Ketua Kwartir Pusat (Kwarpus) Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan yang membidangi Pustaka dan Literasi Heryanti Alamsyah, menyampaikan apresiasi atas terbitnya buku Jejak Sejarah Hizbul Wathan Jawa Timur 2000–2025 karya Fathurrahim Syuhadi. Hal ini disampaikan saat penutupan Tanwir 1 Hizbul Wathan di UM Metro Lampung, Sabtu [10/10/2026]
Menurut Heryanti, penerbitan buku tersebut merupakan langkah penting dalam mendokumentasikan perjalanan sejarah, perjuangan, dan kontribusi Hizbul Wathan (HW) di Jawa Timur selama 25 tahun kebangkitan gerakan.
“Saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas terbitnya buku sejarah Jawa Timur. Kehadiran buku ini merupakan langkah penting dalam mendokumentasikan perjalanan sejarah, perjuangan, dan kontribusi organisasi dari masa ke masa,” ujar ibu satu putra ini
Ia menegaskan, buku sejarah bukan sekadar kumpulan catatan peristiwa, melainkan warisan berharga yang menjadi sumber pembelajaran, inspirasi, sekaligus penguat identitas organisasi bagi generasi penerus.
Heryanti berharap, terbitnya buku Jejak Sejarah Hizbul Wathan Jawa Timur 2000–2025 karya Fathurrahim Syuhadi ini dapat menjadi inspirasi bagi seluruh Kwartir Wilayah (Kwarwil) HW di Indonesia untuk melakukan langkah serupa.
Ia mengimbau setiap Kwarwil mulai menggali, menghimpun, mendokumentasikan, dan menuliskan sejarah perjalanan Hizbul Wathan di wilayah masing-masing.
“Setiap daerah tentu memiliki kisah perjuangan, tokoh-tokoh inspiratif, dinamika organisasi, serta pengalaman berharga yang layak diabadikan. Jangan sampai sejarah yang dibangun dengan penuh pengorbanan oleh para pendahulu kita hilang begitu saja karena tidak terdokumentasi dengan baik,” pesannya.
Ajak Kwarwil Himpun Arsip dan Kesaksian Tokoh
Doktor lulusan UIN Alauddin Makasar ini menjelaskan, penulisan sejarah organisasi perlu didukung sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, setiap kwartir perlu mulai mengumpulkan arsip, foto kegiatan, dokumen organisasi, serta kesaksian para tokoh dan pelaku sejarah.
Para sesepuh, kader, pelatih, dan anggota HW yang mengetahui perjalanan organisasi di daerah masing-masing juga perlu dilibatkan dalam proses pengumpulan data.
Langkah tersebut dinilai penting agar sejarah yang ditulis tidak hanya merekam peristiwa, tetapi juga mengabadikan nilai perjuangan, keteladanan, dan pengalaman para pendahulu.
Sebagai bagian dari Kwartir Pusat Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, Heriyanti berharap penulisan sejarah dapat berkembang menjadi gerakan bersama untuk memperkuat budaya literasi dan menjaga kesinambungan nilai perjuangan organisasi.
Menurutnya, dokumentasi sejarah memiliki peran strategis dalam membangun pemahaman generasi muda tentang asal-usul organisasi, tokoh-tokoh yang berjasa, serta nilai-nilai yang harus diteruskan.
“Sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dipelajari, diteladani, dan diwariskan,” tegasnya.
Buku Jejak Sejarah Hizbul Wathan Jawa Timur 2000–2025 ditulis oleh Fathurrahim Syuhadi untuk merekam perjalanan kebangkitan dan perkembangan HW Jawa Timur selama seperempat abad.
Kehadiran buku tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi kader dan pimpinan HW dalam memahami perjalanan organisasi sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk menyusun langkah pengembangan ke depan.
Heryanti berharap, penerbitan buku Jejak Sejarah HW Jawa Timur menjadi pemantik semangat bagi seluruh Kwarwil untuk melahirkan karya serupa. Dengan demikian, sejarah Hizbul Wathan di berbagai daerah dapat terdokumentasi secara lebih sistematis dan menjadi bagian dari khazanah literasi kepanduan nasional.
“Dengan mendokumentasikan sejarah, kita tidak hanya menjaga ingatan tentang masa lalu, tetapi juga menyiapkan fondasi yang kuat bagi masa depan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan,” ungkap perempuan yang tinggal di Sulawesi Selatan ini
Ia mengajak seluruh keluarga besar HW untuk menjadikan literasi sebagai bagian dari gerakan organisasi. Menulis sejarah berarti merawat ingatan kolektif, menghargai pengabdian para pendahulu, dan mewariskan nilai perjuangan kepada generasi berikutnya.
Fastabiqul khairat. Salam Hizbul Wathan! (*)





0 Tanggapan
Empty Comments