Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Sabar Bukan Hanya Saat Tertimpa Musibah, Ini Tiga Bentuknya Menurut Sholeh Drehem

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Sabar Bukan Hanya Saat Tertimpa Musibah, Ini Tiga Bentuknya Menurut Sholeh Drehem
Ustaz Muhammad Sholeh Drehem menyampaikan tausiyah dalam kajian Tazkiyatun Nafs di Masjid Al Ikrom Wage, Kamis (15/10/2026). Foto: Mashudi/PWMU.CO

Kesabaran tidak hanya dibutuhkan ketika seseorang tertimpa musibah. Seorang Muslim juga perlu bersabar untuk menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan menerima takdir yang tidak sesuai dengan harapan.

Ketua Dewan Pembina STIDKI Ar Rahmah Surabaya, Ustaz Muhammad Sholeh Drehem, Lc, M.Ag, menyampaikan pesan tersebut dalam kajian Tazkiyatun Nafs di Masjid Al Ikrom Wage, Kamis (15/10/2026).

“Sabar merupakan bagian penting dalam proses membersihkan jiwa sekaligus menjaga seorang Muslim tetap berada dalam ketaatan kepada Allah SWT, baik ketika menghadapi kesulitan maupun menjalani kehidupan sehari-hari,” katanya.

Kajian rutin Kamis Ketiga yang dimulai pukul 17.30 WIB tersebut diikuti 264 jamaah. Panitia menyediakan takjil untuk berbuka puasa dan nasi kotak yang dibagikan setelah kajian.

Dalam kajian tersebut, Ustaz Sholeh Drehem menjelaskan tiga bentuk kesabaran yang perlu dilatih oleh setiap Muslim.

Pertama, sabar dalam menjalankan perintah Allah SWT.

“Kesabaran ini diperlukan agar seseorang tetap istiqamah beribadah dan mengerjakan amal saleh meskipun menghadapi kelelahan, kesibukan, atau berbagai tantangan,” jelasnya.

Kedua, sabar dalam menjauhi larangan Allah SWT.

Seorang Muslim harus mampu menahan hawa nafsu, menghindari kemaksiatan, dan tidak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.

Ketiga, sabar dalam menghadapi takdir dan ketetapan Allah SWT.

“Kesabaran ini diperlukan ketika seseorang mengalami musibah, kehilangan, kesedihan, atau keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya,” terang Ustaz Sholeh Drehem.

Ketiga bentuk tersebut menunjukkan bahwa sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha. Sabar merupakan kemampuan mengendalikan diri agar tetap berada dalam ketaatan, apa pun keadaan yang sedang dihadapi.

Kesabaran Harus Dilatih

Ustaz Sholeh Drehem menguatkan penjelasannya dengan hadis Rasulullah saw tentang keutamaan bersabar.

“Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya (tidak meminta-minta kepada manusia), niscaya Allah akan menjaganya. Barangsiapa merasa cukup (dengan pemberian Allah), maka Allah akan mencukupkannya. Dan barangsiapa berusaha bersabar, maka Allah akan memberinya kesabaran. Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR Bukhari No. 1469 dan Muslim No. 1053).

Hadis tersebut mengajarkan bahwa kesabaran perlu diupayakan dan dibiasakan. Seseorang tidak harus menunggu dirinya benar-benar kuat untuk mulai bersabar.

Sebaliknya, ia perlu melatih kesabaran dalam menghadapi berbagai keadaan sembari memohon pertolongan Allah SWT.

“Kesabaran juga berkaitan dengan kemampuan menjaga kehormatan diri dan merasa cukup atas pemberian Allah. Dengan sikap tersebut, seseorang diharapkan tidak mudah dikuasai keluh kesah, iri hati, atau keinginan berlebihan terhadap apa yang dimiliki orang lain,” jelas dia..

Dalam menghadapi ujian kehidupan, Ustaz Sholeh Drehem mengingatkan jamaah agar tidak kehilangan harapan. Kesulitan yang dialami seorang Muslim dapat menjadi sarana penghapusan dosa.

Dia membacakan firman Allah SWT dalam Al-Baqarah ayat 156:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn’ (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).”

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Kalimat innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn bukan sekadar ucapan ketika musibah datang. Kalimat tersebut mengingatkan bahwa manusia adalah milik Allah SWT dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.

Ustaz Sholeh Drehem juga membacakan hadis Rasulullah saw tentang berbagai kesulitan yang dapat menjadi penghapus dosa seorang Muslim.

“Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, bahkan kesusahan yang mendalam, sampai duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karena hal itu.” (HR Bukhari No. 5641 dan Muslim No. 2573).

Pesan tersebut mengajak jamaah memandang ujian kehidupan dengan perspektif iman. Kesulitan tidak harus membuat seseorang kehilangan harapan.

Dengan kesabaran dan sikap yang benar, ujian dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri dan mendekatkan hati kepada Allah SWT.

Memohon Pertolongan Allah

Selain melatih kesabaran, jamaah diajak membiasakan diri berdoa agar terhindar dari kegelisahan, kesedihan, kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, kekikiran, lilitan utang, dan tekanan orang lain.

Ustaz Sholeh Drehem membacakan doa Rasulullah saw:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ، وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kekikiran, serta dari lilitan utang dan tekanan orang-orang.”

Doa tersebut mengingatkan bahwa menghadapi persoalan kehidupan tidak cukup hanya dengan mengandalkan kekuatan diri.

Seorang Muslim juga perlu memohon pertolongan Allah SWT agar mampu mengendalikan diri dan menghadapi berbagai ujian dengan baik.

Ustaz Sholeh Drehem turut mengingatkan keutamaan sabar melalui hadis Rasulullah saw:

وَالصَّلَاةُ نُورٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ

“Salat adalah cahaya, sedekah adalah bukti nyata, dan sabar adalah sinar yang terang.” (HR Muslim, sebagaimana dirujuk dalam materi kajian).

“Dalam kehidupan sehari-hari, kesabaran dapat dilatih melalui kebiasaan beribadah, membaca Al-Qur’an, menunaikan salat tahajud, menjaga diri dari kemaksiatan, dan memanfaatkan waktu untuk kegiatan yang bermanfaat,” ujar Ustaz Sholeh Drehem.

Rasulullah saw juga mengingatkan bahwa kesehatan dan waktu luang merupakan dua nikmat yang kerap membuat manusia lalai.

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu (rugi/lalai) karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR Bukhari No. 6412).

Karena itu, kesehatan dan waktu luang perlu dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah, menuntut ilmu, bekerja secara halal, serta memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 15/10/2026 21:18
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu