“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19–20)
Pernahkah kita berkeluh kesah? Saat rezeki terasa sempit, pekerjaan menumpuk, anak tak kunjung menurut, atau usaha tak sesuai harapan?
Dan apakah keluhan itu benar-benar menyelesaikan masalah? Tidak, bukan? Yang ada justru hati semakin gelisah, pikiran semakin kusut, dan langkah terasa makin berat.
Bayangkan seorang pegawai yang setiap hari mengeluhkan pekerjaannya. Ia merasa gajinya kurang, atasannya kurang menghargai, dan rekan kerjanya tidak mendukung.
Setiap istirahat siang, yang keluar dari lisannya hanya keluhan. Ia pulang membawa lelah, bukan hanya lelah fisik, tetapi juga lelah batin.
Apakah pekerjaannya berubah? Tidak. Apakah beban terasa ringan? Justru makin berat.
Keluhan itu seperti api kecil yang terus ditiup. Lama-lama membakar semangatnya sendiri.
Atau seorang pedagang kecil di pasar. Ketika dagangan sepi, ia menghabiskan waktu dengan menggerutu: menyalahkan keadaan, menyalahkan pemerintah, bahkan menyalahkan takdir.
Sementara di sebelahnya, ada pedagang lain yang juga sepi—namun memilih memperbaiki cara menawarkan barang, memperbaiki pelayanan, dan memperbanyak doa.
Waktu berjalan. Yang satu tenggelam dalam keluhan. Yang lain bangkit dalam usaha.
Dalam ajaran Islam, mengeluh, terutama kepada manusia dengan nada putus asa, dapat melemahkan iman.
Mengeluh berlebihan menjadikan hati fokus pada kekurangan, bukan pada nikmat yang masih Allah limpahkan.
Padahal, betapa banyak nikmat yang sering luput kita syukuri:
- Nafas yang masih teratur.
- Tubuh yang masih bisa bergerak.
- Keluarga yang masih mendampingi.
- Kesempatan untuk memperbaiki diri hari ini.
Mengeluh terus-menerus membuat seseorang lupa bersyukur. Hati menjadi sempit. Rezeki terasa kurang, walaupun sebenarnya cukup.
Bahkan dalam makna spiritual, keluhan yang berlebihan bisa menjauhkan keberkahan, karena hati sibuk memprotes, bukan menerima dan memperbaiki.
Mengubah Keluh Menjadi Munajat
Mengapa tidak kita ubah keluhan itu menjadi munajat?
Saat dada terasa sesak, gelar sajadah. Saat pikiran terasa berat, lantunkan zikir. Saat hati gelisah, buka mushaf dan tilawah.
Bukankah Nabi Ya’qub ketika bersedih tidak mengadu kepada manusia? Beliau berkata: “Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihanku kepada Allah.” (QS. Yusuf: 86)
Ada perbedaan besar antara mengeluh kepada manusia dengan penuh putus asa, dan mengadu kepada Allah dengan penuh harap. Yang pertama melemahkan, yang kedua menguatkan.
Setelah berdoa, jangan berhenti. Bangkitlah dengan jiddiyyah—kesungguhan yang total. Jiddiyyah bukan sekadar bekerja keras. Ia adalah kesungguhan yang:
- Berlandaskan syariah.
- Didasari ilmu dan akhlak.
- Dilakukan dengan ketabahan.
- Mengerahkan seluruh potensi terbaik.
- Tidak mudah menyerah saat ada hambatan.
Seorang mahasiswa yang gagal ujian, misalnya. Ia bisa saja mengeluh: soal terlalu sulit, dosen terlalu tegas, waktu terlalu singkat. Tetapi dengan jiddiyyah, ia memilih mengevaluasi cara belajarnya, memperbaiki manajemen waktunya, dan meminta bimbingan.
Seorang dai yang menghadapi penolakan pun demikian. Jika ia mengeluh dan berhenti, dakwah terhenti. Tetapi jika ia bersabar, memperbaiki pendekatan, dan tetap berikhtiar, maka pelan-pelan hati manusia akan terbuka.
Ketika ada masalah:
- Berikhtiarlah dengan sungguh-sungguh.
- Lakukan evaluasi dengan jujur.
- Lalu bertawakallah kepada Allah.
Biarkan Allah menentukan hasilnya. Tugas kita adalah berusaha. Hasil adalah wilayah Allah.
Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang tertimpa kesusahan kemudian mengadu kepada manusia maka kesusahannya tidak akan teratasi. Dan barang siapa tertimpa kesusahan kemudian mengadu kepada Allah, maka Allah akan memberi jalan keluar dari kesusahan, cepat atau lambat.” (HR. Tirmidzi)
Fase Terbaik dalam Hidup
Hidup bukan tanpa masalah. Justru masalah adalah bagian dari pendidikan Allah kepada hamba-Nya.
Fase terbaik dalam hidup bukan saat tanpa ujian, tetapi saat:
- Kita sabar dalam kesulitan.
- Kita bersyukur dalam kelapangan.
- Kita tetap berikhtiar dalam keterbatasan.
- Kita menggantungkan harap hanya kepada Allah.
Keluh kesah hanya menambah gundah. Tetapi doa, usaha, dan tawakal akan menumbuhkan kekuatan.
Mari kita kurangi keluhan, perbanyak munajat. Kurangi gerutu, perbanyak syukur. Kurangi menyalahkan keadaan, perbanyak memperbaiki diri.
Karena sesungguhnya, di balik setiap kesulitan, Allah telah menyiapkan kemudahan—bagi mereka yang sabar, bersungguh-sungguh, dan tetap berharap hanya kepada-Nya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments