Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Muhammadiyah dari Gerakan Lokal Menuju Jejaring Global

Iklan Landscape Smamda
Muhammadiyah dari Gerakan Lokal Menuju Jejaring Global
Ilustrasi oleh: Artificial Intelligence

Kauman Yogyakarta memang khas. Kampung santri ini berada di lingkungan dekat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sultannya merupakan keturunan Mataram. Namun, di kampung ini lahir sosok yang membuat Kauman dikenal luas. Namanya kemudian dikenal tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional hingga global.

KH Ahmad Dahlan memulai dakwah Islam di Kauman, tempat kelahirannya. Dakwahnya berlangsung dalam lingkup kecil-kecilan, tetapi memberikan dampak yang luas. Salah satu dakwah yang dilakukannya adalah meluruskan arah kiblat di musala. Hal itu sempat menggemparkan kampungnya. Di musala tersebut juga diadakan pengajian bagi remaja serta kaum muda laki-laki dan perempuan secara intensif. Mereka kelak menjadi pemimpin Muhammadiyah dan Aisyiyah, serta menjadi penerus perjuangannya hingga ke mancanegara.

Awal Gerakan Islam Lokal

Muhammadiyah resmi berdiri pada tahun 1912 di Yogyakarta. Pada masa itu, gerakan dakwahnya masih bersifat terbatas. KH Ahmad Dahlan juga membangun lembaga pendidikan Islam yang sederhana, berupa Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyyah (MIDI) di Kauman.

Di musala, beliau mengisi pengajian rutin. Kepada murid-muridnya, beliau mengajarkan Surat Al-Maun secara berulang-ulang hingga mereka paham tentang tafsir surat tersebut.

Tafsir yang diajarkan bukan sekadar teks dalam kitab kajian ilmiah. Tafsir yang diuraikan bersifat aplikatif dan praktis. Sebuah aktivitas sederhana dan kecil-kecilan yang kemudian berdampak luas pada masa berikutnya.

Beliau memerintahkan murid-muridnya untuk mengumpulkan anak-anak yatim, fakir miskin, dan kaum duafa di Kauman dan sekitarnya. Aktivitas itu kemudian berkembang menjadi gerakan sosial dan kemanusiaan. Dewasa ini dikenal dengan istilah filantropi Islam.

Berdirilah panti-panti asuhan dan balai-balai kesehatan masyarakat. Termasuk Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), yang kini dikenal sebagai Lembaga Resiliensi Bencana. Selain itu, berdiri dan berkembang pula rumah-rumah sakit PKU Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Lembaga pendidikan yang didirikan kemudian berkembang menjadi sekolah dan madrasah Muhammadiyah. Organisasi ini terus berkembang dan dikembangkan ke berbagai daerah. Kaum perempuan pada masa itu juga memperoleh ruang pencerahan. Berdirilah organisasi perempuan Aisyiyah pada 17 Mei 1917. Aisyiyah kemudian berkembang di berbagai daerah di Indonesia, sebagaimana Muhammadiyah.

Dari gerakan Islam lokal di Yogyakarta, Muhammadiyah kemudian berdiri di luar Pulau Jawa. Tahun 1925 berdiri di Sumatra Barat dan Kalimantan Selatan. Tahun 1926 di Sulawesi Selatan, tahun 1928 di Maluku, dan tahun 1940 di NTB (Nusa Tenggara Barat). Semua berdiri sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.

Dari lembaga pendidikan, pesantren, dan panti asuhan Muhammadiyah, lahir kader-kader yang kemudian melanjutkan pendidikan ke luar negeri, termasuk putra KH Ahmad Dahlan. Muhammadiyah dan Aisyiyah pun menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Tokoh Muhammadiyah Mendunia

Beberapa kader Muhammadiyah yang merupakan produk sekolah dan pesantren Muhammadiyah melanjutkan studi ke luar negeri. Diawali oleh Kahar Muzakir yang kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Kemudian Mohammad Rasyidi yang juga belajar di Al-Azhar dan melanjutkan studi magister serta doktor di Universitas Sorbonne. KH Azhar Basyir, salah satu Ketua Umum PP Muhammadiyah, juga merupakan lulusan Al-Azhar Mesir.

Mohammad Rasyidi pernah terlibat dalam aktivitas diplomasi sebelum kemerdekaan bersama H Agus Salim dalam rangka mencari dukungan bagi kemerdekaan Indonesia. Dukungan dari beberapa negara Timur Tengah tidak terlepas dari peran mereka.

Generasi berikutnya dari kader-kader dan anak-anak tokoh Muhammadiyah juga melanjutkan studi ke luar negeri. Putra KH Ahmad Dahlan, Irfan Dahlan, menempuh pendidikan di Pakistan. Anak Irfan, Prof. Dr. Winai Dahlan, menjadi tokoh Islam dan ilmuwan makanan halal di Thailand.

Maesaroh Hilal, cucu KH Ahmad Dahlan, tinggal di Singapura dan aktif dalam kegiatan Muhammadiyah setempat, meskipun tidak memiliki hubungan struktural dengan Muhammadiyah di Indonesia.

Generasi intelektual Muhammadiyah antara lain Prof. Dr. Amien Rais, M.A., Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, M.A., dan Prof. Dr. Din Syamsuddin, M.A. Mereka merupakan alumni perguruan tinggi di Amerika Serikat. Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., menempuh pendidikan di Australia. Sementara itu, Ustaz Adi Hidayat merupakan alumni perguruan tinggi di Libya, Afrika Utara.

Hingga kini kader-kader Muhammadiyah dan anak-anak para tokohnya masih melanjutkan studi di luar negeri. Kader-kader organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah juga tersebar di berbagai negara di Timur Tengah, Amerika, Eropa, Australia, Jepang, Tiongkok, dan Malaysia. Tapak Suci Putera Muhammadiyah juga memiliki cabang di Belanda, Jerman, Turki, Mesir, dan negara lainnya.

Mereka menjadi bagian dari cikal bakal berdirinya Muhammadiyah di luar negeri. Mereka berperan dalam pembentukan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di berbagai negara, didukung oleh diaspora Indonesia yang bekerja dan menetap sebagai warga negara setempat.

SMPM 5 Pucang SBY

Di antara kader Muhammadiyah yang aktif di PCIM, beberapa berhasil merintis sekolah dan taman kanak-kanak, antara lain di Australia, Malaysia, dan Mesir. Di Malaysia juga berdiri Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM). Bahkan di Spanyol, Muhammadiyah berhasil membeli sebuah gereja yang kemudian difungsikan sebagai masjid.

Membangun Peradaban Global

Dari gerakan Islam lokal yang sederhana di Yogyakarta, Muhammadiyah secara bertahap tumbuh menjadi organisasi yang memiliki jaringan internasional. Cabang dan ranting berdiri tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara. Cabang dan ranting tersebut terus mengembangkan berbagai amal usaha.

Pekajangan, Pekalongan, pada awalnya merupakan sebuah desa yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai pengrajin batik. Muhammadiyah berdiri di desa ini pada tahun 1922. Selain sekolah dan madrasah, berdiri pula rumah sakit dan universitas Muhammadiyah. Koperasi syariah atau Baitul Maal wat Tamwil (BMT) juga berkembang di daerah tersebut.

Di Lamongan, Jawa Timur, Muhammadiyah telah berkembang sejak tahun 1926. Hingga kini keberadaannya terus berkembang melalui berbagai amal usaha dan kegiatan organisasi.

Daerah ini dikenal sebagai salah satu basis Muhammadiyah di Jawa Timur dengan jumlah cabang dan ranting yang besar. Berbagai amal usaha Muhammadiyah berdiri dan berkembang, mulai dari sekolah, pesantren, rumah sakit, hingga Universitas Muhammadiyah Lamongan.

Di Malaysia, aktivis dan pengurus PCIM antara lain berasal dari Lamongan. Salah satu usaha yang dikenal adalah warung soto yang dikelola warga Muhammadiyah setempat sebagai bagian dari aktivitas ekonomi komunitas.

Di berbagai tempat, kader dan anggota Muhammadiyah berupaya membangun peradaban Islam dalam berbagai bentuknya. Peradaban (civilization atau tamaddun) merupakan bentuk kebudayaan (culture atau tsaqafah) yang berkembang dalam kehidupan masyarakat.

KGHT dan Peradaban Global

Peradaban Islam yang dibangun Muhammadiyah di berbagai negara diwujudkan melalui berbagai bentuk, termasuk pendirian masjid di Spanyol. Masjid merupakan salah satu unsur penting dalam peradaban Islam, dengan adanya arah kiblat, tempat wudu, dan tata cara ibadah yang menjadi ciri khasnya.

Masjid tidak hanya dilihat dari bangunan fisiknya, tetapi juga dari fungsi dan unsur-unsur yang menyertainya. Tempat wudu, misalnya, menjadi bagian yang melekat dalam tradisi dan praktik keagamaan umat Islam.

Lembaga pendidikan Muhammadiyah yang didirikan di berbagai negara juga menjadi bagian dari upaya pengembangan pendidikan Islam. Selain mata pelajaran umum, lembaga-lembaga tersebut mengajarkan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sebagai ciri khas pendidikan Muhammadiyah.

Selain berbagai amal usaha tersebut, Muhammadiyah juga mengembangkan Kalender Global Hijriah Tunggal (KGHT). Menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, KGHT disusun dalam rangka membayar hutang peradaban.

Meski memperoleh beragam tanggapan, KGHT terus dikembangkan Muhammadiyah sebagai bagian dari ikhtiar untuk memberikan kontribusi bagi umat Islam di tingkat global.

Bagi Muhammadiyah, sejak KH Ahmad Dahlan meluruskan arah kiblat, sudah biasa muncul pihak-pihak yang nyinyir, meremehkan, bahkan menghujat. KGHT yang mulai disosialisasikan dan direalisasikan oleh Muhammadiyah pada tahun 2026 juga mengalami hal yang sama. Namun, mulai bermunculan aktivis dakwah Islam dan ilmuwan dari berbagai negara yang tertarik untuk mempelajarinya.

Peradaban Islam yang dibangun oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada awalnya tidak menjadi perhatian banyak orang. Namun, seiring berjalannya waktu, peradaban tersebut mulai mendapat perhatian dunia. Karena itu, peradaban Islam yang dibangun dan diaplikasikan Muhammadiyah suatu saat juga dapat menjadi perhatian banyak orang di berbagai belahan dunia. Insyaallah. Wallahu a’lam bish-shawab. (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 02/06/2026 22:52
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu