Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Bahaya Spiritual Pride dalam Ibadah Ramadan

Iklan Landscape Smamda
Bahaya Spiritual Pride dalam Ibadah Ramadan
Angga Adi Prasetya, M.Pd - Guru SD Muhammadiyah 1 Malang dan Sekbid Dakwah PDPM Malang, PWMU.CO
Oleh : Angga Adi Prasetya, M.Pd Guru SD Muhammadiyah 1 Malang dan Sekbid Dakwah PDPM Malang
pwmu.co -

Ramadan dan kesombongan rohani adalah dua hal yang jarang disadari berjalan beriringan: di saat kita merasa semakin taat, bisa jadi ego justru tumbuh diam-diam di balik ibadah.

Ramadan sebagai Latihan Menundukkan Ego

Ramadan selalu datang sebagai madrasah sunyi. Ia tidak hanya mengajarkan kita menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan dorongan paling halus dalam diri: keinginan untuk merasa lebih baik dari orang lain.

Kita sering mengira puasa adalah soal perut, padahal ia jauh lebih dalam ia adalah latihan menundukkan ego.

Di bulan ini, kita belajar bahwa ibadah bukan sekadar presisi bacaan, melainkan kepasrahan hati. Bukan hanya tentang tajwid yang rapi, tetapi tentang jiwa yang tunduk.

Ramadan mengajak kita berhenti sejenak dari gemar menilai, lalu mulai berani menilai diri sendiri. Dari merasa paling benar, menjadi hamba yang belajar benar-benar merasa kecil.

Kita mungkin pernah berada di fase ketika telinga terasa sangat “tajam” terhadap bacaan Al-Qur’an. Salah harakat terdengar mengganggu. Keliru _i‘rab_ terasa seperti kesalahan fatal. _Makhraj_ yang sedikit meleset seakan mengusik kekhusyukan saya.

Namun kini kita harusnya sadar, mungkin yang terusik bukanlah kekhusyukan melainkan ego.

Perlu diketahui bahwa terkadang kita mengira itu tanda cinta pada Al-Qur’an. Kita merasa sedang menjaga kemurnian bacaan. Tetapi perlahan saya memahami, jangan-jangan yang tumbuh bukan sekadar ketelitian, melainkan sesuatu yang lebih berbahaya: kesombongan rohani. Sebuah penyakit hati yang datang dengan wajah alim, bernama _spiritual pride_

Ada suatu pengalaman yang sangat luar biasa yang menyadarkan saya, ketika suatu maghrib, saya menjadi makmum di musala kecil. Imamnya seorang bapak paruh baya. Bacaan beliau tidak sempurna. Ada mad yang kurang panjang, ada makhraj yang samar.

Sepanjang shalat, jasad saya berdiri menghadap kiblat.
Tetapi pikiran saya berdiri menghadap kesalahan.

Saya menimbang.
Saya menilai.
Saya mengaudit.

Padahal Allah telah mengingatkan:

_Qad aflaha al-mu’minun. Alladzina hum fi shalatihim khashi‘un._
“Sungguh beruntung orang-orang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.”
(QS. Al-Mu’minun: 1–2)

Malam itu saya tidak khusyuk.
Namun anehnya, saya merasa lebih benar.

Di situlah saya mulai mengerti: setan tidak selalu mengajak kepada maksiat yang terang. Kadang ia membisikkan rasa unggul di tempat yang tampak benar. Ia tidak berkata, “Tinggalkan ibadah.” Ia hanya berbisik, “Kamu lebih baik dari mereka.”

Selesai shalat, bahkan saya mengulanginya di rumah. Ada rasa bangga tersembunyi. Saya ceritakan kepada seorang guru, sambil menirukan bacaan imam tadi dengan nada meremehkan.

Beliau hanya berkata pelan, “Lain kali, tidak usah diulangi.”

Saya terkejut. “Tapi bacaannya tidak tepat…”

Beliau menjawab lembut:

_I‘tabir annaka sami‘ta khatha’an._
“Anggap saja kamu yang salah dengar.”

Kalimat itu tidak sedang membenarkan kekeliruan bacaan. Ia sedang meluruskan hati yang merasa paling lurus.

Dalam Al-Hikam, Ibnu Athaillah menulis:

_Rubba ma’shiyatin auratsat dzullan wa iftiqaran, wa rubba tha‘atin auratsat ‘izzan wa istikbaran._
“Bisa jadi maksiat melahirkan kerendahan hati dan rasa butuh kepada Allah, sementara ketaatan justru melahirkan kebanggaan dan kesombongan.”

Betapa kalimat itu menampar.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Saya mulai takut: jangan-jangan ibadah yang saya banggakan justru menjauhkan saya dari Allah karena ia menumbuhkan rasa lebih suci.

Rasulullah ﷺ bersabda:

_La yadkhulul jannata man kana fi qalbihi mitsqalu dzarratin min kibr._
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walau sebesar biji sawi.”
(HR. Muslim)

Kesombongan tidak selalu berbentuk harta dan jabatan. Ia juga bisa hadir dalam rasa paling paham agama, paling rapi ibadah, paling benar dalam membaca.

Allah mengingatkan:

_Fala tuzakkū anfusakum, huwa a‘lamu bimanit taqa_ .

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Ayat ini seperti rem darurat bagi jiwa yang mulai melaju dalam rasa unggul.

Mengoreksi tentu bagian dari iman. _Amar ma’ruf nahi mu_ nkar adalah kewajiban. Namun pertanyaannya bukan hanya apa yang kita koreksi melainkan dengan hati seperti apa kita melakukannya.

Apakah kita ingin kebenaran tegak?
Atau ingin diri kita tampak benar?

Perbedaannya tipis, tetapi dampaknya besar.

Nabi ﷺ bersabda:

Man ra’a minkum munkaran falyughayyirhu biyadih, fa illam yastathi‘ fabi lisanih, fa illam yastathi‘ fabi qalbih, wa dzalika adh‘aful iman.

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan. Jika tidak mampu, dengan lisan. Jika tidak mampu, dengan hati dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Namun sebelum sibuk mengubah orang lain, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengingatkan:

_Hasibu anfusakum qabla an tuhasabu_ .
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”

Menghisab diri tidak memberi panggung. Tidak menghadirkan tepuk tangan. Tetapi justru di sanalah keselamatan hati bermula.

Kesombongan rohani itu halus. Ia tumbuh dari amal, disiram pujian, lalu berbuah penghakiman. Ia membuat kita rajin merapikan orang lain, tetapi lalai merapikan batin sendiri.

Maka saya belajar satu doa sederhana:

_Allahumma la takilni ila nafsi tharfata ‘ain._
“Ya Allah, jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.”

Karena ketika manusia dibiarkan bersama egonya, ia mudah berubah dari hamba menjadi hakim.

Dan boleh jadi, dalam banyak keadaan, yang paling perlu kita luruskan bukanlah bacaan orang lain melainkan niat, hati, dan cara pandang kita sendiri.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu