Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Berjuang di Kala Senja: Ketika Dakwah Tak Pernah Mengenal Pensiun

Iklan Landscape Smamda
Berjuang di Kala Senja: Ketika Dakwah Tak Pernah Mengenal Pensiun
Bukit Salam Watulimo. (Dani Setiawan/PWMU.CO)
Oleh : Dani Setiawan (Ketua Majelis Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana PDM Kota Kediri)

Dulu, semangat juang itu membara. Energi muda mengisi hari-hari penuh aktivitas: menyusun program, membangun cabang, melatih kader, dan menyuarakan dakwah di mana pun berada. Tapi waktu terus berjalan. Rambut memutih, langkah melambat, dan tubuh mulai merasakan lelah serta sakit.

Namun bagi aktivis Muhammadiyah sejati, usia hanyalah angka, dan pensiun hanyalah istilah administratif. Dakwah dan pengabdian tak mengenal akhir. Saat banyak orang mulai mengurangi aktivitas, mereka justru semakin menyadari amanah yang harus dijaga. Masa tua bukan waktu untuk melangkah mundur, melainkan waktu terbaik untuk mewariskan semangat, menularkan nilai, dan menjaga api dakwah tetap menyala.

Berjuang di senja bukan tanpa tantangan. Dunia kini serba digital, cepat, dan kadang terasa asing. Dari ikut rapat daring hingga belajar mengelola media sosial, mereka menyesuaikan diri dengan rendah hati. Meski kadang frustrasi, mereka tidak menyerah, sebab mereka tahu, keberlangsungan gerakan bergantung pada keterlibatan semua generasi.

Lebih berat lagi ujian dari keluarga. Istri yang setia menunggu, anak-anak yang sering tidur tanpa ayah di sampingnya, cucu yang rindu bermain bersama. “Sudah cukup, Pak,” lirih sang istri. Anak bertanya, “Kenapa masih ikut repot?” Cucu memanggil lembut, sementara sang kakek tetap berjuang.

Inilah perjuangan sejati: antara cinta keluarga dan cinta gerakan. Namun mereka bertahan, karena dakwah adalah bagian dari jihad hidupnya. Perlahan, istri mulai mengerti, anak-anak pun memahami, bahwa perjuangan itu bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk umat, generasi muda, dan masa depan organisasi.

Berjuang di kala senja berarti melawan keinginan untuk berhenti saat tubuh meminta istirahat, tapi hati terus melangkah. Dunia mungkin menyuruh berhenti, namun ruh dakwah berbisik lembut, “Masih ada yang harus dijaga.”

Sebab dakwah bukan soal tenaga, melainkan soal cinta. Cinta itulah yang membuat mereka tetap hadir di tengah kader muda, membuka rapat malam dengan kacamata tebal, dan menangis dalam doa agar Muhammadiyah tetap teguh di jalan perjuangan.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Berjuang di kala senja adalah seni mencintai dalam diam tanpa banyak bicara, tanpa tepuk tangan, tapi menjadi inspirasi dan warisan yang tak tergantikan.

Kelak, ketika mereka berhenti bukan karena menyerah, nama mereka akan dikenang bukan di spanduk, tapi di hati para kader yang lahir dari peluh perjuangan mereka.

Sebab dakwah sejati adalah kerja hati, diteruskan tanpa pamrih, dan ditutup dengan husnul khatimah.

Bukit Salam Watulimo, 14 Oktober 2025

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡