Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buya Syafii Meneladani Kita, Bukan Kita Meneladani Buya Syafii

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -
Kita Disentil Allah agar Tak Lupa Diri, Refleksi Idul Fitri, ditulis oleh Mohammad Nurfatoni, Pemimpin Redaksi PWMU.CO, alumnus Pendidikan Biologi FPMIPA IiKP Surabaya.
Mohammad Nurfatoni (sketsa foto oleh Atho’ Khoironi/PWMU.CO)

Enak di Kuping Bukan Selalu Benar

Dengan koreksi dan mengecek kembali KBBI, maka judul berita di atas seharusnya: Meneladan Buya Syafii yang Bersahaja dalam Bineka Fest. Karena yang dimaksud oleh judul berita ini kita mencontoh Buya Syafii. 

Maka dengan besar hati, saya, selain berterima kasih, juga minta maaf telah melakukan kesalahan ini. 

Tentu, ada hikmah di balik ini: kita harus banyak membaca, termasuk membaca kamus—sesuatu yang sebenarnya juga sering saya anjurkan pada teman-teman editor lain dan para kontributor PWMU.CO.

Kita tidak boleh merasa paling tahu dan oleh karena itu harus banyak belajar: belajar apa saja. Yang juga perlu disadari, meski banyak digunakan dalam percakapan atau tulisan sehari-hari, sesuatu yang terasa nyaman didengar atau dibaca tidak selamanya benar. 

Seperti kata pewaris yang banyak digunakan untuk merujuk pada orang yang mendapat warisan (ahli waris). Padahal pewaris adalah orang yang mewariskan. Karena itu tidak benar jika ada ungkapan ‘ulama adalah pewaris para nabi.’

Jadi, kembali ke judul di atas, yang benar—meski terasa janggal di telinga dan mata—Buya Syafii meneladani kita, bukan kita meneladani Buya Syafii. (*)  

Iklan Landscape UM SURABAYA

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu