Kepedulian terhadap masa depan Muhammadiyah mendorong kader muda asal Sidoarjo, Punto Cahyo Al Adin, M.Pd., C.ITQ, ikut menuangkan gagasannya dalam buku Reinventing Muhammadiyah 2026.
Kader yang akrab disapa Adin itu mendapat kesempatan menjadi salah satu penulis buku yang menghimpun gagasan positif dari pimpinan dan kader Muhammadiyah untuk pengembangan persyarikatan ke depan.
Salah satu gagasan yang diangkat berkaitan dengan penguatan amal usaha dan amal usaha akademik serta langkah Muhammadiyah dalam mengawal para pemimpin bangsa.
Adin merupakan kader yang tumbuh melalui Pemuda Muhammadiyah. Saat ini, ia aktif di Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sidoarjo sebagai Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat.
Dia juga menjadi Wakil Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Cemengbakalan yang membidangi Majelis Kader dan Tabligh.
Kesempatan menulis buku tersebut bermula dari informasi di media sosial mengenai ajakan kepada kader Muhammadiyah untuk menyampaikan autokritik yang konstruktif bagi masa depan persyarikatan.
Ajakan tersebut kemudian mengantarkan Adin mengikuti proses penulisan hingga akhirnya mendapat undangan untuk menghadiri peluncuran buku di Yogyakarta.
Peluncuran Reinventing Muhammadiyah 2026 digelar di lingkungan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jalan KH Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Rabu (30/9/2026). Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan bedah buku, diskusi, dan apresiasi kepada para penulis.
Adin hadir sebagai salah satu perwakilan kader dari Sidoarjo. Dalam buku tersebut, dia menuangkan sejumlah gagasan mengenai penguatan kader Muhammadiyah agar semakin tangguh menghadapi berbagai persoalan yang berkembang.
“Kaderisasi menjadi salah satu hal penting yang perlu terus mendapat perhatian Muhammadiyah,” katanya.
Kader tidak hanya perlu memiliki pemahaman keislaman dan kemuhammadiyahan, tetapi juga harus memiliki kesiapan menghadapi perubahan dan berbagai persoalan di tengah masyarakat.
“Harapannya, buku Reinventing Muhammadiyah ini bisa dicetak lebih banyak sehingga dapat memberikan motivasi bagi kader-kader muda Muhammadiyah lainnya,” kata Adin.
Dia berharap gagasan yang dihimpun dalam buku tersebut tidak berhenti sebagai tulisan, tetapi dapat menjadi bahan refleksi dan pemantik diskusi bagi warga Muhammadiyah.
“Keterlibatan kader muda dalam menyampaikan gagasan merupakan bagian dari ikhtiar merawat dan mengembangkan Muhammadiyah,” jelas Adin.
Autokritik yang disampaikan secara konstruktif, menurutnya, dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat gerak persyarikatan di masa mendatang.
Keterlibatan Adin dalam Reinventing Muhammadiyah 2026 sekaligus menunjukkan bahwa gagasan tentang masa depan Muhammadiyah tidak hanya lahir dari struktur pimpinan, tetapi juga dari kader di tingkat cabang dan ranting. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments