Lebaran tahun ini adalah sangat unik, disamping ada perbedaan awal Ramadan dan penentuan hari raya, tetapi juga terjadi perubahan dinamika sosial, ekonomi, budaya, pergolakan politik di tingkat nasional dan internasional yang sangat signifikan. Apalagi Muhammadiyah telah menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sebagai metode ilmiah baru, yang sebagian dari kita masih harus beradaptasi sana-sini. KHGT bukan hanya sedikit mengagetkan banyak umat Islam, tetapi di sebagian warga Muhammadiyah sendiri juga masih membutuhkan penyesuaian hati. Ada sebagian yang sudah langsung move on dan tidak perlu memahami secara detail tentang KHGT, dan ada juga yang masih harus berdiskusi. Ini adalah sangat wajar, apalagi sesuatu yang baru diterapkan akan membutuhkan penyesuaian yang tidak mudah.
Penyerangan Negeri Iran oleh Amerika dan Israel, apalagi di Bulan Ramadan telah mengguncang peradaban, dan mempengaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat dunia. Bukan hanya bersentuhan dengan umat Islam saja, tetapi juga berpengaruh pada sisi geopolitik dan ekonomi global. Negara-negara teluk penghasil minyak bumi terseret perang ini, dan sangat mewarnai dinamika pasokan energi dunia di tengah-tengah umat muslim sedang menjalankan ibadah Ramadan dan Syawal. Dampaknya merembet kemana-mana termasuk gejolak ekonomi banyak negara, termasuk kenaikan bahan bakar minyak dan gas di banyak negara.
Penurunan ekonomi nasional kita menjelang Syawal menyebabkan kelesuan daya beli masyarakat, penurunan omzet para pedagang dan juga jumlah pemudik karena keterbatasan finansial. Yang biasa bermudik sampai satu minggu di kampung halaman, sekarang hanya sehari-dua hari saja. Masyarakat lebih berhati-hati dalam berkonsumsi dan lebih memilih untuk menahan (ngirit) untuk berbelanja.
Lebaran nan semarak dan syahdu di kampung, di Alun-alun Mersi di Purwokerto 20 Maret yang dipenuhi jemaah salat Idulfitri, yang bukan hanya warga Muhammadiyah saja, tetapi juga masyarakat secara umum.
Tahun ini, ada yang melaksanakan salat Id tanggal 20 Maret, dan ada juga yang tanggal 21 Maret. Semua saling menghargai dan memahami. Siang itu (22 Maret) geliat lebaran sudah mulai terasa di banyak kedai dan warung, juga di banyak tempat wisata, walaupun tidak semeriah tahun lalu.
Ahad pagi, di sekitar alun-alun Purwokerto biasa ramai, ini belum banyak kedai-kedai kaki lima yang buka, yang ada hanya beberapa rombong saja sehingga bakulnya menjadi cukup sibuk dikerumuni oleh banyak peminat. Berbagai plat kendaraan berbaur dari berbagai penjuru kota, dan benar-benar rasa Indonesia. Jika lebaran yang lalu masih didominasi oleh makanan-makanan khas lokal, lebaran kali ini sudah dihegemoni oleh menu-menu global, ada mie gelas, nugget, French fries, sosis bakar, pizza, dan yang lain.
Saat itu Gunung Slamet terlihat dari jauh kurang ‘tersenyum’, mendung menyelimuti, dan semakin sedikit gelap di sebelah utara Kota Purwokerto. Ingin menikmati keindahan alam Baturraden, tetapi khawatir digrojog hujan, karena curah hujan di sana adalah cukup tinggi.
Mereka para pemudik yang pulang kampung di Kota Purwokerto dan sekitarnya begitu gembira dan ceria melihat kampung halamannya sudah banyak berubah. Percampuran budaya dan bahasa para pemudik telah menjadi warna tersendiri. Ada dialek Ngapakan Banyumasan, dialek Tegal-Brebes, Sunda, Jogjaan, Semarangan, ada juga yang lu-gue, dan semua terlihat ‘sumringah’ berlebaran di kampung halaman, ‘Kampung dhewek’. Semua menumpahkan rasa di hari lebaran dengan ‘blaka suta’, ‘yen ora ngapak orang kepenak’. Dulu banyak yang menyebut mbak, dan sekarang sudah banyak yang menyebut kak, ikut tren bahasa belanja online. Dulu menyebut dengan sebuta ‘lur’, sekarang dengan sebutan ‘bro’. Dulu menyebut ‘konco’, sekarang dengan sebutan ‘bolo’. Apa kabar bolo.
Di kampung, sekarang sudah semakin sulit untuk menemukan anak-anak yang menggunakan Bahasa Jawa, hampir semua di keluarganya berbahasa Indonesia. Dulu bertemu kawan dan sanak saudara di kampung adalah harapan, dan sekarang Adalah sebaliknya. Mungkin karena sekarang sudah sering berjumpa di video call dan zoom, sehingga untuk bertemu sudah bosan, atau ‘semakin berkurang kepentingan’ untuk mengobrol bersama.
Semboyan para pemudik adalah sangat ‘nyemedudulur’, ‘ngrengkuh’, dan ‘gawe bungah’. ‘Seduluran selawase, guyup-akur salaminyo’, ini memang masih lumayan, terutama untuk para pemudik yang sudah berumur. Ini sangat sederhana, tarjetnya hanya ‘paseduluran’ dan hidup rukun. Tidak ‘neko-neko’, mereka mengalir ‘melu miline banyu’. Hidupnya yang sangat ‘nglegowo’, ingin ‘bakdan Jumat’, yo..budhal. Ingin salat Id Sabtu, ya berangkat. Semua ‘sumeleh manembah Gusti Allah’. Sudah tidak ada yang menyebut yang Id Jumat adalah haram, atau yang Id Sabtu adalah tidak sah. Semua ‘ngrekso ngibadah’ sebagai makhluk Tuhan, dan semua menjadi ‘sedulur’ sak Indonesia tanpa membedakan ‘warna biru, abang, ijo, kuning, lorang-loreng’. Kita sudah ‘tinitah’ dan ‘kinodrat’, tasaa-aluuna bihi wal arham, saling membawa silaturahim.
Wong kawula, sak derma nglampahi, kata Eyang Gesang di potongan syair tembang pamitan.
Angin sepoi-sepoi ‘tumiyup’ dari Puncak Jabal Salamat, ‘Gunung slamet’. Gunung yang mengalirkan jutaan meter kubik air ke ribuan hektar sawah bapak tani. Gunung yang menghidupi aliran segar Sungai Serayu. Pagi itu udaranya mengalir segar ke jamaah salat Id di alun-laun Mersi. Pimpinan Ranting Muhammadiyah Mersi, begitu profesional dengan sistem suara (sound system) yang menggelegar dan saf-saf salat yang tertata rapi, takbir mengumandang. Ust. Bruri Abdussalam alumni Al-Azhar Kairo mengupas tentang makna jahiliyah dengan lebih aplikatif. Jahiliyah adalah bukan hanya tidak dapat membaca huruf saja, tetapi juga tidak mengamalkan yang dianjurkan, dan bahkan melakukan yang dilarang. Menghilangkan kejahiliyahan mempunyai arti yang sangat luas, ‘ya pinter membaca firman Allah, ya mengamalkan’. Kata orang Jawa, ‘Ngelmu tinemune kanthi laku’, ilmu yang tidak hanya dibaca, tetapi dipraktikan agar bermanfaat.
Memang hari Id kali ini adalah sangat spesial. Obrolan saya dengan Sr Angela dari Susteran Purwokerto sangat menghangatkan lebaran di alun-alun Mersi, walaupun hanya sekejap, apalagi Ms Gita dan kawan-kawan kawan-kawan lintas iman juga ikut ‘manghayubagya’, ikut beres-beres dan bersih-bersih lapangan luas tempat salat Id di Hari Jumat itu. Minimal, ini adalah ikhtiar untuk saling membangun silaturahmi agar terjalin semakin harmonis.
Memang, lebaran ‘Kampung Dhewek’ selalu menyedot ‘hawa kangen’. Lebaran menjadi tradisi pemikat, semua menjadi ‘gemruduk mulih’ dan mucer (mudik ceria) untuk mengungkap rasa kerinduan ‘tanah tumpah darah’.





0 Tanggapan
Empty Comments