Sekretaris Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Najih Prasetyo, mengingatkan pentingnya menghadirkan kesejahteraan nyata bagi warga Muhammadiyah, khususnya di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
Pernyataan tersebut disampaikannya sebagai refleksi agar Muhammadiyah tidak terlena dengan berbagai capaian besar organisasi, termasuk narasi yang menyebut Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi terkaya di dunia.
Menurut Najih, kebanggaan atas besarnya aset dan amal usaha Muhammadiyah belum cukup apabila manfaatnya belum benar-benar dirasakan hingga tingkat cabang dan ranting.
“Jangan sampai kita terlalu berbangga dengan predikat atau besarnya kekayaan yang dimiliki Muhammadiyah, sementara masih ada warga Muhammadiyah sendiri yang belum mendapatkan akses pendidikan yang layak di sekolah-sekolah Muhammadiyah,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia menyoroti fakta sosial yang menurutnya masih ditemukan di berbagai daerah. Di sejumlah ranting dan cabang, masih ada keluarga Muhammadiyah yang belum mampu menyekolahkan putra-putrinya di lembaga pendidikan Muhammadiyah.
Menurutnya, kondisi tersebut bukan semata karena biaya sekolah yang tinggi, tetapi lebih pada realitas ekonomi sebagian warga yang belum sepenuhnya mapan.
“Masalahnya bukan sekolah Muhammadiyah mahal. Tetapi realitasnya, masih ada warga Muhammadiyah yang secara ekonomi dan sosial belum mampu,” katanya.
Dalam suasana penuh refleksi, Najih mengajak seluruh elemen Muhammadiyah berani melihat persoalan tersebut secara jujur dan terbuka.
Ia mempertanyakan sejauh mana potensi ekonomi warga Muhammadiyah telah dioptimalkan untuk menjawab kebutuhan dasar umat.
“Sudah sejauh mana orang-orang kaya Muhammadiyah menginfakkan hartanya melalui Lazismu? Apakah bantuan yang ada sudah benar-benar menjangkau kebutuhan mendasar warga, terutama pendidikan?” ungkapnya.
Pernyataan tersebut mendapat respons jamaah yang mengamini fenomena tersebut.
Bagi Najih, tantangan Muhammadiyah ke depan bukan sekadar memperbanyak pembangunan fisik atau menambah amal usaha, melainkan memastikan kesejahteraan warga menjadi prioritas utama.
Ia berharap para pemangku kebijakan Muhammadiyah mulai dari tingkat cabang, daerah, wilayah, hingga pusat memberikan perhatian lebih terhadap persoalan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi warga.
“Jangan sampai dari luar kita tampak besar dan sehat, tetapi di dalam masih ada warga yang belum terlayani, belum terbantu, dan belum terfasilitasi,” tegasnya.
Najih menilai investasi terbesar Muhammadiyah sesungguhnya bukan terletak pada bangunan megah atau bertambahnya aset, tetapi pada kualitas generasi penerusnya.
Menurutnya, anak-anak warga Muhammadiyah hari ini merupakan calon pemimpin yang akan melanjutkan estafet perjuangan organisasi di masa depan.
“Jika anak-anak warga Muhammadiyah sendiri tidak dapat merasakan pendidikan yang layak di sekolah Muhammadiyah, lalu siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan organisasi besar ini pada masa depan?” tuturnya.
Karena itu, ia berharap seluruh amal usaha Muhammadiyah, baik di bidang pendidikan, kesehatan, maupun sosial, mampu menghadirkan keberpihakan nyata kepada warga yang membutuhkan tanpa mengabaikan pelayanan kepada masyarakat luas.
Dalam sektor kesehatan, Najih juga berpesan agar rumah sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah tetap mengedepankan pelayanan kemanusiaan.
“Jangan mengutamakan uang terlebih dahulu. Lihat siapa yang datang, layani dengan baik sesuai prosedur yang berlaku,” pesannya.
Di akhir penyampaiannya, Najih mendorong agar bantuan sosial melalui Lazismu benar-benar tepat sasaran, khususnya dalam membantu meringankan beban pendidikan warga Muhammadiyah yang membutuhkan.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan besar Muhammadiyah bukan hanya diukur dari aset dan amal usaha, tetapi juga dari sejauh mana kehadirannya mampu menguatkan, melayani, dan mengangkat kehidupan warganya hingga lapisan paling bawah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments