Di aula megah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Udayana, Denpasar, Kamis (21/8/2025), sorot lampu, alunan gamelan yang lirih, dan senyum-senyum haru memenuhi ruangan.
Ratusan wajah bahagia para orang tua tampak menanti detik paling bersejarah: saat putra-putri mereka mengenakan toga dan resmi menyandang gelar sarjana.
Di antara lautan kebahagiaan itu, hadir sosok Feri Is Mirza. Dia seorang jurnalis senior sekaligus aktivis Muhammadiyah.
Feri adalah putra dari HM Gazali Dalimunthe (almarhum), Pembina Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan (PSHW), klub sepak bola milik Muhammadiyah. Ibunya, Siti Nur Laela Lubis, merupakan salah satu pendiri TK Bustanul Athfal di Ampel Kusumba Pasar 37, Surabaya.
Hari itu, Feri datang dengan penuh haru untuk mendampingi putri bungsunya, Shinta Rella Annisa.
Dengan langkah tenang, ia naik ke podium untuk menyampaikan sambutan mewakili wali wisudawan. Rasa bangga, syukur, dan sedikit gugup campur menjadi satu.
Hari itu bukan sekadar perayaan akademik, melainkan penanda perjalanan panjang cinta seorang ayah kepada putri bungsunya yang meraih predikat lulusan terbaik dengan IPK 3,97.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Om Swastyastu, selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semua…” suara Feri bergetar, namun tetap tegas.
Sebelum memperkenalkan diri, ia memilih membuka pidatonya dengan pantun jenaka:
“Makan rujak cingur di Surabaya,
Besoknya ke Pantai Kenjeran.
Meskipun umur sudah tak sebaya,
Bisalah saya berkenalan.”
Tawa ringan pun pecah dari hadirin. Feri kemudian memperkenalkan dirinya sebagai ayah dari Shinta, lalu meminta sang istri, Siti Nur Indah, berdiri.
“Puji syukur, setelah perjalanan panjang penuh tantangan, akhirnya ananda Shinta bisa berada di momen ini,” ujarnya.
Bagi Feri, pidato itu bukan sekadar sambutan seremonial. Ia seakan menuturkan kembali jejak langkahnya, dari masa muda hingga kini, menyaksikan buah hatinya menggenapkan harapan keluarga.
***
Shinta, lulusan terbaik Program Studi Hubungan Internasional Fisip Universitas Udayana, mengukir prestasi akademik nyaris sempurna: cumlaude dengan IPK 3,97. Sebuah pencapaian yang membuat banyak pasang mata terperangah, sekaligus memantik nostalgia sang ayah.
“Kalau dulu saya di Fisip HI, IPK saya cuma 2,9. Tapi yang penting ijazahnya asli, asli, asli…” Feri berseloroh selepas acara, disambut gelak tawa para sahabatnya yang hadir.
Candaan itu justru menyiratkan kebanggaan tersendiri. Sebab, meskipun angka IPK berbeda jauh, baik sang ayah maupun putrinya sama-sama menorehkan kisah yang sahih dalam sejarah keluarga: Feri pernah menjejak bangku kuliah di jurusan yang sama, dan kini Shinta melanjutkan estafet dengan prestasi gemilang.
“Setiap peristiwa tak pernah bertanya tentang luka, dia hanya ingin tahu bagaimana seseorang sukses!” ucap Feri, sembari menyeka sudut matanya.
Pidato Feri di podium pun ditutup dengan pantun penuh makna:
“Menyusur Ubud penuh budaya,
Menyesap kopi di tengah sawah nan kaya.
Langkah kalian baru saja bermula,
Bawalah nilai, akal, dan nurani sebagai cahaya.”
Dia menambahkan, sebagaimana Bali memikat dunia dengan keindahan dan kearifan, para lulusan Fisip Universitas Udayana diharapkan mampu memikat dunia dengan kecerdasan dan kebijaksanaan.
“Dunia menanti bukan hanya pemimpin, tapi juga pembawa makna,” tegasnya.
Pesan itu terasa bukan hanya untuk para wisudawan, melainkan juga refleksi hidupnya sendiri. Bahwa ilmu tanpa nurani hanyalah angka, sementara kebijaksanaan adalah cahaya yang membimbing langkah.
Ketika nama Shinta dipanggil dan ia berjalan mantap menerima ijazah, tepuk tangan bergemuruh.
Dari bangku tamu, Feri berdiri paling cepat. Senyumnya tak bisa disembunyikan. Di balik sorot matanya, jelas tergambar bahwa hari itu bukan sekadar wisuda, melainkan puncak kebahagiaan seorang ayah yang pernah muda, pernah berjuang, dan kini menyaksikan perjuangan itu dilanjutkan dengan lebih indah oleh anaknya.
Dan di akhir hari, ketika toga sudah dilepas, bunga sudah dibagikan, dan aula perlahan sepi, Feri menepuk bahu putrinya.
“Setiap peristiwa tak pernah bertanya tentang luka, ia hanya ingin tahu bagaimana seseorang sukses!”
Sebuah kalimat yang mungkin akan diingat Shinta selamanya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments