Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

AUM dan Krisis Ruh Ideologi Persyarikatan

Iklan Landscape Smamda
AUM dan Krisis Ruh Ideologi Persyarikatan
Oleh : M. Alim Akbar Saputra Pengajar SD Muhammadiyah 2 Babat, Sekretaris Bidang Organisasi PCPM Babat, dan Anggota MPID PCM Babat
pwmu.co -

Muhammadiyah saat ini berdiri sebagai sebuah fenomena kemapanan yang luar biasa dalam lanskap sosial-keagamaan Indonesia.

Di setiap sudut negeri, ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) berdiri tegak: rumah sakit modern, universitas bergengsi, dan sekolah-sekolah berkualitas.

Ini adalah manifestasi nyata dari etos Al-Ma’un yang diwariskan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan, sebuah gerakan yang berhasil mentransformasi keyakinan iman menjadi tindakan filantropi dan pembangunan sosial yang konkret bagi umat dan bangsa.

Kontribusi nyata ini telah menjadikan Muhammadiyah sebagai pilar penting dalam struktur masyarakat sipil Indonesia.

Namun, di balik kegagahan fisik dan pencapaian monumental dalam pembangunan infrastruktur ini, tersimpan sebuah ironi yang semakin lama semakin terasa dingin dan mengkhawatirkan.

Kita tampak superior dalam mengelola amal usaha, tetapi terkesan kerdil dalam mengelola dan meregenerasi kaderisasi ideologis.

Paradoks Gedung Megah dan Ranting yang Sunyi

Mari sejenak kita berpaling dari kesibukan administratif mengurus akreditasi kampus atau menaikkan rating rumah sakit.

Mari kita alihkan pandangan ke jantung persyarikatan yang sesungguhnya: Ranting.

Di level inilah, denyut nadi ideologis seharusnya berdetak paling kencang, menjadi sumber mata air semangat perjuangan.

Kenyataannya, di banyak daerah, pengajian rutin di Ranting-ranting kini seringkali hanya menyisakan barisan kursi kosong, atau diisi oleh jamaah lanjut usia yang setia, menunggu giliran untuk berpulang.

Kita telah meraih kesuksesan gemilang dalam membangun hardware (gedung, fasilitas, dan sistem manajerial yang efisien), tetapi kita secara tragis lalai dalam membangun software (manusia ideologis) yang militan, memiliki ghirah perjuangan, dan memahami betul arah kiblat gerakan.

Banyak orang yang kini bekerja di lingkungan AUM seringkali hadir hanya sebagai profesional murni, bukan sebagai kader yang terpanggil oleh risalah Islam Berkemajuan.

Mereka datang untuk gaji bulanan, bukan untuk mewujudkan visi profetik Kiai Dahlan. Mereka adalah “karyawan” Muhammadiyah, dan bukan “kader” yang memiliki jiwa persyarikatan yang menyala-nyala.

Kesenjangan ini menciptakan jurang pemisah yang kian dalam. Karyawan AUM mungkin sangat kompeten memahami Standar Operasional Prosedur (SOP) di tempatnya bekerja untuk digaji.

Namun belum tentu mereka memahami kedalaman Manhaj Tarjih, apalagi mengerti filosofi dasar Islam Berkemajuan yang menjadi reason d’être organisasi ini.

Mereka mungkin menjalankan tugasnya dengan baik secara fungsional, tetapi rasa memiliki (sense of belonging) terhadap misi dakwah persyarikatan secara substansial kian menipis.

Melupakan Api, Mewariskan Abu

Krisis fundamental ini berakar dari model pengkaderan yang terlalu fokus pada aspek formalitas seremonial.

Seolah-olah, ideologi yang kompleks dan hidup bisa diwariskan hanya melalui kegiatan tiga hari “Baitul Arqam” formalitas dan selembar sertifikat kelulusan administratif.

Kita tampak gagah mewariskan ABU (struktur organisasi yang mapan, aturan birokrasi, dan kelembagaan yang kaku), tetapi kita lalai mewariskan API (semangat tajdid atau pembaharuan, keberanian berinovasi, dan kegelisahan spiritual transformatif yang pernah dimiliki Kiai Dahlan).

Iklan Landscape UM SURABAYA

Generasi muda hari ini tidak serta merta lari dari nilai-nilai agama, namun mereka secara aktif mencari relevansi kontekstual.

Mereka ingin berdiskusi tentang isu-isu kesehatan mental, etika kecerdasan buatan (AI) dalam bisnis modern, atau masalah lingkungan hidup dari perspektif Islam Berkemajuan yang segar.

Tetapi, apa yang sering mereka temui di forum pengajian rutin adalah materi yang kering, gaya komunikasi satu arah yang monoton, dan suasana yang tidak inklusif, membuat mereka merasa terasing.

Akibat paling nyata adalah organisasi otonom (Ortom) seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pemuda Muhammadiyah, dan Nasyiatul Aisyiyah —yang seharusnya menjadi garda terdepan inkubasi kader— kini terancam hanya berfungsi sebagai ‘komite kepanitiaan’ untuk acara-acara besar yang bersifat event organizer (eo), bukan lagi sebagai pusat inkubasi gagasan dan gerakan transformatif.

Menyelamatkan Ruh Persyarikatan

Jika kita tidak segera mengubah haluan strategis ini, lambat laun Muhammadiyah yang kita cintai akan kehilangan ruh vitalnya.

Kita berisiko bertransformasi menjadi sebuah korporasi raksasa sosial-keagamaan yang sangat sukses mengelola aset triliunan rupiah, namun nihil dalam mengelola ideologi dan ghirah (semangat) perjuangan kader.

Untuk menyelamatkan ruh ini, kita harus berani kembali ke titik nol.

Pertama, transformasi pengajian. Ubah format pengajian dari monolog kaku menjadi forum diskusi yang relevan, inklusif, dan partisipatif.

Jadikan pengajian sebagai tempat problem solving kehidupan sehari-hari, bukan sekadar transfer ilmu tekstual.

Kedua, kaderisasi berbasis jiwa. Pimpinan AUM harus memiliki keberanian dan kebijakan strategis untuk mewajibkan setiap karyawan yang menduduki posisi strategis mengikuti pengkaderan ideologis yang mendalam, bukan sekadar pelatihan profesionalisme biasa.

Mereka harus merasa dimiliki oleh persyarikatan sebagai sebuah gerakan, bukan hanya sekadar memiliki pekerjaan tetap.

Ketiga, beri ruang Ortom. Berikan ruang inovasi dan kepercayaan penuh pada Ortom untuk mendakwahkan Islam Berkemajuan dengan gaya bahasa mereka yang khas —melalui konten digital kreatif, podcast, atau komunitas yang fokus pada isu-isu kekinian yang relevan dengan anak muda.

Muhammadiyah didirikan di atas dasar keyakinan iman dan etos gerakan, bukan di atas dasar kapital.

AUM adalah alat (wasilah), sementara kader adalah subjek utama gerakan (harakah).

Sudah saatnya kita mengurangi waktu berlama-lama di meja-meja rapat elit yang membahas proyek fisik triliunan rupiah, dan meluangkan lebih banyak waktu untuk menyentuh hati dan menyalakan kembali semangat kader di Ranting-ranting yang sunyi.

Jika kita berhasil membangun manusia ideologis yang militan, niscaya AUM kita akan tetap jaya dan berkelanjutan.

Namun, jika kita hanya fokus membangun gedung tanpa ruh kaderisasi yang kuat, maka seluruh kegagahan fisik itu hanya tinggal menunggu waktu untuk runtuh dan menjadi sejarah museum belaka.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu