Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Muhammad Sayuti, Ph.D menegaskan bahwa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) tidak boleh terjebak dalam zona nyaman.
Pesan kuat tersebut disampaikan dalam acara Halalbihalal yang digelar Universitas Muhammadiyah Surabaya pada Senin (30/3/2026), sebagai upaya penguatan ideologi dan tata kelola organisasi agar tetap unggul, inovatif, dan berkemajuan..
Dalam forum tersebut, Sayuti mengingatkan bahwa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) serta Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) harus terus bergerak maju dan berinovasi.
“Haram hukumnya masuk zona nyaman,” tegasnya di hadapan peserta.
Dia menekankan bahwa tata kelola organisasi menjadi kunci utama kemajuan. Menurutnya, para pengelola AUM harus membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa.
Dalam pemaparannya, Sayuti juga mengajak seluruh kader untuk mensyukuri keberadaan Muhammadiyah yang telah berkiprah lebih dari satu abad dalam membangun peradaban umat.
Dia menyebut Muhammadiyah sebagai salah satu model paling sukses dalam modernisasi pendidikan Islam di dunia.
Pandangan tersebut merujuk pada pendapat Robert W. Hefner yang menilai Muhammadiyah berhasil memadukan nilai keislaman dengan sistem pendidikan modern.
Keberhasilan ini, lanjut Sayuti, tidak hanya terlihat di dalam negeri, tetapi juga melalui ekspansi internasional. Di antaranya berdirinya Muhammadiyah Australia College (MAC) di Victoria dan Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM) di Perlis.
“Di balik angka-angka capaian ini, ada jihad lahir batin, keikhlasan, dan tata kelola profesional dari jutaan orang,” ungkapnya.
Meski telah berkembang menjadi organisasi besar, Sayuti mengingatkan adanya tantangan serius yang dihadapi Muhammadiyah, baik dari sisi internal maupun eksternal. Salah satunya adalah risiko menurunnya vitalitas organisasi.
Untuk itu, ia mendorong penerapan Model McKinsey 7-S sebagai kerangka menjaga efektivitas organisasi. Model ini mencakup tujuh elemen penting yang terbagi dalam dua kategori, yakni:
- Hard Elements: Strategy, Structure, dan Systems
- Soft Elements: Shared Values, Style, Staff, dan Skills
Menurutnya, elemen shared values harus menjadi fondasi utama, mulai dari nilai input seperti kemurnian akidah dan keikhlasan, nilai proses berupa tata kelola yang baik (good governance) dan kolektif-kolegial, hingga nilai output berupa keunggulan dan kemaslahatan bagi umat.

Dorong Kultur Pembelajar dan Etos Profesional
Secara khusus, Sayuti memberikan sejumlah catatan strategis bagi PTMA dan AUM agar tetap unggul dan relevan di tengah dinamika zaman.
Dia menekankan pentingnya membangun kultur pembelajar dengan semangat mengaji dan belajar tanpa henti. Selain itu, etos kerja juga harus diperkuat dengan mentalitas mandiri, responsif, serta berorientasi pada pelayanan terbaik.
Sayuti juga mengingatkan bahwa seluruh aktivitas dalam pengelolaan AUM adalah bagian dari ibadah. Mulai dari urusan besar seperti akreditasi hingga hal sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan kampus, semuanya memiliki nilai spiritual.
Tak kalah penting, ia menekankan fokus pada kepuasan mahasiswa sebagai bagian dari pelayanan utama institusi pendidikan.
“Memberikan layanan terbaik kepada mahasiswa adalah wasilah untuk meraih ampunan Allah,” ujarnya.
Sebagai penutup, Sayuti mengutip pesan pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, yang menegaskan pentingnya semangat berkemajuan dalam berdakwah dan berorganisasi.
“Jadiyo kyai (guru) sing kemajuan, lan ojo kesel-kesel anggonmu nyambut gawe kanggo Muhammadiyah,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments