yang telah ditempa oleh ilmu, doa, dan kesederhanaan untuk turun gunung menghadapi kehidupan—membawa iman sebagai kekuatan, ilmu sebagai cahaya, dan kenangan pondok sebagai nyala perjuangan sepanjang hayat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments