Wajah PWMU.CO terus mengalami perubahan. Dari hari ke hari tampilan portal itu terasa semakin ciamik. Tata letaknya kian rapi, warna-warnanya lebih segar, dan navigasinya makin ramah bagi pembaca. Bukan hanya soal tampilan, isi di dalamnya juga mulai terasa hidup. Konten-konten yang disajikan makin variatif: berita kegiatan Muhammadiyah, gagasan keislaman, kisah inspiratif warga persyarikatan, hingga laporan kegiatan amal usaha. Sedikit demi sedikit, denyut kehidupan Muhammadiyah Jawa Timur mulai bernafas di ruang digital itu. Berikut lanjutan kisahnya:
Perubahan itu tidak sia-sia. Perlahan tapi pasti, para pimpinan Muhammadiyah di tingkat wilayah maupun daerah mulai mengenal website resmi PWM Jawa Timur tersebut. Awalnya mungkin hanya sekadar mendengar, lalu mencoba membuka, kemudian mulai membaca. Dari sana muncul rasa penasaran, bahwa Muhammadiyah Jatim ternyata mulai memiliki rumah dakwah baru di dunia maya.
Pengakuan-pengakuan kecil itu menjadi bahan bakar semangat bagi awak redaksi. Mereka mulai merasakan bahwa kerja yang selama ini dilakukan dalam senyap perlahan berbuah. Kepercayaan diri pun tumbuh. PWMU.CO tidak boleh berhenti hanya sebagai proyek percobaan. Portal ini harus diluncurkan secara resmi.
Bekal semangat itulah yang mendorong awak redaksi segera menyiapkan satu momen penting: launching PWMU.CO.
Siang itu, suasana Kantor PWM Jatim terlihat lebih lengang. Para staf dan karyawan baru saja menunaikan salat zuhur. Aktivitas kantor sempat mereda, memberi ruang bagi sebuah pertemuan kecil yang justru menyimpan rencana besar.
Di salah satu ruangan, sebuah papan besar sudah terpasang rapi di dinding. Papan itu disiapkan sebagai bagian dari konsep acara peluncuran, tempat yang kelak menjadi saksi simbol dimulainya perjalanan resmi PWMU.CO.
Di atas meja panjang di tengah ruangan, berbagai hidangan sederhana telah tertata. Tumpukan nasi kotak, aneka kue dalam kemasan, air mineral, serta camilan ringan menjadi teman rapat siang itu.
Satu demi satu awak redaksi PWMU.CO mulai berdatangan. Ada yang masuk sambil menenteng laptop, ada yang langsung menyalami rekan-rekan yang lebih dulu hadir, dan ada pula yang melontarkan candaan ringan untuk mencairkan suasana.
“Silakan langsung makan, monggo. Ngobrolnya santai saja,” ujar Ustaz Nadjib Hamid, mempersilakan awak redaksi yang juga para pengurus LIK itu menikmati hidangan sambil menunggu rapat dimulai.
Ruangan sederhana di Kantor PWM Jatim itu perlahan berubah menjadi ruang penuh gagasan. Obrolan yang semula ringan berangsur menjadi diskusi yang serius. Ide-ide bermunculan, saling menyambung, kadang juga saling mengoreksi.
Percakapan tentang masa depan PWMU.CO terus mengalir. Ada yang mengusulkan konsep acara, ada yang memikirkan teknis peluncuran, ada pula yang membayangkan bagaimana portal ini kelak menjadi media dakwah yang hidup dan berpengaruh.
Siang itu, rencana demi rencana mulai dirumuskan. Selain menyiapkan acara peluncuran, kami juga merajut harapan besar: menjadikan PWMU.CO sebagai wajah dakwah digital Muhammadiyah yang mampu menjangkau lebih banyak orang.
“Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang hadir Pak Yunahar Ilyas,” ungkap Muh. Kholid As., Ketua LIK, membuka salah satu bagian pembahasan dalam rapat itu.
“Lalu konsep acaranya (Launching PWMU.CO) seperti apa?” tanya Rully Anwar, mantan reporter Suara Surabaya yang dikenal aktif menangani berbagai kegiatan event.
Pertanyaan itu membuat suasana diskusi kembali hidup. Beberapa ide bermunculan. Ada yang mengusulkan konsep besar, ada pula yang menyarankan acara dibuat lebih sederhana.
Setelah berdiskusi cukup panjang, kami akhirnya sepakat: Launching PWMU.CO digelar secara sederhana saja. Waktunya memang sudah mepet. Selain itu, masih banyak hal di dalam portal yang perlu terus diperbaiki.
Di tengah pembahasan itu, saya mengusulkan satu hal. Saat launching PWMU.CO nanti, setiap tokoh yang berbicara harus langsung diberitakan di portal pada hari yang sama.
“Dadi wonge mudhun panggung, beritane langsung tayang. Yok opo?” kata saya. Maksudnya sederhana: begitu narasumber turun dari panggung, beritanya sudah bisa dibaca di PWMU.CO. Itu akan menjadi tanda bahwa Muhammadiyah mulai memanfaatkan teknologi digital yang bergerak serba cepat.
Beberapa detik ruangan itu hening. Lalu Kholid tersenyum. “Yos wes, Kang. Sepakat. Sampeyan koordinatore, ya,” sahutnya, yang langsung diamini peserta rapat lainnya.
Saya pun tersenyum kecil. Begitulah yang khas di Muhammadiyah. Siapa yang mengusulkan gagasan, dialah yang biasanya diminta untuk ikut mengeksekusinya.
Ide tidak berhenti di meja rapat, tapi harus segera diwujudkan.
***
Saya sengaja datang pagi-pagi benar. Saat itu, aktivitas di Kantor PWM Jawa Timur belum dimulai. Lorong-lorong masih lengang. Beberapa pintu ruangan masih tertutup rapat. Suasana kantor terasa tenang. Hanya sesekali terdengar langkah kaki petugas kebersihan yang sedang merapikan ruangan.
Meja penerima tamu yang disiapkan untuk undangan pun masih kosong. Belum ada daftar hadir yang terbuka. Belum ada tamu yang datang. Segalanya masih dalam tahap persiapan.
Saya lalu naik ke Aula Mas Mansur di lantai tiga, tempat acara launching PWMU.CO akan digelar. Di ruangan itu kursi-kursi sudah tertata rapi menghadap panggung. Namun suasana aula masih sepi. Belum ada hiruk-pikuk seperti biasanya jika acara besar hendak dimulai.
Bersama Zaenal Arifin, IT support asal Gresik, saya memilih mengambil posisi di sebuah ruangan kecil di sebelah kiri panggung. Ruangan itu adalah ruang teknis, semacam “dapur” yang mengatur jalannya acara dari balik layar.
Di dalamnya terdapat mixer audio dengan deretan tombol dan slider, amplifier, serta beberapa kabel yang menjulur ke berbagai arah menuju panggung dan pengeras suara di sudut-sudut aula. Dari ruangan itu, teknisi biasanya mengatur volume mikrofon, memastikan suara pembicara terdengar jelas, sekaligus mengontrol musik pengiring jika diperlukan.
Sebuah monitor kecil juga dipasang di sana, menampilkan aktivitas di panggung sehingga teknisi bisa memantau jalannya acara tanpa harus berada di depan. Sesekali terdengar bunyi “cek… cek…” dari mikrofon yang sedang diuji coba.
Di ruangan itulah kami bersiap. Laptop sudah dibuka. Koneksi internet dicek berulang-ulang. Karena sesuai rencana rapat sebelumnya, hari itu kami akan mencoba sesuatu yang cukup menantang: setiap tokoh yang berbicara di panggung, beritanya harus langsung tayang di PWMU.CO pada hari yang sama.
Dari ruangan kecil di samping panggung itulah, kami seperti menyiapkan sebuah ruang redaksi mini. Siap menangkap setiap momen yang terjadi di aula, lalu secepat mungkin mengubahnya menjadi berita.
Tak lama kemudian, suasana Aula Mas Mansur mulai berubah. Satu per satu tamu undangan berdatangan. Para tokoh Muhammadiyah dari berbagai daerah di Jatim tampak mulai memenuhi ruangan. Ada yang datang berkelompok, ada pula yang berjalan pelan sambil sesekali berhenti menyapa kawan lama.
Suara percakapan makin ramai. Kursi-kursi yang tadi kosong perlahan terisi. Beberapa pengurus PWM Jatim terlihat sibuk menyambut tamu, menyalami mereka, lalu mempersilakan duduk di tempat yang telah disediakan.
Dari ruang teknis kecil di samping panggung itu, kami memperhatikan semuanya melalui layar monitor. Sesekali kami juga mengintip langsung ke aula. Laptop sudah menyala. Jaringan internet dicek lagi. Kamera sudah siap di tangan.
Acara pun dimulai. Satu demi satu sambutan disampaikan. Para tokoh Muhammadiyah yang hadir berbicara tentang pentingnya dakwah di era digital, tentang perlunya Muhammadiyah hadir di ruang-ruang baru yang kini semakin banyak dihuni generasi muda.
Begitu seorang tokoh selesai menyampaikan sambutan dan turun dari podium, naskah beritanya sebenarnya sudah hampir rampung. Tinggal sentuhan akhir sebelum dipublikasikan. Beberapa menit kemudian, berita itu langsung tayang di PWMU.CO. Dan yang membuat suasana makin menarik, halaman portal tersebut juga ditampilkan melalui layar proyektor besar di atas panggung.
Para peserta yang duduk di aula bisa langsung melihatnya. “Lho, ini sudah tayang?” tanya salah seorang tokoh Muhammadiyah dengan nada heran, matanya menatap layar besar yang menampilkan berita tentang dirinya yang baru saja berbicara beberapa menit sebelumnya.
Beberapa bahkan tampak benar-benar terkejut. Mereka tidak menyangka berita bisa muncul secepat itu.
Dari ruang kecil di samping panggung, kami saling berpandangan dan tersenyum. Rencana kecil yang dulu kami bahas dalam rapat ternyata benar-benar berhasil diwujudkan.
Bagi sebagian orang mungkin itu hal biasa. Tetapi bagi banyak tokoh Muhammadiyah yang hadir saat itu, pengalaman itu terasa baru.
Ketua PWM Jawa Timur, Dr. Saad Ibrahim, tampak tak mampu menyembunyikan kegembiraannya menyaksikan momen itu. Dari kursinya di barisan depan, ia beberapa kali memperhatikan layar yang menampilkan berita-berita yang baru saja terbit.
Di penghujung ceramahnya, ia menutup dengan sebuah doa yang sederhana namun menggetarkan. “Semoga semua kru PWMU masuk surga,” ucapnya.
Aula sejenak hening, lalu para hadirin serempak mengamini. “Aamiin.” Doa itu menjadi penutup yang hangat bagi sebuah peristiwa sederhana siang itu. Namun dari momen kecil itulah, sebuah langkah baru dakwah Muhammadiyah mulai menapaki dunia digital, sebuah kisah yang kelak selalu kami kenang. (habis)






0 Tanggapan
Empty Comments