Program penulisan Buku Tahunan Sekolah (BTS) bagi siswa kelas XII SMA Muhammadiyah 3 Batu tidak hanya menjadi penanda akhir masa belajar di bangku SMA, tetapi juga menjadi ruang strategis penguatan literasi siswa.
Melalui program ini, siswa tidak sekadar dikenang dalam foto dan catatan singkat, melainkan diajak untuk menyuarakan gagasan, perasaan, dan refleksi hidup mereka melalui tulisan. Inilah esensi literasi: kemampuan berpikir, menalar, mengekspresikan, serta merekam pengalaman secara bermakna.
Sejak tahun 2019, program BTS berjalan secara konsisten di bawah bimbingan guru Bahasa Indonesia, Khoen Eka Anthy, S.A., S.S., M.Pd. Program ini dirancang sebagai karya tulis kolektif siswa kelas XII yang diterbitkan menjelang perpisahan. Proses penulisannya melibatkan tahapan membaca, berdiskusi, menulis, menyunting, hingga menerbitkan karya, sebuah rangkaian literasi utuh yang melatih siswa menjadi pembelajar kritis, kreatif, dan reflektif.
Menurut Khoen Eka Anthy, menulis dalam bentuk buku memiliki makna yang jauh lebih mendalam dibandingkan sekadar unggahan di media sosial.
“Rekam jejak di media sosial saat ini sudah menjadi hal yang biasa. Namun, karya yang diwujudkan dalam bentuk buku akan menjadi bukti fisik tentang lahirnya sebuah proses berpikir dan berkarya. Buku adalah jejak yang nyata, dapat disentuh, dibaca ulang, dan diwariskan,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa kelak, ketika waktu telah berlalu dan ingatan mulai memudar, buku akan tetap hadir sebagai warisan berharga.
“Buku tidak hanya menyimpan cerita, tetapi juga menyimpan nilai, semangat zaman, dan suara generasi. Apa yang ditulis hari ini akan menjadi saksi bahwa para siswa pernah berpikir, bermimpi, dan berani menuangkannya dalam kata,” jelasnya.
Dukungan penuh terhadap proyek Buku Tahunan Sekolah juga datang dari Kepala SMA Muhammadiyah 3 Batu, Aris Sahruli, S.Pd.
Menurut beliau, program BTS bukan sekadar kegiatan seremonial akhir masa sekolah, melainkan investasi jangka panjang dalam pembentukan karakter dan budaya literasi siswa.
“Proyek penulisan buku tahunan sekolah ini memberi ruang kepada siswa untuk mengekspresikan diri secara positif dan produktif. Mereka belajar menuangkan gagasan, mengolah bahasa, serta menghargai proses,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Aris Sahruli menegaskan bahwa karya berbentuk buku memiliki nilai strategis bagi sekolah.
“Buku-buku BTS ini adalah wajah literasi SMA Muhammadiyah 3 Batu. Setiap terbitan menjadi bukti konkret bahwa sekolah mendorong lahirnya karya, bukan hanya mengejar angka dan nilai. Ini adalah arsip intelektual siswa yang kelak bisa dibaca lintas generasi,” tambahnya.
Oleh karena itu, ia berharap program BTS dapat terus berlanjut dan berkembang sebagai tradisi akademik yang membanggakan.
Hasil dari program BTS ini membuktikan bahwa budaya literasi di SMA Muhammadiyah 3 Batu terus tumbuh dan berkelanjutan. Setiap angkatan melahirkan karya dengan karakter dan warna yang berbeda, sesuai minat dan suara zamannya. Antologi yang terbit bukan hanya dokumentasi kenangan, melainkan juga rekam jejak literasi siswa dari tahun ke tahun.
Buku Hasil Karya Siswa
Adapun karya siswa kelas XII yang telah terbit melalui program BTS adalah sebagai berikut:
- Sajak untuk Pejuang (Antologi Puisi): karya Angkatan ke-34, terbit tahun 2019
- Seutas Kasih (Antologi Puisi dan Cerpen): karya Angkatan ke-35, terbit tahun 2020
- Goresan Warna Kisahku: karya Angkatan ke-36, terbit tahun 2021
- Sepenggal Warna Cerita: karya Angkatan ke-37, terbit tahun 2022
- Swastamita: Matahari ’Kan Tenggelam: karya Angkatan ke-38, terbit tahun 2023
- The Story of ’39: karya Angkatan ke-39, terbit tahun 2024
- Cita-Cita Harapan yang Tinggi: karya Angkatan ke-40, terbit tahun 2025
- Tentang 41 (Everything We Are): karya Angkatan ke-4, terbit tahun 2026.
Kehadiran buku “Tentang 41 (Everything We Are)” menjadi penanda bahwa literasi di SMA Muhammadiyah 3 Batu tidak berhenti sebagai program, tetapi telah tumbuh menjadi tradisi intelektual. Buku ini bukan hanya penutup perjalanan siswa kelas XII angkatan ke-41, melainkan juga warisan pemikiran dan karya yang akan terus hidup, dibaca, dan dimaknai lintas waktu dan generasi. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments