Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) menutup dengan sukses rangkaian kegiatan PM-BEM BERDAMPAK bertema “Sinergi Inovasi Mahasiswa Menuju Kampus Progresif dan Berdampak”, Senin (3/11/2025).
Program yang berlangsung di Desa Supiturang Lumajang ini merupakan implementasi PKM BEM Berdampak Hibah BIMA Kemdiktisaintek Tahun 2025 dengan nomor kontrak 045/SP/II.3.AU/LPPM/PKM-BEM/2025. Kegiatan tersebut menjadi wadah nyata bagi mahasiswa untuk menghadirkan inovasi sosial melalui kolaborasi dengan dua mitra utama: Desa Tangguh Bencana (Destana) dan kelompok tani setempat.
Inovasi Mahasiswa untuk Desa Tangguh dan Mandiri Pangan
Desa Supiturang dikenal sebagai wilayah yang rawan bencana alam, terutama banjir dan tanah longsor. Menyadari kondisi tersebut, BEM UMSurabaya menghadirkan dua program unggulan, yakni edukasi mitigasi kebencanaan dan pelatihan pertanian berkelanjutan berbasis teknologi tepat guna (TTG).
Program tersebut dirancang untuk membangun ketahanan pangan desa sekaligus mengurangi risiko bencana jangka panjang.
Dua kegiatan utama menjadi fokus pelaksanaan, yaitu:
Seminar Mitigasi Bencana “Siaga Desa” – Memberikan pembekalan komprehensif tentang prosedur tanggap darurat, identifikasi dini, serta teknik pengurangan risiko bencana.
Pelatihan Pertanian “Panen Cerdas” – Memperkenalkan metode pertanian modern yang ramah lingkungan dan efisien, guna meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem.
Apresiasi dari Dosen dan Pemerintah Desa
Kegiatan ini mendapat apresiasi tinggi dari berbagai pihak. Dosen pembimbing lapangan, Vella Rohmayani menilai bahwa program ini merupakan implementasi nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“Mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga harus hadir di tengah masyarakat dengan solusi berbasis ilmu pengetahuan. Inilah bentuk pengabdian yang sesungguhnya,” ujarnya.
Sementara itu, Nurul Yakin Pribadi, Kepala Desa Supiturang, menyampaikan rasa terima kasih atas kontribusi mahasiswa.
“Kami sangat terbantu dengan kehadiran mahasiswa BEM UMSurabaya. Ilmu dan teknologi tepat guna yang mereka bawa sangat relevan untuk membantu penerangan saat bencana serta mendukung produktivitas pertanian di desa kami,” tuturnya.
Mahasiswa Sebagai Agen Perubahan
Ketua BEM UMSurabaya, Nasrawi, menegaskan bahwa PM-BEM BERDAMPAK merupakan bukti nyata peran mahasiswa sebagai agen perubahan di era kolaborasi.
“Mahasiswa hari ini harus adaptif dan solutif. Melalui sinergi antara kampus, pemerintah desa, dan masyarakat, kami menanam benih inovasi agar Desa Supiturang tumbuh menjadi desa yang tangguh dan mandiri pangan,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini berhasil menanamkan pola pikir mitigasi dan efisiensi kepada masyarakat. Sebanyak 200 warga mendapat pelatihan langsung, yang diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan sekaligus menekan kerugian akibat bencana di masa mendatang.
Kolaborasi yang terjalin antara mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat kini menjadi fondasi kuat bagi terwujudnya Desa Supiturang yang lebih maju, berdaya, dan resilien. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments