Ada kisah yang begitu dalam, ketika seseorang menutup hidupnya dengan amal yang abadi. Kisah itu datang dari Dr. Arfan Fahmi, SS, M.Pd, cucu dari pahlawan nasional KH. Mas Mansur.
Sebelum berpulang, dia sempat menunaikan ikrar wakaf tanah, sebuah warisan yang tak hanya berbentuk materi, melainkan juga ruh pengabdian yang akan terus hidup dalam denyut pendidikan dan dakwah.
Sekretaris Yayasan KH Mas Mansur, Iqbal Qurusy, mengungkapkan kepada PWMU.CO, Ahad (7/9/2025), tanah dan rumah yang diwakafkan itu terletak di Jalan Kalimas Udik IC/3, Surabaya. Luasnya 99 meter persegi.
Kini, rumah tersebut telah dibongkar dan melebur menjadi bagian dari Madrasah Mufidah, sebuah lembaga pendidikan berusia 102 tahun yang dahulu didirikan oleh KH Mas Mansur.
Dari madrasah itulah, lahir generasi yang ditempa bukan hanya ilmu, tetapi juga nilai perjuangan.
Madrasah itu kini menjelma menjadi Sekolah Dasar Mufidah dengan bangunan megah empat lantai, berdiri berdampingan dengan Masjid Taqwa, peninggalan sang ulama besar.
Wakaf dari cucu, seakan menjadi jembatan yang menyambungkan semangat pengabdian dari kakek ke generasi penerusnya.
Ikrar wakaf sejatinya direncanakan berlangsung pada Jumat, 29 Agustus 2025, selepas salat Jumat di Masjid Taqwa. Namun, karena ada dokumen yang belum siap, acara itu terpaksa ditunda.
Kondisi kesehatan Arfan yang semakin menurun membuat ikrar wakaf itu akhirnya tidak bisa dilakukan di masjid, melainkan di ruang rawat inap RS Graha Amerta, Surabaya, pada Sabtu sore, 30 Agustus 2025, selepas salat ashar.
Petugas KUA hadir menyaksikan prosesi sakral tersebut. Dengan suara yang sudah tidak lagi sekuat dulu, Arfan tetap berusaha menuntaskan niat sucinya.
“Kalau datang ke Graha Amerta, jangan lupa bawa pulpen,” begitu pesan singkatnya kepada Iqbal, seolah ingin memastikan segalanya benar-benar tertulis dan sah secara hukum.
Selain di Graha Amerta, pada hari yang sama beberapa saudara Arfan juga melaksanakan ikrar wakaf di Masjid Taqwa, tempat yang penuh kenangan bagi keluarganya.
Menurut Iqbal, sebenarnya ikrar lisan telah disampaikan Arfan dan keluarganya sejak beberapa tahun lalu.
Namun kali ini, ia menegaskannya dalam bentuk formal dan legal. Takdir Allah kemudian berlaku, hanya beberapa hari setelah berita acara ikrar itu selesai, Arfan dipanggil Sang Pencipta.
“Qadarullah, beliau dipanggil setelah menyelesaikan ikrar wakaf,” ucap Iqbal dengan suara tertahan.

Jejak Remaja Masjid yang Tak Pernah Padam
Bagi Iqbal, Arfan bukan sekadar cucu tokoh besar. Ia mengenalnya sejak remaja, ketika keduanya aktif di Remaja Masjid (Remas) Taqwa sekitar tahun 1996.
“Dia itu progresif, selalu punya ide, selalu peduli. Apalagi kalau urusannya untuk masjid dan pendidikan, dia tak pernah lelah membantu,” kenang Iqbal.
Sifat itu terbawa hingga dewasa. Arfan menapaki jalan hidup sebagai akademisi, mengabdikan dirinya sebagai dosen Studi Pembangunan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Di Muhammadiyah, dia dipercaya sebagai Ketua Majelis Dikdasmen & PNF PCM Wonokromo.
Dalam Yayasan KH Mas Mansur, ia menjabat sebagai Wakil Ketua I, mendampingi Agus Rusidy sebagai ketua.
Meski karier akademiknya cemerlang, Arfan tetap menjaga akar pengabdian, yakni peduli pada pendidikan dasar, pada sekolah, dan pada masjid.
Sikapnya seakan meneguhkan kembali pesan kakeknya, KH Mas Mansur, bahwa ilmu harus menyatu dengan amal.

Pulang dalam Pelukan Masjid Taqwa
Hari-hari terakhirnya penuh dengan ujian. Arfan sempat menjalani perawatan intensif di ICU RSUD dr. Soetomo, Surabaya.
Pada Ahad dini hari, 7 September 2025 pukul 01.50 WIB, ia dipanggil Sang Khalik dalam usia 54 tahun.
Jenazah disemayamkan di rumah duka di Jalan Ampel Sawahan II No. 15, Surabaya. Setelah salat zuhur, dia disalatkan di Masjid Taqwa, tempat yang pernah ia ramaikan sejak remaja. Tempat di mana ia menunaikan ikrar wakaf terakhirnya, tempat di mana sejarah keluarganya ditorehkan.
Arfan Fahmi meninggalkan warisan berharga. Bukan hanya tanah yang kini menjadi bagian sekolah dan masjid, tetapi juga teladan ketulusan.
Dia menutup perjalanan hidupnya dengan sebuah amal jariyah, yang insya Allah akan terus mengalirkan pahala hingga akhir zaman.
Di mata sahabatnya, dia adalah seorang aktivis yang tidak kenal lelah. Di mata mahasiswa, ia adalah dosen yang menginspirasi.
Di mata keluarga besar Muhammadiyah, dia adalah penerus semangat KH Mas Mansur. Dan di mata Allah, semoga ia tercatat sebagai hamba yang berpulang dengan membawa amal terbaik. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments