Sedekat apa pun hubungan kita dengan manusia—pasangan hidup, sahabat karib, orang tua, atau bahkan sosok yang paling kita percaya—tetap ada ruang di hati yang tidak sepenuhnya dapat mereka pahami.
Ada luka yang sulit diucapkan, ada air mata yang jatuh tanpa suara, dan ada doa-doa yang hanya mampu terucap di dalam dada. Pada titik inilah kita menyadari satu kebenaran hakiki: tidak ada yang benar-benar memahami kita selain Allah.
Sehebat apa pun pertolongan manusia, tetap saja ia terbatas oleh kemampuan, waktu, dan keadaan.
Seseorang bisa berjanji membantu, tetapi tak jarang terhalang oleh kesibukan, keterbatasan materi, atau bahkan perubahan hati.
Berbeda dengan pertolongan Allah—Ia tidak pernah terhalang oleh apa pun. Ketika Allah menolong, tak ada satu pun yang mampu menghalangi.
Allah berfirman: “Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkan kamu.” (QS. Ali ‘Imran: 160)
Sekuat apa pun penjagaan manusia—pengamanan berlapis, nasihat berulang, atau perhatian tanpa henti—tetap saja ada celah kelalaian. Manusia bisa tertidur, lupa, atau lengah. Namun penjagaan Allah tidak pernah lengah, tidak pernah tertidur, dan tidak pernah lalai.
“Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur.”
(QS. Al-Baqarah: 255)
Berapa banyak di antara kita yang pernah berada di titik paling lemah dalam hidup?
Seorang kepala keluarga yang kehilangan pekerjaan, pulang ke rumah dengan dada sesak dan senyum yang dipaksakan.
Seorang ibu yang terjaga di malam hari, memikirkan masa depan anak-anaknya sambil menahan tangis.
Seorang mahasiswa yang telah berusaha keras, namun hasil tak kunjung sesuai harapan.
Atau seseorang yang dikhianati, ditinggalkan, dan merasa sendirian di tengah keramaian.
Pada saat seperti itu, pesan-pesan mulai sepi, telepon tak lagi berdering, dan dunia terasa menjauh. Namun Allah tidak pernah menjauh. Justru di saat itulah pintu langit terbuka paling lebar bagi hamba yang bersungguh-sungguh memohon.
Maka ketika beban hidup terasa terlalu berat, persoalan datang silih berganti, dan kesulitan menghimpit dari segala arah—memohonlah kepada Allah.
Ketika duka nestapa menyelimuti hati, musibah menimpa, atau bencana datang tanpa aba-aba—memohonlah kepada Allah.
Ketika semua terasa pergi menjauh, masalah sulit teratasi, dan tak satu pun tampak peduli—memohonlah kepada Allah.
Sungguh, setiap tangis yang jatuh dalam sujud, setiap keluh yang terucap dalam doa, setiap kesedihan yang disampaikan dengan penuh harap—Allah adalah tempat terbaik untuk memohon.
Rasulullah saw bersabda: “Ketahuilah, jika seluruh manusia berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberi manfaat kecuali yang telah Allah tetapkan untukmu.” (HR. Tirmidzi)
Inilah jalan yang ditempuh para nabi dan orang-orang saleh. Ketika Nabi Ya’qub ‘alaihis salam kehilangan putra-putranya dan kesedihan menggerogoti hatinya, beliau tidak mengeluh kepada manusia.
Dia tidak menyalahkan keadaan, tidak pula menumpahkan keluh kesah kepada makhluk. Dengan penuh ketundukan, ia berkata:
“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86)
Begitu pula Nabi Muhammad saw. Dalam tekanan, cemoohan, dan penolakan di Thaif, beliau tidak mengadu kepada manusia, tetapi mengangkat tangan ke langit, mengadu kepada Allah dengan doa yang penuh kerendahan hati.
Maka jadikanlah Allah sebagai tujuan pertama untuk memohon, sebelum kita mengadu kepada manusia.
Bukan berarti kita dilarang meminta bantuan sesama, tetapi jangan pernah menjadikan manusia sebagai sandaran utama, karena sandaran itu rapuh. Jadikan Allah sebagai tempat bergantung, karena sandaran itu kokoh dan tidak akan runtuh.
Insya Allah, setiap kesabaran akan bernilai pahala, setiap kepedihan menjadi jalan menuju kebahagiaan, dan setiap ujian adalah cara Allah meninggikan derajat serta menghapus dosa-dosa kita.
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)
Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments