Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi – 73

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi – 73

Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab V berjudul “Muhammadiyah Masa Kebangkitan (1956-2004)”, halaman 212 s/d sebagian 216.

Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 72

***

Halaman 212

Cabang Tugu membawahi Ranting-ranting dan tahun berdirinya: Gondang (1964), Pucang Anak (1967), Dermosari (1967), Tumpuk (1967), Tegaren (1967), Gading (1992), Jambu (1968), Winong. {94} Sementara di Cabang Durenan pada 1987-2005 dipimpin Drs. Sajuri (tiga periode, 1987-2001), H. Selanuddin (2001-2006). Ranting-rantingnya: Kamulan (1963), Durenan (1987), Ngadirejo (1987), Ngadisuko (1987), Gador (1987). {95}

PCM Panggul dipimpin Harijadi (1964-1969), Suharno (1969-1974), Moh. Ismail (1974-2001), Drs. Sukamdah (2001-sekarang). Ranting-ranting dan tahun berdirinya meliputi: Panggul (1963), Wonocoyo (1967), Kertosono (1967), Manggis (1967), Bodag (1967), Barong (1967), Nglebeng (1967). {96} PCM Pule membina 5 ranting: Pule (1967), Jombok (1967), Sukokidul (1980-an), Karanganyar (1980-an), Tanggaran (1980-an). {97} Cabang Munjungan,

Halaman 213

meliputi Ranting Munjungan (1966), Bangun (1966), dan Masaran (1995). Sedangkan Cabang Pogalan berdiri sejak 1926. Ranting-ranting dan tahun berdirinya: Ngadirejo (19087), Bendorejo (1990), Pogalan (1991). Ranting Gadirejo semula di Cabang Durenan, setelah terbentuk PCM Pogalan pindah ke Pogalan. {98}

  1. Kabupaten Lamongan

Muhammadiyah Lamongan baru eksis sekitar 1950. Sampai dengan 1960 gerakannya masih terbatas pada bidang pendidikan. Penyebaran benih Muhammadiyah ke beberapa Kecamatan seperti Tikung, Deket, Sukodadi dan Sekaran (Desa Parengan) dilakukan Pandu HW. {99} Pada awal berdirinya, tidak ada reaksi dari pihak lain karena sebagian perintis dan pemrakarsanya berlatar belakang keluarga NU. {100}

Kondisi ini berubah tatkala Muhammadiyah mengalami perkembangan sesudah Partai Masyumi bubar tahun 1960. Banyak anggota militan dari Masyumi di desa-desa bergabung dengan Muhammadiyah sebagai wahana penyaluran aktivitas dakwah. Selain sebagian lainnya menggabungkan diri kepada NU. {101}

Bersamaan dengan tumbuh kembangnya Muhammadiyah di kecamatan dan desa-desa (1960-1966), muncul reaksi keras dari kelompok masyarakat yang berpaham keagamaan tertentu. Perdebatan masalah furu’iyah kembali merebak seperti yang terjadi pada masa-masa kampanye Pemilu 1955, terutama di Sukodadi dan Pucuk. {102}

Konflik yang dipicu sentimen lama “masalah furu’iyah” menyebabkan terbelahnya umat di desa-desa dalam hal tempat ibadah. Hampir di semua desa di Kecamatan Sukodadi dan Pucuk berdiri dua masjid. Umumnya kelompok Muhammadiyah keluar dari masjid desa dan mendirikan masjid atau mushalla sendiri. {103}

Lamongan resmi menjadi Cabang baru pada 11 Mei 1953 dengan SK PP Muhammadiyah No. 1024. Menyusul Cabang Jatisari, 2 Mei 1961 dengan nomor SK. 1481. Sebelumnya, Lamongan berada dalam pembinaan PDM Bojonegoro. Dalam Konferensi Daerah pada 1966, R. H. Moelyadi terpilih menjadi ketua.

Berdasarkan SK Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor: C.076/D-13 tanggal 11 September 1967, Muhammadiyah Lamongan resmi berstatus Daerah, dengan lima cabang, yakni Lamongan, Babat, Jatisari (Glagah), Pangkatrejo, dan Blimbing. {104}

Halaman 214

Muhammadiyah cabang Babat berdiri 4 Pebruari 1962 dengan SK Pimpinan Pusat Nomor: 1552. Perkembangan gerakan ini dimulai dari pendirian SMP dan Balai Pengobatan. Sedangkan dakwah penyebaran paham pembaharuan sendiri mengikuti belakangan semata-mata untuk menghindari gejolak sosial karena daerah Babat ketika itu cukup rawan dan sensitif atas pembaharuan paham keagamaan. Para pendirinya kebanyakan berasal dari kaum pedagang yang memiliki mobilitas tinggi dan akses dana yang kuat. {105}

Setahun kemudian menyusul Pangkatrejo. Muhammadiyah secara resmi berdiri pada tanggal 27 Juli 1963 dengan SK Pimpinan Pusat No. 1707. Sekalipun Pangkatrejo hanya sebuah desa tetapi industri pertenunan di sini pada 1950-an cukup maju, tata lingkungan dan bangunan rumah-rumah sudah bersuasana kota dan mobilitas masyarakatnya lumayan tinggi.

Pendirinya H. Mahzumi bersama saudaranya H. Mahmud yang berasal dari Desa Pringgoboyo. Berdirinya Muhammadiyah didahului Pandu HW yang dirintis oleh Abd. Hamid Kadir dan kawan-kawannya. {106} Cabang ini mempunyai 15 Ranting dan sudah memperoleh pengesahan. {107}

Cabang Blimbing berdiri pada 1 Pebruari 1964 dengan nomor Surat Keputusan Pimpinan Pusat No. 1796. {108} Blimbing merupakan

SMPM 5 Pucang SBY

Halaman 215

basis Muhammadiyah di pantai utara Lamongan, gerakannya dimotori oleh ulama dengan dukungan para pedagang. Konferensi Cabang Blimbing tanggal 26 Agustus 1962 secara aklamasi memilih K.H. Ahmad Adnan Noer sebagai ketua dan K.H. Ridlwan Syarkawi sebagai wakilnya.

Dua ulama kharismatis ini didampingi dua tokoh terpelajar Abdul Karim dan H. Erfan Jakfar. Posisi bendahara diserahkan kepada dua pedagang kuat H. Umar Fauzi dan H. Sholihin. Kini Cabang Blimbing berubah menjadi Cabang Paciran dan telah memiliki ranting di semua desa di wilayahnya. {109}

Musyda 1978 menetapkan KH. Abdurrahman Syamsuri sebagai ketua. Ia menjabat selama dua periode 1978-1990. Pada periode ini struktur organisasinya sudah dilengkapi dengan badan pembantu pimpinan. Seperti Majelis Pendidikan dan Kebudayaan, Pustaka, PKU, Tabligh, Tarjih, Wakaf, Pengkaderan, BPK AMM, dan Pembina Karyawan.

Konsolidasi organisasi dilakukan sampai ke cabang dan ranting. Penataan struktur organisasi dilakukan seiring dengan perkembangan struktur pemerintahan, seperti PCM Janti menjadi PCM Glagah dan PCM Karangbinangun, PCM Blimbing menjadi PCM Paciran dan PCM Brondong. Sementara PCM Pangkatrejo tetap, belum diubah menjadi PCM Sekaran.

Di akhir kepemimpinan periode ini jumlah cabang meningkat menjadi 20, ranting 255 dengan jumlah anggota yang ber-KTA sebanyak 11.519 orang, tidak ber-KTA 24.150 orang. {110}

Kepemimpinan berikutnya (1990-1995) dipegang K.H. Abdul Fatah yang terpilih pada Musyda di Babat pada 28-29 September 1991. Dalam periode ini kantor sekretariat pindah ke Jalan Lamongejo 109-111 Lamongan. Di kantor ini juga semua ortom bermarkas. Untuk mengaktifkan kegiatan kesekretariatan, diangkat seorang tenaga eksekutif. Kegiatan pengajian pimpinan diadakan secara rutin dengan mengundang pimpinan wilayah maupun pusat.

K.H. Abdul Fatah terpilih kembali menjadi ketua untuk periode kedua melalui Musyda tahun 1996. Karya monumental selama masa kepemimpinan Kyai Fatah, antara lain berwujud Rumah Sakit Muhammadiyah dan Kantor PDM di Lamongrejo. {111}

Tongkat estafet kepemimpinan kemudian beralih ke K.H. Afnan Anshori (2000-2005) yang terpilih dalam Musyda di Pondok Modern

Halaman 216

Muhammadiyah Paciran 2001. Pada masa ini terbentuk cabang dan ranting baru, di kawasan selatan. {111}

  1. Kabupaten Tuban

Serangkaian perubahan pengurus terjadi pada 1950 akibat beberapa pengurus intinya pindah tempat tinggal karena kedinasan dan kepentingan keluarga. Misalnya, Saleh Umar Bayasut diangkat menjadi pegawai Departemen Agama dan ditugaskan di Bojonegoro; kemudian dimutasi ke Surabaya.

Kendali organisasi akhirnya dipegang wakil ketua Aid El Yamani. Setelah Muh. Munawir yang menjabat sekretaris pindah ke Jogjakarta, diganti Muhammad Umar Bayasut. Bendahara diganti Muhammad Martak. Pada 1960 dilakukan perubahan kepengurusan dengan ketua A.A. Ghozali dibantu Muhammad Bakri, Abdul Jabbar, dan Abdullah Hidayat.

“Musyawarah Luar Biasa” antara anggota-anggota Muhammadiyah, Aisyiyah dan Pemuda Muhammadiyah Cabang Tuban melahirkan keputusan penting. Struktur kepengurusan baru yang dihasilkan sebagai berikut: Ketua Moehammad Oemar Tauchid. Wakil Ketua I dan II: K. Moehammd Zoehri dan Abdul Wahab Nurhadi. Sekretaris I dan II: Moehammad Umar Bayasut dan Ahmadi Ms. Bendahara I & II: Ghozali dan Muntahir Syujak. Pembantu Umum: Nurjono Basyar, Adia, dan Salim Lahdji, serta R. Soentoro sebagai Penasehat. Dilengkapi bagian PKU, Pangajaran, Tabligh, dan Aisyiyah.

***

Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 18/07/2026 15:01
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu