Minggu pagi (11/10/2026), udara Desa Sukoanyar, Cerme, Gresik, masih sejuk ketika suara mesin mulai terdengar dari lokasi kegiatan KKN Tematik Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) Kelompok 22.
Pagi itu bukan pagi biasa. Bappeda Kabupaten Gresik datang langsung untuk menyaksikan uji coba program kerja utama para mahasiswa mengubah limbah pertanian menjadi briket.
Mesin Rakitan Anak Teknik
Yang membuat program ini istimewa, mesin pencetak briket yang diuji hari itu dirancang dan dirakit sendiri oleh mahasiswa.
Eka dan Agil dari Teknik Mesin menggarap rangka serta mekanisme pencetaknya. Sementara itu, Rizki, Zidan, dan Razzan dari Teknik Elektro menangani sistem kelistrikan yang menggerakkan mesin.
Dua bidang ilmu bertemu dalam satu alat. Teknik Mesin memastikan bahan bisa ditekan dan dibentuk, sedangkan Teknik Elektro memastikan seluruh sistem berjalan aman dan stabil. Hasil kerja bersama itulah yang diharapkan kelak benar-benar bisa dipakai warga desa.
Pagi itu, para mahasiswa mencetak briket, mengamati hasilnya, lalu mencatat apa yang perlu diperbaiki.
Tidak semua cetakan langsung sempurna. Ada yang kurang padat, ada yang belum sesuai bentuk yang diinginkan. Mereka menyesuaikan, lalu mencoba lagi.
Mencari komposisi campuran yang pas ternyata mirip meracik resep. Terlalu longgar atau terlalu rapat, hasilnya bisa jauh dari harapan.
Karena itu, proses trial and error menjadi inti kegiatan hari itu. Setiap cetakan yang belum bagus bukan kegagalan, melainkan petunjuk menuju campuran yang tepat.
Apresiasi dari Bappeda
Dalam kunjungan tersebut, Sucipto, Penelaah Teknis Kebijakan Bappeda Gresik, memberikan apresiasi atas program ini.
“Bagus sekali dengan adanya KKN ini dapat memberikan manfaat kepada desa dengan memberikan alat briket sebagai pengolah limbah pertanian menjadi barang yang bermanfaat, tetap semangat untuk menemukan komposisi yang pas dalam membuat campuran briket sehingga hasil cetakan mesinnya bagus” ujarnya.
Dukungan itu menjadi semangat bagi para mahasiswa yang sedang mengutak-atik campuran dan mesin.
Ketua KKN Tematik UMG Kelompok 22, Dimas Saputra, menyambut apresiasi tersebut dengan rasa syukur.
“Alhamdulillah pak, terima kasih atas apresiasinya. Kami akan berusaha memberikan hasil yang terbaik sehingga dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi desa” tuturnya.
Bagi Desa Sukoanyar yang memiliki potensi pertanian, sisa hasil panen selama ini kerap kurang termanfaatkan.
Melalui program ini, mahasiswa berharap limbah tersebut dapat diolah menjadi briket yang bernilai guna, sehingga sesuatu yang tadinya dianggap sisa bisa menjadi sumber manfaat baru bagi warga.
Kunjungan pagi itu menandai bahwa prosesnya belum selesai, tetapi arahnya sudah jelas. Dengan mesin buatan sendiri, semangat mencoba berulang kali, dan dukungan dari berbagai pihak, mahasiswa KKN-T UMG Kelompok 22 terus melangkah, satu cetakan briket demi satu cetakan.





0 Tanggapan
Empty Comments