Suasana meriah terasa di Gressmall pada Sabtu (16/05/2026) saat siswa kelas 1 SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) menampilkan mini drama bertajuk Misi Petualangan Lila Berry pada acara Festival STEM.
Penampilan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran berbasis STEM yang dipadukan dengan kreativitas seni pertunjukan dan kepedulian lingkungan.
Mini drama ini mengangkat permasalahan minyak jelantah dan sampah yang dibuang sembarangan hingga memicu berkembangnya nyamuk.
Tampilkan Empati hingga Uji Coba
Dengan penuh percaya diri, para siswa menampilkan alur cerita yang mengandung tahapan desain berpikir (design thinking) dalam pembelajaran STEM, yaitu Empathize, Define, Ideate, Prototype, dan Test.
Acara terbuka oleh Destiny Quinn Elkufi dan Abrisam Fazal Guinandra sebagai tokoh pembawa cerita. Keduanya mengajak penonton memasuki suasana pasar yang ramai, namun penuh sampah dan minyak kotor bekas gorengan.
Pada tahap Empathize (empati), siswa menunjukkan kepedulian terhadap kondisi lingkungan yang kotor akibat minyak jelantah yang dibuang sembarangan.
Adegan warung gorengan yang diperankan Bagas, Baim, dan Khalid memperlihatkan bagaimana kebiasaan kecil dapat berdampak besar bagi lingkungan sekitar.
Tahap berikutnya, Define (definisi), ditampilkan melalui munculnya “pasukan nyamuk”. Quiin dan Abrisam menjelaskan proses berkembang biaknya nyamuk mulai dari telur, larva, pupa, hingga menjadi nyamuk dewasa.
Dari adegan tersebut, siswa mengidentifikasi masalah utama, yakni genangan minyak dan sampah yang menjadi sarang nyamuk.
Memasuki tahap Ideate (ideasi), siswa mulai memunculkan berbagai solusi untuk mengusir nyamuk. Beragam “senjata” seperti raket nyamuk, semprotan, obat nyamuk, hingga lotion anti nyamuk ditampilkan dengan gerakan lucu dan menghibur.
Namun, keduanya kemudian menjelaskan bahwa sebagian besar alat tersebut berbahan kimia dan menimbulkan asap serta bau menyengat.
“Nyamuknya masih ada yang terbang, orang-orang juga batuk-batuk” ujar Quinn dalam dialognya yang disambut gelak tawa penonton.
Solusi ramah lingkungan mulai muncul pada tahap Prototype . Sejumlah siswa hadir membawa tanaman pengusir nyamuk seperti lavender, serai, geranium, dan kemangi. Tanaman-tanaman tersebut diperkenalkan sebagai alternatif alami yang tidak disukai nyamuk.
Puncak drama terjadi pada tahap Test (uji coba). Arsya dan Arin menunjukkan inovasi kreatif dengan mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi yang dipadukan dengan aroma tanaman pengusir nyamuk.
Lilin Besar “Lila Berry”
Dalam adegan tersebut, lilin besar “Lila Berry” (lilin aromatherapy dari minyak jelanta kelas blueberry, raspberry dan strawberry) berhasil membuat para nyamuk jatuh pingsan dan pergi.
Penampilan semakin menarik dengan ekspresi lucu para pemeran cilik, kostum warna-warni, serta gerakan teatrikal yang mengundang tepuk tangan penonton.
Ketua STEM kelas 1 , Reza Dwi Anistawati SPd, mengungkapkan rasa bangganya terhadap keberanian dan penampilan anak-anak dalam pertunjukan perdana tersebut.
“Ini adalah tampilan perdana anak-anak yang luar biasa berani tampil percaya diri di depan banyak penonton. Mereka berusaha memberikan penampilan terbaiknya dan mampu menunjukkan kreativitas serta kerja sama yang sangat baik” tuturnya.
Ia juga menyampaikan bahwa mini drama tersebut tidak hanya menjadi ajang tampil seni, tetapi juga sarana pembelajaran karakter, kepedulian lingkungan, dan kemampuan berpikir kreatif bagi siswa sejak usia dini.
Mini drama Misi Petualangan Lila Berry dilatih oleh Ida Poerwaningrum dan Ajeng Putri Dwi Rohma. Keduanya mendampingi siswa dalam proses latihan mulai dari penghayatan peran, gerakan, hingga penyampaian pesan STEM agar mudah dipahami penonton.
Melalui mini drama ini, siswa tidak hanya belajar tampil percaya diri di depan umum. Tetapi juga memahami pentingnya menjaga lingkungan serta menemukan solusi kreatif terhadap masalah di sekitar mereka.
Penampilan tertutup dengan pesan penuh makna dari seluruh pemain.
“Hal kecil seperti membuang minyak sembarangan ternyata bisa membawa masalah besar. Tapi dengan kepedulian dan ide kreatif, kita bisa mengubah masalah menjadi solusi” ucap seluruh pemain kompak sebelum membungkuk memberi hormat kepada penonton.





0 Tanggapan
Empty Comments