Paradigma pengasuhan anak kini terus bertransformasi menyesuaikan tuntutan zaman.
Di antaranya melalui regulasi UU No. 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, pemerintah secara resmi membakukan istilah Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA).
Hal ini guna mempertegas status hukum, standar layanan, dan akreditasi lembaga. Kini, pengasuhan tak lagi sekadar aksi karitatif semata, melainkan wujud nyata pemenuhan hak, perlindungan, dan jaminan tumbuh kembang anak secara optimal.
Berbeda dengan kata “panti” yang terkesan sebatas penampungan fisik di dalam asrama, terminologi LKSA memiliki jangkauan yang jauh lebih luas.
Cakupannya meliputi pengasuhan berbasis keluarga, pengasuhan pengganti, hingga pendampingan anak rentan di luar lembaga.
Berpijak pada hal tersebut, Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya menggelar visitasi dan audit internal secara serentak ke seluruh Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Muhammadiyah di wilayahnya.
Kegiatan yang digelar dalam rangka semarak Milad ke-114 Muhammadiyah ini bertujuan menjaga kualitas pelayanan dan transparansi keuangan lembaga.
Kegiatan visitasi dan asesmen untuk LKSA Muhammadiyah Medokan Ayu dilaksanakan sesuai jadwal, Selasa (13/10/2026).
Proses visitasi ini dilakukan langsung oleh tim asesor yang ditugaskan MPKS PDM, yaitu Ustaz Mukhlisin dan Ustadzah Halimatus Djuhriah.
Instrumen Komprehensif dan Observasi Lapangan
Pada asesmen tersebut, Ustaz Mukhlisin menekankan pentingnya akuntabilitas dan kelengkapan instrumen evaluasi bagi sebuah panti asuhan.
“Asesor mencoba menggunakan instrumen komprehensif untuk memotret kondisi lembaga. Kita dituntut untuk menuliskan apa yang kita kerjakan, dan mengerjakan apa yang kita tuliskan” tuturnya.
Bagi LKSA Muhammadiyah Medokan Ayu, kehadiran para asesor tidak sekadar dimaknai sebagai audit rutin.
Momentum ini menjadi sarana muhasabah (evaluasi diri) dan ajang berbenah untuk menelisik pelbagai kekurangan sekaligus mengoptimalkan potensi kelembagaan.
Ketua MPKS Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Rungkut, M Sholeh Masyhoedi, memaparkan bahwa pihaknya kini tengah menggencarkan transformasi pengelolaan panti.
“LKSA Muhammadiyah Medokan Ayu mulai mengembangkan digitalisasi pada tiga bidang utama, yaitu keuangan, tata usaha, serta aset dan inventaris” ujar Sholeh.
Sholeh menambahkan, inovasi ini langsung diterapkan untuk mendukung kelancaran proses asesmen.
Guna mempermudah tugas Ustaz Mukhlisin dan Ustadzah Djuhriah selaku asesor (visitor) di lapangan, pengurus telah meluncurkan sebuah dashboard khusus.
Sistem ini mengintegrasikan berbagai data esensial, seperti data anak asuh, pengurus, dan sebaran penerima manfaat.
Kegiatan visitasi ini pun disambut antusias dengan kehadiran formasi lengkap jajaran pengurus LKSA Muhammadiyah Medokan Ayu.
Turut hadir mendampingi proses asesmen antara lain Kepala LKSA Muhammadiyah Medokan Ayu Suprapto, Wakil Kepala Hadi Nasution, Kepala Urusan Tata Usaha Adistiar Prayoga, Kepala Urusan Keuangan M Fachrudin, serta Kepala Urusan Pendidikan dan Pengasuhan Yudi Marga Winata.
Selain jajaran pimpinan, hadir pula Kepala Urusan Sarana dan Prasarana Bambang Setiaji, Kepala Urusan Humas Multimedia M Amirul Latif, Staf Data, Informasi, dan Digitalisasi Saiful Azzam, serta Staf Administrasi Keuangan Rukmana Indriani.
Proses visitasi tidak hanya berfokus pada pemeriksaan kelengkapan administratif di atas meja.
Kegiatan ini juga mencakup observasi lapangan, di mana tim asesor meninjau langsung kondisi lingkungan panti, mengamati keseharian anak asuh, serta berdialog secara terbuka dengan para pengasuh.
Misi Strategis Pelayanan Ramah Anak
Langkah MPKS PDM Surabaya dalam kegiatan visitasi dan asesmen ini mendapat dukungan penuh dari PCM Rungkut.
Wakil Ketua Bidang Pembinaan Kesejahteraan Sosial PCM Rungkut, Samsul Hariyadi, menegaskan bahwa momentum evaluasi ini sangat relevan dengan komitmen LKSA Muhammadiyah Medokan Ayu untuk mewujudkan visi pelayanan ramah anak.
“Komitmen tersebut telah dirumuskan secara holistik dalam draf Usulan Visi dan Misi LKSA Muhammadiyah Medokan Ayu 2026. Lembaga ini menargetkan diri menjadi LKSA unggul yang profesional, berkelanjutan, dan berkemajuan, dengan berlandaskan pada spirit teologi Al-Ma’un” paparnya.
Untuk mengejawantahkan visi tersebut, pengurus telah merumuskan tujuh misi strategis.
Langkah-langkah tersebut mencakup transformasi layanan berbasis keluarga, pendidikan inklusif bagi anak asuh dan kaum duafa melalui Muhammadiyah Rungkut Learning Center (MLC), serta peningkatan kapasitas para Pekerja Sosial Muhammadiyah (PSM).
Selain itu, deretan misi lainnya juga menyasar pada perluasan sinergi jejaring kemanusiaan dengan berbagai pihak, hingga pembinaan akhlak Islami yang komprehensif.
Kemudian pengembangan kemandirian ekonomi (sociopreneurship) sebagai laboratorium kewirausahaan, serta integrasi teknologi informasi demi terwujudnya transparansi pelaporan ke ruang publik.





0 Tanggapan
Empty Comments