Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menapaki Jejak Sang Pembaharu: Nyala Perjuangan Pelajar Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Menapaki Jejak Sang Pembaharu: Nyala Perjuangan Pelajar Muhammadiyah
Menapaki Jejak Sang Pembaharu: Nyala Perjuangan Pelajar Muhammadiyah. Foto: Istimewa/PWMU.CO

Di sebuah desa pesisir bernama Klayar, Paciran, Lamongan, aku dilahirkan. Panggil saja namaku Banin. Usiaku baru lima belas tahun, tetapi di dalam dadanya tumbuh semangat besar yang terus menyala. Di sekolah ku, Ikatan Pelajar Muhammadiyah memberikan ku amanah sebagai Ketua Bidang Perkaderan PR IPM SMP Muhammadiyah 14 Paciran Pondok Pesantren Karangsem Muhammadiyah Paciran. Bagiku, organisasi bukan sekadar tempat berkumpul atau belajar memimpin. Organisasi adalah taman perjuangan tempat menanam keberanian, pengabdian, dan cinta kepada dakwah Islam.

Sejak kecil, telingaku akrab dengan kisah perjuangan KH Ahmad Dahlan. Sosok beliau selalu hadir dalam cerita-cerita penuh cahaya. Beliau bukan hanya seorang ulama, tetapi juga pelita pembaruan yang menerangi jalan umat. Pada tahun 1912, di sudut Kota Yogyakarta, beliau mendirikan Muhammadiyah sebuah gerakan dakwah dan tajdid yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah.

Di tengah masyarakat yang masih dipenuhi takhayul dan kebiasaan lama, KH Ahmad Dahlan datang membawa embun kesadaran. Dengan kelembutan dan keteguhan, beliau mengajak umat kembali kepada ajaran Islam yang jernih dan murni. Dakwah beliau tidak membakar dengan amarah, melainkan menenangkan seperti air yang mengalir perlahan namun mampu mengubah batu yang keras.

Yang paling membuatku kagum adalah cara beliau memandang pendidikan. KH Ahmad Dahlan percaya bahwa ilmu adalah cahaya kebangkitan umat. Beliau sadar bahwa umat Islam tidak akan mampu berdiri tegak tanpa pengetahuan. Karena itulah beliau memadukan ilmu agama dengan ilmu umum.

Di sekolah-sekolah Muhammadiyah, para pelajar tidak hanya belajar tafsir dan fikih, tetapi juga mengenal matematika, ilmu bumi, bahasa asing, dan berbagai ilmu modern lainnya.

Beliau mengajarkan bahwa menjadi muslim tidak berarti tertinggal oleh zaman. Justru seorang muslim harus berjalan bersama kemajuan, tanpa kehilangan iman dan akhlak. Cara mengajar beliau pun begitu maju untuk masanya lebih teratur, terbuka, dan penuh semangat belajar.

Dari situlah aku memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang nilai di atas kertas, tetapi tentang membentuk manusia yang cerdas, berani, dan bermanfaat. Semangat itu tumbuh dalam diriku seperti api kecil yang terus dijaga.

Aku bermimpi suatu hari bisa melanjutkan pendidikan hingga ke Timur Tengah, menapaki jejak para pencari ilmu. Aku ingin melihat dunia yang lebih luas, mengenal pemikiran-pemikiran besar Islam, lalu kembali ke Indonesia membawa cahaya ilmu untuk masyarakat. Kini kakakku telah lebih dulu belajar di Mesir, dan itu menjadi penyemangat bagiku untuk terus melangkah tanpa lelah.

Dari KH Ahmad Dahlan aku juga belajar bahwa dakwah bukan hanya suara di atas mimbar. Dakwah adalah tindakan nyata yang hadir di tengah kehidupan manusia. Beliau menghidupkan pengajian di Kauman Yogyakarta, berbicara dengan hikmah dan kesabaran, serta mengajarkan Islam dengan penuh kasih sayang. Bahkan beliau memperbaiki arah kiblat menggunakan ilmu falak demi meluruskan ibadah umat. Dari sana aku belajar bahwa kebenaran membutuhkan ilmu, keberanian, dan hati yang lapang.

SMPM 5 Pucang SBY

Tak hanya dalam pendidikan dan dakwah, beliau juga menaruh perhatian besar kepada kaum lemah. Anak yatim, fakir miskin, dan masyarakat kecil mendapat tempat istimewa dalam perjuangannya. Dari semangat itulah lahir sekolah, panti asuhan, rumah sakit, dan berbagai amal usaha Muhammadiyah yang hingga hari ini masih memberi manfaat bagi banyak orang. Beliau menjadikan masjid bukan sekadar tempat sujud, tetapi pusat ilmu, persaudaraan, dan pemberdayaan umat.

Aku pun kagum pada pandangan beliau tentang perempuan. Di masa ketika perempuan sering dipandang sebelah mata, KH Ahmad Dahlan justru membuka pintu pendidikan bagi mereka. Bersama ‘Aisyiyah, beliau menanamkan keyakinan bahwa perempuan adalah cahaya peradaban. Perempuan berhak menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, dan mampu mendidik generasi masa depan.

Sebagai pelopor tajdid di Nusantara, KH Ahmad Dahlan menanamkan nilai disiplin, kerja keras, dan semangat amar ma’ruf nahi munkar. Beliau membina generasi muda agar menjadi pribadi yang cerdas, progresif, dan peduli kepada masyarakat.

Di masa penjajahan, beliau membangunkan kesadaran umat agar tidak tertinggal dalam pendidikan, ekonomi, maupun sosial. Beliau mengajarkan bahwa seorang muslim harus mampu berdiri mandiri dan memberi manfaat bagi sesama.

Aku berharap suatu hari nanti dapat meneruskan nyala perjuangan itu. Aku ingin kembali ke tengah masyarakat, membangun pendidikan, membina generasi muda, dan menghadirkan dakwah yang menenangkan hati. Sebab aku percaya, perjuangan yang dibangun dengan ilmu, keikhlasan, dan kepedulian akan selalu hidup, meski zaman terus berubah.

Kini, lebih dari satu abad sejak berdirinya Muhammadiyah, cahaya perjuangan itu masih menyala. Ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan lembaga sosial berdiri di berbagai penjuru negeri bahkan dunia. Semua menjadi bukti bahwa jejak KH Ahmad Dahlan bukan hanya tertulis dalam sejarah, tetapi hidup di hati generasi muda yang terus melanjutkan perjuangan.

Dan aku ingin menjadi salah satu di antaranya. (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 13/05/2026 11:16
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡