Pemandangan menarik tersaji dalam pelaksanaan Baitul Arqam PCM Karangbinangun bertema “Meneguhkan Ideologi, Spirit Islam Berkemajuan, dan Meningkatkan Loyalitas” yang digelar di Agro Mulia, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu–Ahad (1–2 Agustus 2026).
Sebanyak 51 peserta mengikuti kegiatan ini dengan semangat tinggi, termasuk saat menghadapi tantangan baru berupa asesmen berbasis digital.
Sesi asesmen menggunakan telepon genggam menjadi salah satu momen yang paling berkesan. Di awal pelaksanaan, sebagian besar peserta yang didominasi kader senior tampak canggung. Mereka lebih terbiasa mengerjakan soal menggunakan kertas dan bolpoin daripada melalui layar ponsel.
Namun, rasa canggung itu perlahan sirna. Dengan pendampingan para instruktur yang sabar, telaten, dan penuh perhatian, peserta dibimbing satu per satu hingga berhasil masuk (login) melalui tautan yang dibagikan di grup WhatsApp.
Setelah berhasil mengakses soal, suasana pun berubah. Wajah-wajah yang semula dipenuhi keraguan berganti menjadi penuh percaya diri. Para peserta tampak serius membaca setiap pertanyaan, sesekali berdiskusi singkat, lalu kembali fokus menyelesaikan asesmen melalui telepon genggam masing-masing. Ruangan dipenuhi atmosfer belajar yang tenang, tertib, sekaligus antusias.
Salah seorang peserta, Hj. Ratna P., mengaku mendapatkan pengalaman baru yang sangat berharga.
“Mengisi soal-soalnya harus benar-benar teliti dan dibaca dengan saksama. Dulu kami terbiasa mengerjakan soal menggunakan kertas dan bolpoin, sekarang memakai HP. Awalnya memang terasa sulit, tetapi setelah dipandu ternyata bisa. Justru ini menjadi pengalaman baru yang menyenangkan,” tuturnya.
Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa usia bukanlah penghalang untuk terus belajar dan mengikuti perkembangan zaman. Semangat para peserta menunjukkan bahwa kader Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tetap memiliki kemauan kuat untuk meningkatkan kapasitas diri, termasuk dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Keberhasilan sesi asesmen digital ini tidak lepas dari pendekatan humanis para instruktur. Kesabaran dalam mendampingi peserta satu per satu mampu mengubah rasa canggung menjadi kepercayaan diri. Bahkan, banyak peserta terlihat menikmati proses belajar hingga asesmen selesai dilaksanakan dengan lancar.
Momen ini menjadi cerminan bahwa transformasi digital di lingkungan Persyarikatan dapat berjalan secara inklusif ketika dibangun di atas semangat saling membimbing, kesabaran, dan budaya belajar sepanjang hayat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments