Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Bukti Keberhasilan dan Dampak Pendekatan SPEAM

Iklan Landscape Smamda
Bukti Keberhasilan dan Dampak Pendekatan SPEAM
Oleh : Marjoko Anggota Majelis Pustaka dan Informasi Digital PDM Kota Pasuruan
pwmu.co -

Pada abad terakhir, pendidikan di seluruh dunia berkembang dengan satu cita-cita besar: mencerdaskan kehidupan bangsa.

Namun, di balik cita-cita luhur itu, tersimpan sebuah pola lama yang jarang disadari.

Sistem pendidikan modern yang kini menjadi arus utama sejatinya dibangun bukan untuk mencetak pemimpin atau pengusaha, melainkan untuk mencetak pekerja.

Konon sejarah mencatat bahwa pada masa Revolusi Industri di Amerika Serikat, para pemilik modal besar seperti John D. Rockefeller menaruh kepentingan besar pada sistem pendidikan.

Rockefeller, pengusaha minyak tersukses pada zamannya, menghadapi kesulitan mencari pekerja yang disiplin dan patuh terhadap aturan pabrik.

Maka, lahirlah sistem sekolah modern yang terstruktur, kaku, dan berorientasi pada kepatuhan.

Sekolah kemudian berfungsi sebagai tempat untuk membentuk karakter pekerja: datang tepat waktu, duduk rapi, mengikuti instruksi, serta tunduk pada sistem yang telah ditentukan.

Pola tersebut bertahan dalam satu abad terakhir dan diadopsi oleh banyak negara, termasuk Indonesia.

Tak mengherankan jika sebagian besar kini siswa tumbuh dengan pola pikir yang sama, yaitu: sekolah, kuliah, lalu mencari pekerjaan.

Sangat sedikit yang berpikir untuk membuka usaha atau menciptakan lapangan kerja.

Kurikulum pun banyak menekankan pada hafalan dan ujian, bukan pada kreativitas dan keberanian mengambil risiko.

Akibatnya, lulusan sekolah banyak yang cemerlang secara teori, tetapi ragu ketika harus memulai dari nol.

Menjadi pengusaha bermanfaat

Kondisi inilah yang kini mulai ditantang oleh berbagai lembaga pendidikan alternatif, salah satunya “Sekolah Entrepreneur Al-Ma’un” (SPEAM) Muhammadiyah Kota Pasuruan.

Lembaga ini hadir dengan semangat baru, mencoba mematahkan paradigma pendidikan lama yang berorientasi pada penciptaan pekerja.

SPEAM menegaskan bahwa pendidikan seharusnya menjadi jalan menuju kemandirian, bukan ketergantungan.

SPEAM lahir dari keyakinan bahwa Islam menempatkan kemandirian ekonomi sebagai bagian dari ibadah.

Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya adalah wirausahawan tangguh yang menjalankan bisnis dengan kejujuran dan keberanian.

Berdasarkan nilai itu, SPEAM merancang pendidikan yang menanamkan nilai-nilai keislaman sekaligus semangat kewirausahaan.

Para santri tidak hanya belajar membaca kitab, tetapi juga mempelajari bagaimana mengelola usaha, memahami pasar, dan membangun mental tangguh ketika menghadapi kegagalan.

Sehari-hari para santri SPEAM mendapat bimbingan agar mampu mengembangkan potensi diri dalam berbagai bidang.

Mereka mendapatkan bimbingan untuk memahami bahasa asing, mempelajari ilmu dan teknologi, serta mengasah keterampilan hidup (life skill).

Namun yang membedakan SPEAM dengan sekolah lain adalah pola pendekatan yang langsung terhadap dunia usaha.

Santri tidak hanya mempelajari teori bisnis, tetapi juga mengimplementasikan proyek usaha kecil sebagai bagian dari kurikulum.

Mereka berlatih mencari ide, merancang produk, memasarkan hasil, serta menghitung laba rugi secara konkret.

Filosofi yang diusung oleh SPEAM sangat sederhana namun mendalam yaitu sekolah tidak boleh sekadar menciptakan pencari kerja, tetapi harus lebih mencetak pencipta kerja.

Karena itu, Kepala SPEAM sering menyampaikan kepada santri bahwa menjadi pengusaha bukan berarti meninggalkan nilai-nilai agama.

Islam menekankan untuk bekerja keras dan mandiri karena merupakan bentuk ibadah yang tinggi nilainya.

SPEAM juga menentang cara pandang tradisional terhadap kegagalan. Ketika di banyak sekolah kegagalan dianggap sebagai aib, di SPEAM, hal itu justru dipandang sebagai bagian esensial dari proses belajar.

Santri diajarkan untuk tidak takut salah, berani mencoba, dan terus berinovasi.

Budaya ini menumbuhkan rasa percaya diri dan kemampuan berpikir kreatif, bekal penting untuk menghadapi dunia nyata yang penuh ketidakpastian

Selain menanamkan jiwa entrepreneur, SPEAM juga menekankan pentingnya integritas dan tanggung jawab sosial.

Mendorong santri untuk lebih paham bahwa menjadi pengusaha tidak hanya soal mencari keuntungan pribadi.

Menjadi pengusaha juga soal memberi manfaat bagi masyarakat. Maka harus mau belajar tentang etika bisnis, kejujuran dalam berdagang, serta pentingnya membangun usaha yang adil dan berkelanjutan.

Nilai kemandirian 

Semangat ini sejalan dengan nilai-nilai Muhammadiyah yang menjadi dasar berdirinya SPEAM.

Muhammadiyah sejak awal berdiri menekankan pentingnya kemandirian umat melalui pendidikan dan ekonomi.

SPEAM menjadi wujud nyata dari cita-cita itu, menggabungkan ilmu agama, pengetahuan modern, dan semangat wirausaha dalam satu kesatuan pendidikan.

Prestasi akademik para santri SPEAM membuktikan bahwa pendidikan berbasis kewirausahaan ( entrepreneur) tidak mengurangi kualitas intelektual.

Salah satu santri bahkan berhasil meraih medali perunggu dalam kompetisi sains tingkat nasional.

Capaian ini menunjukkan bahwa siswa dengan jiwa wirausaha justru mampu unggul dalam berbagai bidang.

Ini terjadi karena mereka terbiasa berpikir kreatif, memecahkan masalah, dan tidak takut menghadapi tantangan, keterampilan yang diasah melalui pendekatan unik SPEAM.

Langkah SPEAM ini menjadi contoh konkret bagaimana lembaga pendidikan dapat berperan dalam membalik arah sistem yang sudah berjalan ratusan tahun. Jika dulu pendidikan dirancang untuk melahirkan pekerja patuh, kini SPEAM berusaha melahirkan generasi mandiri yang berani mencipta dan memimpin.

Langkah SPEAM ini menjadi contoh konkret bagaimana lembaga pendidikan dapat membalik arah sistem yang telah berjalan seabad lebih.

Jika dahulu pendidikan dirancang untuk melahirkan pekerja patuh, kini SPEAM berupaya mencetak generasi mandiri yang berani mencipta dan memimpin.

Di tengah dunia yang berubah cepat, pendekatan ini menjadi sangat relevan.

Anak muda kini tidak hanya perlu dibekali ijazah, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, semangat wirausaha, dan keberanian mengambil langkah pertama di dunia nyata.

SPEAM menjadi bukti nyata bahwa perubahan paradigma pendidikan bukan sekadar utopia.

Dengan mengintegrasikan iman, ilmu pengetahuan, dan amal nyata, SPEAM menghasilkan generasi yang tangguh secara spiritual sekaligus kuat secara ekonomi.

Jika semangat ini diikuti lembaga lain, Indonesia berpotensi memiliki generasi baru yang tidak hanya berlomba mencari pekerjaan, tetapi juga aktif menciptakan lapangan kerja.

Pondok Pesantren SPEAM Kota Pasuruan telah memutus rantai panjang pendidikan ala John D. Rockefeller dan membuka jalan baru bagi masa depan pendidikan Indonesia yang lebih merdeka, produktif, dan berjiwa pengusaha.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu