Kiprah kader Muhammadiyah kembali terlihat di forum profesional tingkat nasional. Dr. Indra Nur Fauzi, M.Si., Ketua Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, tampil sebagai salah satu pembicara dalam GRC Summit 2026 di Hotel Tentrem Yogyakarta, Jakarta, 20–21 Agustus 2026.
Mengusung tema “Sustainability by Design: A Journey Through Intelligent GRC”, forum tersebut mempertemukan para pemimpin, profesional, dan praktisi Governance, Risk, and Compliance (GRC).
Sejumlah isu strategis menjadi pembahasan, mulai dari tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan, kecerdasan buatan (AI), hingga keberlanjutan.
Kehadiran Indra menjadi representasi kiprah kader Muhammadiyah Jawa Timur dalam forum yang membahas isu governance, risk, dan compliance tersebut.
Dalam forum itu, Indra menekankan bahwa tata kelola organisasi tidak semestinya hanya dimaknai sebagai pemenuhan regulasi. Menurutnya, governance perlu menjadi budaya yang melekat dalam setiap proses pengambilan keputusan.
“Governance bukan sekadar aturan yang tertulis. Governance harus menjadi budaya dalam setiap proses pengambilan keputusan,” ujar Indra.
Selain tata kelola, ia menyoroti pentingnya manajemen risiko di tengah lingkungan bisnis yang semakin dinamis. Organisasi yang kuat, menurutnya, bukan organisasi yang terbebas dari risiko, melainkan yang mampu mengenali dan mengelolanya secara tepat.
“Risiko tidak selalu bisa dihilangkan, tetapi dapat dikelola. Karena itu, organisasi harus memiliki kemampuan untuk mengenali risiko sebelum berubah menjadi masalah,” jelasnya.
Indra juga membawa gagasan mengenai Intelligent GRC dalam forum tersebut. Perkembangan AI dinilai membuka peluang bagi organisasi untuk memperkuat proses identifikasi risiko, pengambilan keputusan, hingga pengawasan.
Meski demikian, pemanfaatan teknologi tetap harus berjalan dalam koridor tata kelola dan akuntabilitas.
“Teknologi dapat membantu organisasi membaca risiko dan mengambil keputusan dengan lebih cepat. Tetapi, prinsip akuntabilitas tetap menjadi fondasi yang tidak boleh ditinggalkan,” katanya.
Ia juga mendorong agar GRC tidak berhenti pada kepatuhan administratif. Tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan harus memberikan kontribusi terhadap penciptaan nilai bagi organisasi dan masyarakat.
“GRC harus bergerak dari sekadar compliance menuju value creation. Tata kelola dan manajemen risiko harus ikut mendorong organisasi menciptakan nilai,” ungkapnya.
Bagi Indra, prinsip keberlanjutan juga tidak dapat dipisahkan dari tata kelola yang baik. Sustainability membutuhkan governance yang kuat, manajemen risiko yang baik, serta kepemimpinan dengan visi jangka panjang.
“Sustainability tidak bisa berdiri sendiri. Ia membutuhkan governance yang kuat, manajemen risiko yang baik, dan kepemimpinan yang memiliki visi jangka panjang,” tuturnya.
GRC Summit 2026 turut menghadirkan sejumlah tokoh nasional, di antaranya Jeffrey Siregar, Executive Director KNKG dan IKAI; Erry Riyana Hardjapamekas, mantan Wakil Ketua KPK; Hariyadi Ramelan, Direktur dan CFO Lintasarta serta mantan Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI; Charles R. Vorst, Ketua Asosiasi Profesional Manajemen Risiko Indonesia; serta Lee Dittmar, Co-Founder Infinity Data AI.
Di tengah deretan pembicara tersebut, kehadiran Indra menunjukkan kiprah kader Muhammadiyah yang tidak hanya berada di ruang organisasi dan sosial keumatan, tetapi juga mengambil bagian dalam forum profesional yang membahas isu strategis nasional dan global.
Sebagai Ketua Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata PWM Jawa Timur, ia membawa perspektif tentang pentingnya profesionalisme, tata kelola, dan keberlanjutan dalam kehidupan ekonomi dan bisnis.
Kehadiran Indra sekaligus menunjukkan ruang kaderisasi Muhammadiyah dalam melahirkan sumber daya manusia yang dapat berkiprah lintas bidang dan tampil di forum nasional.
Menurutnya, kesadaran mengenai tata kelola dan risiko perlu tumbuh di seluruh lini organisasi agar mampu menghadapi perubahan.
“GRC harus menjadi tanggung jawab bersama. Ketika kesadaran tata kelola dan risiko tumbuh di semua lini, organisasi akan lebih siap menghadapi perubahan,” pungkas Indra.
Penampilan Indra dalam GRC Summit 2026 menjadi catatan bagi PWM Jawa Timur. Dari Jawa Timur, kader Muhammadiyah kembali membawa gagasan dan kompetensinya ke forum nasional yang mempertemukan para pemikir serta praktisi di bidang tata kelola, risiko, dan kepatuhan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments