Search
Menu
Mode Gelap

Belajar dari Air untuk Tetap Tenang di Tengah Ujian Hidup

Belajar dari Air untuk Tetap Tenang di Tengah Ujian Hidup
Dr. Hasan Ubaidillah. Foto: Tangkapan layar Youtube
pwmu.co -

Hidup itu seperti air, mudah berubah, akan habis, mengandung ujian, dan sering kali disikapi secara berlebihan.

Renungan tentang hakikat kehidupan ini disampaikan oleh Ketua Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. Hasan Ubaidillah.

Gus Ubaid, demikian sapaan akrabnya, menggambarkan nikmat Allah seperti ombak di lautan. Tak pernah berhenti datang silih berganti.

“Kalau kita bayangkan nikmat Allah itu seperti gelombang lautan, belum selesai yang satu, sudah datang lagi. Begitulah nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya,” ujarnya dalam kanal YouTube Universitas Muhammadiyah Ponorogo.

Menurutnya, syarat satu-satunya agar manusia hidup bahagia adalah bersyukur.

“Bukan karena bahagia lalu bersyukur, tetapi karena bersyukur maka hidup menjadi bahagia,” tegasnya.

Gus Ubaid juga menekankan pentingnya menumbuhkan cinta kepada Rasulullah SAW, yang telah menjelaskan Islam secara sempurna dan rinci.

“Tidak ada satu pun dalam Al-Qur’an yang tidak dijelaskan secara detail oleh Rasulullah. Bahkan hal-hal kecil seperti adab masuk kamar mandi, mendidik anak, hingga bergaul dengan tetangga sudah dijelaskan oleh beliau,” tuturnya.

Dia mengingatkan, kecintaan kepada Rasulullah bukan sekadar ucapan, tetapi harus dibuktikan dengan amal dan selawat, agar kelak mendapat syafaat di hari akhir.

“Orang yang di akhirat nanti amalan baik dan buruknya tipis, InsyaAllah akan ditambah kebaikannya karena syafaat Rasulullah,” jelasnya.

Gus Ubaid juga menegaskan bahwa silaturahim merupakan ciri khas gerakan Muhammadiyah.

“Muhammadiyah memang tidak punya tradisi tahlilan atau manakiban, tapi dengan acara seperti ini kita bisa saling mengenal, berbagi cerita, dan memperkuat ukhuwah,” ujarnya.

Ia mengingatkan pentingnya mempererat tali persaudaraan antar kader serta memperkuat semangat pengembangan masjid.

“Masjid kita tidak boleh dikelola seperti dulu. Ia harus terus berkembang sesuai dengan kemajuan zaman,” tegasnya.

Gus Ubaid juga menyinggung tantangan kehidupan digital yang kini dihadapi masyarakat, terutama generasi muda dan para ibu rumah tangga.

“Dulu orang tua senang kalau anaknya di kamar terus karena dianggap aman. Sekarang justru harus hati-hati, karena di dalam kamar mereka bisa berkomunikasi ke mana saja lewat ponsel,” katanya.

Dia juga menyoroti fenomena pinjaman online (pinjol) yang banyak menjerat kaum ibu.

“Data menunjukkan 90 persen pengguna pinjol adalah perempuan. Banyak yang tidak mampu mengembalikan, suaminya tidak tahu, akhirnya rumah tangga hancur. Bahkan ada yang tergelincir ke perbuatan maksiat demi melunasi pinjaman,” ujarnya prihatin.

Empat Pelajaran Hidup dari Air

Iklan Landscape UM SURABAYA

Mengutip tafsir Imam Al-Qurtubi, Gus Ubaid menjelaskan empat kesamaan antara air dan kehidupan manusia sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Kahfi ayat 45:

Mudah Berubah

“Air berubah mengikuti wadahnya. Begitu juga kehidupan kita yang selalu berubah. Dulu muda, sekarang tua; dulu kuat, sekarang lemah. Karena itu, jangan kaget dengan perubahan. Islam sudah mengajarkan bahwa dunia memang tidak tetap.”

Akan Habis

“Air jika dipakai akan habis, begitu juga kehidupan. Jabatan, kekayaan, bahkan umur—semuanya akan habis. Yang tersisa hanyalah amal.”

Dia menambahkan, “Ketika seseorang meninggal, tiga hal akan pergi: keluarga, harta, dan amal. Dua akan pulang, hanya amal yang tinggal.”

Selalu Basah, Penuh Ujian

“Siapa pun yang masuk air pasti basah. Begitu juga hidup, selalu ada masalah. Tidak ada manusia yang hidup tanpa ujian,” katanya sambil mengutip Surah Al-Baqarah ayat 155, tentang ujian berupa ketakutan, kelaparan, dan kehilangan.

Dia menuturkan kisah Imam Al-Ghazali tentang tamu yang tidak bisa tidur karena takut pedang jatuh di atas tempat tidurnya.

“Sering kali kita takut pada hal-hal yang belum tentu terjadi. Padahal pagi harinya kita masih baik-baik saja,” katanya, disambut tawa jamaah.

Cenderung Berlebihan

“Air kalau tidak dikendalikan bisa meluap. Begitu juga manusia yang sering berlebihan dalam keinginan dan harta,” tuturnya.

Gus Ubaid mengingatkan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 268, bahwa setan menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan agar mereka menjadi kikir dan tamak.

“Padahal saat puasa, satu gelas teh dan sepotong pisang saja sudah cukup menenangkan hati. Tapi setelah lepas puasa, manusia lupa, ingin semuanya,” sindirnya lembut.

Menjadi Air yang Menyucikan

Menutup ceramahnya, Gus Ubaid berpesan agar umat Islam memahami kehidupan seperti air—yang berubah, habis, penuh ujian, namun selalu memberi manfaat.

“Hidup akan terus berubah, habis pada waktunya, penuh ujian, dan sering kali membuat kita berlebihan. Tapi ingat, semua itu bagian dari ujian Allah agar kita tetap bersyukur dan tidak sombong,” ujarnya menutup tausiah. (*)

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments