
PWMU.CO — Forum Imam of Training (IoT) menjadi salah satu sesi strategis dalam rangkaian kegiatan Pelatihan Instruktur Madya (PIM) DPD IMM Jawa Timur yang digelar di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida). Forum ini menghadirkan semangat intelektualitas dan religiusitas para peserta dalam menggali dan mempresentasikan gagasan kritis bertema “Muhammadiyah dan Sosial Budaya.”
Sebanyak 32 peserta terpilih dari seluruh Indonesia mengikuti forum ini sebagai bagian dari penguatan kapasitas instruktur madya. Mereka didorong untuk tidak hanya menguasai aspek teknis kaderisasi, tetapi juga mampu membaca realitas sosial secara kontekstual serta menyelaraskannya dengan nilai-nilai Islam dan Muhammadiyah.
Forum ini menghadirkan beberapa peserta unggulan seperti Lutfiana Rahma Nurjannah, Bayu Firmansyah, Daniel Oscardo, Farhan Taufiq Rachman, dan Norlin Zuriatmi, yang tampil menyampaikan refleksi ideologis mereka di hadapan peserta lainnya.
Dalam presentasinya, Lutfiana Rahma Nurjannah menegaskan pentingnya peran budaya dalam dakwah Muhammadiyah. “Muhammadiyah tidak hanya berdakwah lewat amal usaha, tapi juga harus mampu masuk ke ranah budaya. Budaya adalah medan dakwah yang paling dekat dengan hati masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Daniel Oscardo mengajak peserta untuk mengembangkan narasi Islam yang membumi. “Kita harus bisa merumuskan Islam yang membumi, dan itu tidak bisa dilepaskan dari pemahaman terhadap budaya lokal sebagai kekuatan sosial masyarakat,” katanya.
Dalam forum yang sama, Farhan Taufiq Rachman menyoroti kisah dari Universitas Muhammadiyah Ponorogo yang memanfaatkan mitos lokal seperti “naga” dalam perspektif pelestarian alam. Menurutnya, pendekatan budaya lokal yang penuh simbolik dapat menjadi jembatan nilai dakwah yang lebih diterima masyarakat.
Norlin Zuriatmi menegaskan bahwa Islam dan budaya bukan dua kutub yang harus dipertentangkan. “Justru ketika dikolaborasikan secara arif, dakwah Muhammadiyah bisa lebih menyentuh lapisan masyarakat,” ungkapnya.
Sebagai penutup, Bayu Firmansyah menyampaikan penguatan dalil atas pentingnya memahami budaya dalam bingkai syariat. Ia mengutip firman Allah dalam QS al-Hujurat: 13 yang artinya:
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
Bayu juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyikapi budaya melalui kaidah ushul fiqih:
درءُ المفاسد مقدمٌ على جلب المصالح
“Menolak kerusakan lebih diutamakan daripada menarik kemaslahatan.”
Forum IoT ini menjadi ruang strategis dalam mengasah pemikiran kritis peserta PIM agar mampu membawa nilai-nilai Islam berkemajuan ke dalam konteks sosial budaya masyarakat Indonesia yang majemuk. Dengan narasi-narasi yang tajam dan reflektif, para calon instruktur ini menunjukkan bahwa kader IMM siap menjadi penjawab zaman. (*)
Penulis Bayu Firmansyah Editor M Tanwirul Huda






0 Tanggapan
Empty Comments