Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Teori Elaborasi: Optimalisasi Menghadapi TKA 2026

Iklan Landscape Smamda
Teori Elaborasi: Optimalisasi Menghadapi TKA 2026
Oleh : Bening Satria Prawita Diharja M.Pd. Guru PJOK SMP Muhammadiyah 1 Gresik

Pada periode April hingga Mei 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Republik Indonesia menyelenggarakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi siswa kelas IX jenjang SMP/MTs.

Ujian berbasis komputer (Computer Based Test/CBT) yang berfokus pada literasi dan numerasi ini bertujuan untuk mengukur capaian akademik secara objektif dan terstandar nasional.

Selain memetakan mutu pendidikan, hasil TKA menjadi bahan evaluasi pembelajaran, memberikan informasi mengenai kekuatan (strengths) serta kelemahan (weaknesses) proses belajar siswa, sekaligus menjadi validator nilai rapor untuk seleksi jalur prestasi ke jenjang SMA.

Namun, pelaksanaan TKA memicu beragam respons.

Berdasarkan observasi penulis di sekolah, keluhan yang paling sering muncul adalah keterbatasan waktu pengerjaan.

Hal ini kemungkinan terjadi karena dalam proses pembelajaran di kelas, siswa terbiasa membaca soal layaknya membaca novel—membaca pelan dari kalimat pertama hingga terakhir—sehingga waktu terbuang sia-sia.

Kondisi ini kian parah oleh rendahnya pemahaman konsep yang membuat hasil ujian menjadi kurang memuaskan.

Problematika ini lazim dialami peserta didik di era 5.0 (human-centric).

Di dunia pendidikan yang menuntut kecepatan dan kepraktisan, kemampuan pemecahan masalah kompleks, berpikir kritis, dan kreativitas menjadi keterampilan utama.

Namun, data BPS (2023) menunjukkan masih adanya kesenjangan (gap) pemahaman numerasi dan literasi siswa di Indonesia yang perlu ada peningkatan secara progresif.

Sebagai pendidik, kita harus mencari solusi agar siswa mampu menghadapi TKA dengan hasil maksimal.

Kita tidak bisa memungkiri bahwa generasi ini sempat mengalami learning loss akibat pandemi COVID-19, di mana mengganti pembelajaran tatap muka dengan sistem daring.

Oleh karena itu, pengajar perlu menyesuaikan strategi agar lebih mudah menyerap materi , salah satunya melalui penerapan Teori Elaborasi.

Teori Elaborasi yang dikembangkan oleh Charles Reigeluth (1979) bertujuan membangun struktur kognitif yang stabil dengan menghubungkan pengetahuan baru (memori jangka pendek) ke materi yang sudah dipahami sebelumnya (memori jangka panjang).

Konsep ini diperkuat oleh Profesor Stella Christie, pakar cognitive science sekaligus Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Penelitiannya menyebutkan bahwa model pembelajaran elaboratif sangat efektif di berbagai jenjang (SD hingga SMA) karena melatih otak mentransfer informasi ke memori jangka panjang secara permanen.

SMPM 5 Pucang SBY

Teknik elaborasi dilakukan dengan cara meminta siswa membuat catatan pribadi menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, kemudian menjelaskan kembali materi tersebut kepada orang lain.

Metode ini terbukti lebih efektif membantu penyerapan materi daripada sekadar membaca pasif.

Elaborasi sangat relevan saat ini karena selaras dengan konsep pembelajaran mendalam yang bersifat mindfulness, joyfulness, dan meaningfulness.

Sebagai contoh, dalam pelajaran PJOK materi dribbling basket, guru dapat menunjukkan video atau mempraktikkan contoh gerakan yang salah.

Kemudian meminta siswa untuk menganalisis, mencari referensi gerakan yang benar, menuliskannya dalam langkah-langkah kerja, lalu mempresentasikannya kepada teman sebelum praktik lapangan.

Pendekatan ini menumbuhkan pemahaman mendalam karena siswa terlibat aktif dalam menganalisis masalah dan mendesain solusi.

Begitu pula dalam pelajaran Biologi tentang ekosistem.

Guru dapat mengajak siswa mengamati lingkungan sekitar secara langsung.

Dengan melihat interaksi organisme dan rantai makanan secara riil, pembelajaran menjadi lebih bermakna karena terhubung dengan kondisi nyata.

Siswa yang memiliki kompetensi literasi dan numerasi yang matang melalui teknik elaborasi tidak akan terintimidasi oleh soal berstandar HOTS (High Order Thinking Skills).

Strategi yang tepat dapat mengatasi wacana panjang atau data statistik rumit dalam TKA: membaca pertanyaan terlebih dahulu, menentukan kata kunci, memindai informasi terkait, lalu mengeksekusi jawaban dengan cepat.

Secara keseluruhan, TKA hadir sebagai instrumen evaluasi akademis yang objektif untuk mendukung pengembangan diri siswa dan meningkatkan standar pendidikan nasional.

Melalui pendekatan mengajar yang inovatif seperti teori elaborasi, target peningkatan mutu literasi dan numerasi nasional dapat tercapai dengan lebih optimal.

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 11/04/2026 17:43
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu