Rabu (30/9/2026) itu menjadi hari yang istimewa bagi Suster Dulce Maria Guterres, FDCC. Di tengah ratusan wisudawan Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, biarawati Katolik asal Timor-Leste itu berdiri dengan toga yang dikenakannya.
Ia baru saja menyelesaikan perjalanan akademiknya. Gelar Magister Kebidanan dari Fakultas Ilmu Kesehatan UNISA Yogyakarta kini melekat di belakang namanya.
Namun, yang membuat kisah Suster Dulce berbeda bukan semata gelar akademik itu.
Ia menempuh pendidikan di sebuah perguruan tinggi yang berbasis nilai-nilai Islam. Ia datang dari negara lain. Ia memiliki latar belakang budaya dan keyakinan yang berbeda. Usianya pun sempat membuatnya bertanya-tanya apakah ia mampu mengikuti perjalanan pendidikan tersebut.
Keraguan itu pernah hadir ketika pertama kali menginjakkan kaki di Unisa Yogyakarta.
Tetapi keraguan itu tidak bertahan lama. Di kampus tersebut, Suster Dulce justru menemukan pengalaman yang tidak hanya berkaitan dengan ruang kuliah, penelitian, dan tugas akademik.
Ia menemukan penerimaan. Ia menemukan persaudaraan. Bahkan, ia menyebut Unisa Yogyakarta seperti sebuah rumah yang memberinya rasa aman.
“Namun, kekhawatiran tersebut perlahan pudar oleh ketulusan. Kehangatan, kelembutan, dan keterbukaan dari seluruh civitas academica menyambut kehadiran saya. Unisa bukan sekadar institusi pendidikan tinggi, melainkan sebuah oase dan rumah rohani yang menghadirkan rasa aman serta kedamaian bagi jiwa,” ungkap Suster Dulce saat menyampaikan pidato mewakili wisudawan.
Suster Dulce datang ke Indonesia sebagai utusan Instituto de Ciência de Saúde (ICS) Dili dengan dukungan Yayasan Graça de Deus.
Selama menjalani pendidikan, ia tidak hanya berinteraksi dengan dosen dan mahasiswa di ruang akademik. Ia juga tinggal bersama para penghuni asrama kampus. Di sana, perbedaan tidak menjadi jarak.
Sebagai seorang biarawati Katolik, Suster Dulce merasakan penghormatan, kasih, dan kedamaian dalam kehidupan akademiknya di Unisa Yogyakarta.
Pengalaman itulah yang kemudian membuat perjalanan pendidikannya memiliki makna lebih luas daripada sekadar memperoleh gelar magister.
“Pengalaman hidup ini makin meneguhkan keyakinan saya bahwa ilmu pengetahuan dan pelayanan kemanusiaan adalah panggilan universal. Keduanya mampu meruntuhkan setiap sekat perbedaan, baik usia, latar belakang budaya, maupun keyakinan,” tegasnya.
Kalimat itu seperti merangkum perjalanan Suster Dulce di Unisa Yogyakarta.
Ia datang membawa latar belakangnya sendiri. Ia pulang dengan pengalaman baru tentang bagaimana pendidikan mempertemukan manusia yang berbeda.
Baginya, ilmu pengetahuan tidak mengenal sekat agama dan budaya ketika tujuan akhirnya adalah pelayanan kepada manusia.
Karena itu, kelulusannya juga ia harapkan menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan antara Timor-Leste dan Indonesia.
Bukan hanya dalam bidang pendidikan, tetapi juga melalui kerja sama kesehatan dan kemanusiaan.
928 Lulusan, Pesan tentang Integritas
Kisah Suster Dulce hadir dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-27 Unisa Yogyakarta yang berlangsung di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan Unisa Yogyakarta.
Pada wisuda tersebut, Unisa Yogyakarta meluluskan 928 mahasiswa dari program magister, sarjana, sarjana terapan, dan diploma.
Sebanyak 779 lulusan atau 83,94 persen meraih predikat cumlaude. IPK tertinggi diraih lulusan Program Pascasarjana dengan nilai sempurna 4,00, sementara rerata IPK lulusan mencapai 3,92.
Rektor Unisa Yogyakarta Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat menyampaikan apresiasi kepada para wisudawan dan orang tua yang telah memberikan kepercayaan kepada kampus tersebut sebagai tempat menempuh pendidikan.
“Ijazah dan gelar akademik bukanlah garis akhir. Justru setelah wisuda, para lulusan memasuki ruang kehidupan yang lebih luas. Di sana, ilmu akan diuji oleh persoalan nyata, perubahan teknologi, dan dinamika masyarakat,” katanya.
Menurut dia, teknologi boleh semakin canggih, tetapi integritas tidak boleh tergantikan.
“Kecerdasan buatan boleh membantu kita bekerja lebih cepat, tetapi empati, kepedulian, tanggung jawab, dan kemampuan memahami manusia tetap menjadi kekuatan yang sangat penting,” pesannya.
Pesan itu terasa menemukan konteksnya dalam kisah Suster Dulce. Sebab, perjalanan pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa tinggi gelar yang berhasil diraih.
Ada sesuatu yang lebih penting: untuk apa ilmu itu digunakan dan kepada siapa ia diabdikan.
Unisa Yogyakarta juga menekankan lima nilai yang diharapkan tetap dibawa para lulusannya setelah meninggalkan kampus: akhlak, amanah, profesional, kolaboratif, dan unggul.
Suster Dulce membawa nilai itu dalam kisahnya sendiri. Ia datang dari Timor-Leste untuk belajar kebidanan. Ia menempuh pendidikan di kampus Islam. Ia hidup bersama orang-orang dengan latar belakang yang beragam.
Dan ketika toga wisuda dikenakan, yang dibawanya pulang bukan hanya gelar Magister Kebidanan.
Ada pengalaman tentang persaudaraan. Ada keyakinan bahwa ilmu pengetahuan dan pelayanan kemanusiaan dapat mempertemukan manusia yang berbeda.
Di situlah sebuah wisuda menjadi lebih dari sekadar seremoni. Ia menjadi perjumpaan. Dan dari perjumpaan itu, persaudaraan lintas iman menemukan ruangnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments