Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Dosen UMY Teliti Dampak AI pada Industri Film di Kyoto University

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Dosen UMY Teliti Dampak AI pada Industri Film di Kyoto University
Filosa Gita Sukmono. Foto: Dok/UMY
pwmu.co -

Kecerdasan artifisial (AI) mulai mengubah cara film diproduksi, dari pengembangan naskah hingga penyuntingan dan pembuatan efek visual. Perubahan ini mendorong Dr. Filosa Gita Sukmono, SI.Kom, MA, dosen sekaligus Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), meneliti dampaknya terhadap industri film di Indonesia, Asia Tenggara, dan Jepang.

Filosa terpilih mengikuti program Visiting Fellowship yang diselenggarakan Japan Foundation Southeast Asia Partnership (JFSEAP) di Kyoto University, Jepang.

Melalui program yang berlangsung selama empat bulan, Oktober 2026 hingga akhir Januari 2027, ia akan mengkaji penggunaan AI dalam produksi film, termasuk dampaknya terhadap kreativitas, etika, dan peran tenaga kerja kreatif.

Filosa menjadi satu-satunya peneliti dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) yang terpilih dalam program tersebut.

Kesempatan ini sekaligus membuka ruang kolaborasi akademik untuk mengembangkan kajian komunikasi dan perfilman di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Kepada Humas UMY melalui wawancara daring, Rabu (14/10/2026), Filosa menjelaskan bahwa penelitiannya berangkat dari perubahan nyata dalam proses produksi film.

“Penelitian saya berfokus pada bagaimana AI memengaruhi produksi film, baik di Indonesia maupun di kawasan Asia Tenggara dan Jepang. Saya ingin melihat bagaimana teknologi ini digunakan, apa tantangannya, serta bagaimana pengaruhnya terhadap proses kreatif dan praktik produksi film,” ujarnya.

Meneliti Kreativitas dan Peran Manusia di Era AI

Bagi Filosa, perkembangan AI dalam industri film tidak cukup dilihat dari kemampuan teknologi mempercepat pekerjaan.

Pemanfaatannya juga memunculkan pertanyaan mendasar tentang kreativitas, kepengarangan, etika, dan masa depan pekerja kreatif.

AI kini dapat membantu pembuat film mengembangkan cerita, menyusun pravisualisasi, menyunting gambar, hingga menghasilkan efek visual.

Berbagai kemampuan tersebut membuka peluang efisiensi, tetapi sekaligus menantang praktik kreatif yang selama ini bertumpu pada gagasan, keterampilan, dan keputusan manusia.

Karena itu, Filosa akan menelaah bagaimana para pembuat film dan praktisi kreatif mengadopsi AI dalam pekerjaan mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan komparatif dengan membandingkan praktik produksi film di Indonesia, negara-negara Asia Tenggara, dan Jepang.

Perbedaan budaya, karakter industri film, serta lingkungan teknologi di ketiga kawasan menjadi bagian penting dalam kajian tersebut.

“Transformasi tersebut juga menyangkut peran manusia dalam mempertahankan kreativitas. Selain itu, penggunaan teknologi juga perlu memperhatikan prinsip tanggung jawab,” jelasnya.

Penelitian ini turut menyoroti bagaimana penggunaan AI memengaruhi pengambilan keputusan kreatif dan keberlanjutan identitas artistik sebuah karya.

Aspek identitas dan ekspresi budaya juga menjadi perhatian, terutama ketika teknologi memungkinkan proses produksi dilakukan dengan cara yang semakin beragam.

Dengan demikian, riset ini tidak hanya membahas kecanggihan perangkat, tetapi juga hubungan antara teknologi, manusia, dan kebudayaan dalam penciptaan film.

Membuka Kolaborasi Akademik Indonesia-Jepang

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Program JFSEAP merupakan bagian dari kemitraan Japan Foundation yang bertujuan memperkuat kolaborasi intelektual, memperluas jejaring akademik, dan mendukung penelitian bersama antara Jepang dan negara-negara Asia Tenggara.

Program tersebut mendorong pertukaran gagasan dan kajian atas berbagai persoalan global, mulai dari kecerdasan artifisial, perubahan iklim, ketahanan energi, keamanan ekonomi, hingga kesehatan publik.

Keikutsertaan Filosa dalam program ini memberikan kesempatan untuk memperluas perspektif penelitian perfilman melalui lingkungan akademik Kyoto University.

Hasil kajian diharapkan dapat memperkaya pemahaman mengenai perubahan praktik produksi film sekaligus menjadi bahan diskusi bagi akademisi dan pelaku industri kreatif.

Bagi UMY, kesempatan tersebut juga membuka peluang untuk menghubungkan pengembangan ilmu komunikasi dengan dinamika industri film yang terus berubah.

Mahasiswa UMY Juga Berprestasi di Festival Film

Pengembangan kajian perfilman di UMY berjalan seiring dengan karya mahasiswa dan alumni Program Studi Ilmu Komunikasi yang memperoleh pengakuan di berbagai festival film.

Film pendek 2Yoel, misalnya, meraih penghargaan Best Fiction Short Film Award kategori komedi dalam 7th PRISM UBD Short Film Festival 2024 di Brunei Darussalam.

Film Liang memperoleh Special Mention dan masuk tiga besar dalam dua kategori di Festival Film Moderasi Beragama yang diselenggarakan Kementerian Agama RI pada 2024.

Sementara itu, film pendek Lies karya mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY lolos kurasi The Student World Impact Film Festival (SWIFF) pada 2023.

Prestasi juga ditorehkan film Subuh, karya alumni Ilmu Komunikasi UMY, Achmad Rezi Fahlevie. Film tersebut meraih juara kedua dalam Short Movie Creation FISCREATION pada 2025.

Sejak dirilis pada 2021, Subuh telah mengumpulkan lebih dari 70 bentuk apresiasi, yang mencakup penghargaan, nominasi, dan seleksi resmi di festival film nasional maupun internasional.

Berbagai capaian tersebut memperlihatkan bagaimana lingkungan akademik dapat menjadi ruang bagi calon sineas untuk mengembangkan gagasan, mengasah keterampilan produksi, dan memperkenalkan karya kepada publik yang lebih luas.

Di Program Studi Ilmu Komunikasi UMY, perfilman tidak hanya menjadi medium penyampaian pesan, tetapi juga ruang pembelajaran kreativitas, keterampilan teknis, kerja kolaboratif, dan pemahaman terhadap perkembangan industri.

Melalui riset di Kyoto University, Filosa berharap dapat memperkaya kajian tentang masa depan perfilman sekaligus memahami tantangan yang muncul ketika AI semakin terlibat dalam proses kreatif.

Di tengah perubahan teknologi, pertanyaan penting bagi industri film bukan hanya seberapa cepat dan efisien sebuah karya dapat diproduksi, melainkan juga bagaimana kreativitas manusia, nilai budaya, dan tanggung jawab etis tetap terjaga. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 15/10/2026 01:09
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu