Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Bukan Zaman Nabi, Awal Mula “Innallaaha Ya’muru bil ‘Adli wal Ihsaan” di Penutup Khutbah II Jum’at

Iklan Landscape Smamda
Bukan Zaman Nabi, Awal Mula “Innallaaha Ya’muru bil ‘Adli wal Ihsaan” di Penutup Khutbah II Jum’at
Ilustrasi Khutbah Jum'at (foto: lintasjatim/ist)

Para pembaca PWMU.CO pasti tidak asing dengan bunyi Surat An-Nahl ayat 90. Dalam setiap khutbah Jum’at kedua, hampir semua khatib membaca ayat ini sebelum turun mimbar. Persis saat akan menunaikan shalat Jum’at 2 rakaat. Setelah membaca ayat ini, khatib kadang langsung mengajak shalat “aqimuu al-shalat”. Terkadang juga membaca salam, baru mengajak shalat.

Innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsaani wa-iitaa-i dziil qurba wa yanha ‘anil fahsyaa-i wal munkari wal baghyi ya’izhukum la’allakum tadzakkaruun. Begitu bunyi ayat 90 surat an-Nahl itu.

Jika diterjemahkan, artinya sebagai berikut. Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat.

Dalam sejarah Islam, pembacaan surat an-Nahl: 90 bukanlah lahir sejak zaman Nabi Muhammad SAW masih hidup. Menurut berbagai riwayat, kebiasaan ini baru muncul pada tahun 91 Hijriyah atau 717 Masehi. Tepatnya, ketika Umar bin Abdul Aziz diangkat sebagai Khalifah Bani Umayyah.

Ketika Umar naik menjadi khalifah, persatuan umat Islam mengalami krisis yang besar. Salah satunya adalah cacian terhadap khalifah Ali bin Abi Thalib di mimbar-mimbar masjid saat khutbah Jum’at. Dan ini berlangsung sejak naiknya Muawiyah bin Sofyan (661-680 M) menjadi khalifah. 56 tahun kejadian itu telah berlangsung.

Sekedar flashbak, Muawiyah bin Abi Sufyan dan Ali bin Abi Thalib memang pernah terlibat peperangan sengit sesama umat Islam.  Perang saudara ini dikenal dengan perang Shiffin, terjadi pada tahun 657 M. Akhir perang, keduanya berdamai. Tapi saat Ali wafat pada 661 M, Muawiyah mendeklarasikan diri sebagai khalifah yang baru.

“Setelah terjadi pertentangan yang begitu hebat di antara golongan Ali dengan Mu’awiyah, yang berakhir dengan kemenangan Mu’awiyah… Lalu pada khutbah yang kedua di seluruh mimbar masjid yang dikuasai oleh Bani Umayyah, ditambahkanlah khutbah mengutuk Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Dan berlakulah yang demikian itu bertahun-tahun lamanya,” tulis Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka).

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

“Maka setelah jabatan khalifah jatuh ke atas diri Sayyidina Umar bin Abdul Aziz, beliau perintahkan menghentikan ucapan mencela dan mengutuk Ali bin Abi Thalib itu, dan beliau suruh menggantinya dengan ayat 90 dari surah an-Nahl ini,” terang Hamla dalam Tafsir al-Azhar Juzu’ XIII & XIV halaman 285.

Senada dengan Hamka, sejarahwan Muslim Khalid Muhammad Khalid juga menulis peristiwa ini. Dalam bukunya berjudul Biografi Khalifah Rasulullah, ia memasukkan Umar bin Abdul Aziz melengkapi 4 khalifah: Abu Bakar, Umar bin Khaththab,  Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

“Menjadi kebiasaanlah pada tiap-tiap khutbah Jum’at yang kedua menutupnya dengan ayat ini,” terang Hamka soal mentradisinya QS an-Nahl: 90 dijadikan sebagai penutup khutbah kedua Jum’at di dunia muslim. Termasuk di Indonesia.

Tidak heran jika Philip K. Hitti memberi perhatian lebih lebih pada sosok Umar bin Abdul Aziz saat mengomentari para khalifah Dinasti Umayyah. “Umar sepenuhnya berada di bawah pengaruh para teolog, dan selama berabad-abad dikenal dengan kesalehan dan kezuhudannya. Berbeda jauh dengan corak pemerintahan Umayyah yang dikenal sekular,” tulis Hitti dalam History of the Arabs.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡