Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Bila Ajal telah Tiba

Iklan Landscape Smamda
Bila Ajal telah Tiba
Ilustrasi manusia di alam kubur (foto:ist/PWMU.CO)
Oleh : Zum'atun Kholifah Bendahara Nasyiatul Aisyiyah Ranting Pelangwot
pwmu.co -

Dewasa ini kita acap disibukkan oleh hingar bingar duniawi. Seolah ajal tiba dalam kurun waktu yang masih lama.

Animo kita terhadap dunia seakan menjanjikan kebahagian yang tiada tara. Lantas menjadikan kita alpha adanya fakta wal akhiratu khairun wa abqaa (Akhiratlah sebaik-baik tempat yang kekal).

Secara teologis dalam konteks Arab Ajal (عجل) bermakna ” batas waktu ” atau ” jangka waktu” hidup di dunia.

Batas usia makhluk termasuk manusia telah ditetapkan oleh Allah azza wa jalla saat berada di rahim Ibu, dan tercatat di lauh mahfudz.

Sebagaimana yang di jelaskan dalam hadits populer yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (No. 3208 ) dan Muslim ( No 2634. ) dari Abdullah bin Mas’ud RA tentang empat perkara.

Pertama, Rezeki (Rizquhu). Bahwa Allah telah menetapkan kadar rezeki setiap makhluk. Rezeki ini tidak hanya berupa uang atau harta. Tapi juga kesehatan, ketenangan hati, hingga ilmu yang bermanfaat. Jadi rezeki kita tidak akan tertukar dan tidak akan berhenti mengalir sampai ajal kita tiba.

Kedua, Ajal (Ajaluhu). Seperti yang kita bahas sebelumnya, bahwa ajal adalah batas waktu hidup seseorang di dunia. Ketetapan ini bersifat mutlak, tidak bisa dimajukan atau dimundurkan barang sedetik pun ketika saatnya tiba.

 Sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat 34. “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu (ajal); maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya”

Ketiga, Amal Perbuatan (‘amaluhu). Allah SWT telah mengetahui dan mencatat segala amal yang akan dikerjakan manusia selama hidupnya, baik itu amal kebajikan maupun keburukan. Namun, manusia tetap diberikan kehendak (ikhtiar) untuk memilih jalan hidupnya.

Keempat, Nasib Akhir (Saqiyyun aw Sa’id). Apakah seseorang tersebut termasuk golongan yang celaka (Saqiyyun) atau golongan yang berbahagia/beruntung (Sa’id) di akhirat kelak. Ini berkaitan dengan ketetapan akhir hayat seseorang (khusnul khatimah atau su’ul khatimah).

Secara implisit kita mengimani empat perkara ini adalah bagian dari rukun iman yang keenam. Yakni iman kepada qadha dan qadar.

Urgensi rukun iman keenam ini dalam kehidupan sangatlah banyak. Di antaranya kita menjadi optimis. Kita terus berusaha karena tidak tahu apa yang tertulis, sehingga bertindak sebaik mungkin.

Urgensi kedua, juga akan membuat kita tenang. Kita tidak terlalu cemas akan masa depan karena semua sudah dalam genggaman Sang Pencipta. Urgensi terakhir, menumbuhkan sikap rendah hati. Tidak sombong saat sukses, karena ada campur tangan takdir di dalamnya.

Ajal tiba tanpa memandang usia. Terkadang tiba saat manusia masih ada di dalam rahim ibunya, balita, remaja, dewasa bahkan renta sebagaimana yang tersirat di dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 185. “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”.

Ayat ini merupakan pengingat universal bahwa transisi dari dunia ke akhirat melalui kematian adalah fase yang pasti dilewati oleh setiap makhluk hidup.

Kematian tiba dalam pelbagai keadaan dan kejadian. Bahkan kita tidak pernah tahu di bumi mana kita akan meninggal. Yang tahu hanya Allah-lah Dzat yang Maha Tahu.

Sungguh tiada yang patut kita sombongkan di dunia. Toh, kita akan kembali dengan tangan kosong.

Ajal adalah bagian dari ilmu gaib yang hanya dimiliki Allah SWT. Sebelum ajal tiba, mari siapkan bekal amal kebaikan di dunia ini. Sebelum jasad kita terbujur kaku dan kembali ke tanah untuk selamanya. Karena bisa jadi hari ini adalah hari terakhir kita menghirup udara dunia. Wallahu ‘alam bis shawab.

 

Di balik detak yang kian menderu,

Ada batas yang tak terlihat oleh matamu.

 

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Bukan tentang siapa yang paling tangguh,

Namun tentang kapan waktu kan luruh.

 

Ia datang tanpa mengetuk pintu,

Tak peduli kau sedang di puncak atau di debu.

 

Bukan musuh yang datang untuk menghancurkan,

Hanyalah jembatan menuju keabadian.

 

Esensi hidup bukanlah pada lamanya,

Tapi pada jejak yang kau tinggal di dalamnya.

 

Saat urgensi waktu mulai terasa sesak,

Amal jualah yang bicara, takkan bisa mengelak.

 

Tak ada detik yang sanggup kau tunda,

Tak ada menit yang bisa kau beli dengan harta.

 

Ia adalah janji yang pasti kan tiba,

Memisahkan raga dari hiruk pikuk dunia.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡