Sebuah hasil riset yang terbit di jurnal Contemporary Southeast Asia, menyebutkan bahwa pluralisme di Nahdlatul Ulama (NU) hanya mitos.
Hanya kalangan elitenya saja, sedang NU di akar rumput (grasroot) adalah masih intoleran yang ekslusif.
Mereka tidak menerima keragaman, dan bahkan cenderung memaksakan.
Saya membayangkan teman-teman Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) yang menjaga Acara Milad 113 Muhammadiyah di Pendopo Kabupaten Sampang, sebagaimana mereka rajin dan ikhlas saat menjaga Kebaktian Natal di gereja.
Namun ini malah sebaliknya —sungguh sangat disayangkan.
***
Secara politik, konsistensi NU justru terletak pada inkonsistensinya. Inilah eksotisme NU yang kadang menampilkan wajah ambigu.
Saya lebih suka menyebutnya sebagai “kekecualian” atau exceptionalism, tulis Burhanudin Muhtadi.
Jadi, toleransi NU itu sebenarnya terletak pada intoleransinya itu sendiri —inklusifitasnya terletak pada eksklusifitasnya.
Kebhinekaannya terletak pada hegemonisnya. Keragamannya terletak pada ke akuannya secara kolektif.
Ini memang sikap bipolar —semacam tidak konsisten yang ajeg.
Tapi itulah letak kekuatan dan sekaligus kelemahan NU.
Maka memahami kultur dan tradisi NU tidak bisa menggunakan standarnya para ulama dan elitenya yang ada di atas —karena justru pemimpin atau yang disebut oleh Gus Dur Kyai Kampung— yang jangankan dengan orang lain dengan sesama Nahdhiyin saja masih menaruh curiga.
***
Yudi Latif memilah generasi kelima dan keenam kaum inteligensia muslim, yang kemudian disebut oleh Budhy Munawar Rahman sebagai Islam progresif.
Yakni, Islam yang memberi penekanan utama kepada pengembangan ilmu pengetahuan, diskursus keadilan, keterbukaan, sikap toleransi, dan perlunya membangun integritas moral kaum Muslim dalam membangun kebangsaan Indonesia.
Hal mana bertolak belakang dengan arus utama akar rumput yang dominan memuja pada hal-hal furu’, sebut saja: revisi waktu shalat shubuh, isbal, janggut, minyak wangi, anti China, anti Yahudi, anti Kristen, berebut kekuasaan dan membangun identitas.
Buku berjudul “Reorientasi Pembaruan Islam” yang ditulis oleh Budhy Munawar Rachman menarik disimak.
Ada tren simultan seperti yang dilakukan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ketika mengetok palu membunuh 3 (tiga) makhluk penting, yaitu: pluralisme, sekularisme, dan liberalisme agama.
Jadi ikhtiar saling menafikkan secara intoleran juga terus masif dilakukan terhadap apapun yang tidak sepemahaman atau sepemikiran, jadi toleran itu selalu berpasangan dengan intoleran.
***
Syukur pula bila teman-teman BANSER ikutan menjaga aset-aset Muhammadiyah sebagaimana menjaga gereja di saat perayaan Natal.
Toleransi itu bagi saya sederhana: bisa ngopi dan udud bareng sambil bakar jagung. Salam ta’dzim dan salam seduluran sak-lawase.
Kepada kolega saya Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sampang, saya berdoa khusus untukmu, keluargamu dan seluruh jamaah dan aktifis pergerakan Muhammadiyah di Sampang.
Saya merasakan kepedihanmu, keprihatinanmu semoga kesabaran keberkahan, kemuliaan dan ridha Allah atasmu. Aamiin… ***





0 Tanggapan
Empty Comments