Ada banyak orang yang diam-diam hidup dalam luka karena terlalu lama menggantungkan hati pada janji manusia.
Mereka bertahan bukan karena kuat, tetapi karena percaya bahwa harapan yang diucapkan suatu hari akan benar-benar diwujudkan.
Namun waktu berjalan, sementara janji tetap tinggal sebagai kata-kata. Di situlah penantian perlahan berubah menjadi kelelahan, dan harapan yang dulu menghidupkan justru menjadi sesuatu yang diam-diam menyiksa.
Betapa pilunya menjadi seseorang yang terus menunggu. Menunggu kabar yang tak pernah benar-benar tiba. Menunggu janji yang selalu diucapkan, tetapi tak pernah diwujudkan.
Hari demi hari berlalu seperti lorong panjang tanpa ujung. Seseorang tetap bertahan, meski dalam diam dia mulai lelah.
Dia mencoba percaya bahwa semua akan indah pada waktunya. Namun yang datang justru sepi yang semakin akrab.
Janji terkadang memang terdengar begitu manis. Ia mampu membuat seseorang bertahan lebih lama dari batas kemampuannya. Memberi harapan pada hati yang rapuh.
Janji membuat orang rela mengorbankan waktu, perasaan, bahkan sebagian hidupnya. Tetapi ketika janji itu hanya tinggal kata-kata, maka manisnya berubah menjadi siksaan.
Janji itu ibarat madu yang ditempel di ujung hidung. Terlihat begitu dekat.
Tercium harum manisnya. Mata dapat menyaksikan kilau keemasannya dengan jelas.
Namun lidah tak pernah benar-benar mampu mengecapnya. Kita hanya bisa membayangkan rasanya. Mencoba menjilatnya dengan penuh harap, tetapi selalu gagal menyentuhnya.
Begitulah penantian yang tidak diberi kepastian. Dekat dalam angan, jauh dalam kenyataan.
Ada orang yang setiap malam memeriksa teleponnya, berharap ada pesan yang datang. Setiap bunyi notifikasi membuat dadanya berdebar. Namun berkali-kali yang muncul hanyalah pesan lain. Bukan kabar yang dinanti.
Ada pula seorang ibu yang menunggu anaknya pulang merantau. Setiap sore ia duduk di depan rumah. Memandang jalan dengan mata penuh harap.
Berkali-kali sang anak bila kalau sudah berhasil, dia akan pulang. Tetapi tahun demi tahun berlalu, kepulangan itu tak pernah benar-benar terjadi.
Ada seorang pekerja kecil yang terus dijanjikan kenaikan nasib oleh atasannya. Bersabar dan bertahan dengan segala lelahnya.
Menahan kecewa demi kecewa. Sampai akhirnya ia sadar bahwa yang selama ini dipelihara hanyalah harapan kosong.
Ada pula seseorang yang bertahan dalam hubungan tanpa arah. Tidak dilepas, tetapi juga tidak dipastikan. Hatinya digantung di antara harapan dan kehilangan.
Dan begitulah salah satu rasa sakit paling melelahkan: bukan ditolak, melainkan dibiarkan menunggu tanpa ujung.
Sebab penolakan kadang masih memberi ketegasan. Orang bisa menangis, lalu perlahan belajar mengikhlaskan.
Tapi ketidakjelasan membuat hati terus hidup dalam tanda tanya. Ia tidak bisa pergi sepenuhnya, tetapi juga tidak bisa tenang untuk menetap.
Penantian yang panjang sering kali mengubah manusia. Yang dulu ceria menjadi pendiam. Yang dulu penuh keyakinan menjadi ragu pada dirinya sendiri.
Yang dulu mudah percaya akhirnya takut berharap lagi. Karena terlalu lama menunggu sesuatu yang tak pasti membuat jiwa kehabisan tenaga.
Tidak sedikit orang yang akhirnya menangis bukan karena kehilangan, tetapi karena merasa dipermainkan oleh harapan. Padahal manusia hidup dengan batas kesabaran. Hati bukan batu yang bisa terus dihantam tanpa retak.
Maka jangan mudah mengobral janji. Sebab bagi sebagian orang, janji tak cuma ucapan. Janji adalah tempat seseorang menggantungkan harapan hidupnya. Bisa jadi ada seseorang yang bertahan karena percaya pada ucapan itu.
Dan ketika janji itu tidak ditepati, yang hancur bukan hanya kepercayaan, tetapi juga sebagian harapan dalam dirinya.
***
Islam mengajarkan bahwa janji adalah amanah. Bukan sesuatu yang ringan untuk diucapkan. Rasulullah saw bahkan menyebut bahwa salah satu tanda kemunafikan adalah ketika seseorang berjanji lalu mengingkarinya.
Karena janji yang diucapkan tanpa tanggung jawab dapat melukai hati lebih dalam daripada kata-kata kasar.
Orang yang menunggu sering kali tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin kejelasan. Jika memang tidak bisa, katakan tidak bisa. Jika memang tidak sanggup, katakan tidak sanggup.
Kadang kejujuran yang pahit jauh lebih menenangkan daripada harapan manis yang palsu. Sebab kepastian, meski menyakitkan, tetap lebih mudah diterima daripada penantian yang tidak berujung.
Hidup mengajarkan bahwa tidak semua yang kita tunggu akan datang sesuai harapan. Ada janji yang memang hanya tinggal suara. Ada harapan yang akhirnya harus dilepas dengan air mata.
Namun dari semua itu, manusia belajar satu hal penting: Jangan gantungkan seluruh hidup kepada manusia. Karena manusia mudah berubah, mudah lupa, dan kadang tidak mampu menepati apa yang diucapkannya.
Gantungkan harapan tertinggi hanya kepada Allah SWT. Sebab hanya Allah yang tidak pernah mengingkari janji-Nya.
Dan bagi siapa pun yang hari ini sedang lelah menunggu, semoga Allah mengganti penantian panjang itu dengan ketenangan. Karena tidak semua yang pergi adalah kehilangan, dan tidak semua yang tertunda berarti buruk.
Kadang Allah sedang menyelamatkan hati kita dari sesuatu yang sebenarnya tidak pantas diperjuangkan terlalu lama.
Di ujung malam saya ingin setiap hati yang lelah karena terlalu lama menunggu menemukan kembali ketenangannya.
Saya ingin mereka yang berkali-kali dikecewakan oleh janji manusia tetap percaya bahwa hidup tidak berhenti pada satu harapan yang gagal.
Sebab tidak semua yang tertunda adalah kehilangan, dan tidak semua yang tidak jadi dimiliki berarti kita tidak pantas bahagia.
Ada saat ketika Allah membiarkan kita kecewa kepada manusia agar kita belajar menggantungkan harapan hanya kepada-Nya.
Maka, jika hari ini masih ada air mata karena penantian yang tak berujung, biarkan waktu dan doa perlahan menyembuhkannya.
Karena pada puncaknya, hati yang pernah patah sekalipun akan menemukan jalannya untuk kembali utuh.
Selama dia tidak berhenti percaya bahwa setelah gelapnya malam, selalu ada pagi yang datang membawa cahaya baru. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments