Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dalam FGD Riset Sejarah Muhammadiyah Jatim, Prof. Achmad Jainuri Soroti Pembaruan Gerakan

Iklan Landscape Smamda
Dalam FGD Riset Sejarah Muhammadiyah Jatim, Prof. Achmad Jainuri Soroti Pembaruan Gerakan
MPID PWM Jatim Selenggarakan FGD Riset Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur (Jabir/PWMU.CO)
pwmu.co -

Focus Group Discussion (FGD) Riset Buku Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Majelis Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi (MPID) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur dirangkaikan dengan konsolidasi MPID Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jawa Timur berlangsung di At-Taawun Tower Universitas Muhammadiyah Surabaya, Sabtu (13/12/2025).

FGD tersebut merupakan bagian dari upaya MPID PWM Jawa Timur dalam mengumpulkan data, menelusuri sumber, serta menyusun kembali sejarah perjuangan Muhammadiyah di Jawa Timur secara sistematis dan berbasis riset. Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat landasan penulisan sejarah yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Selain itu, forum ini menjadi ruang konsolidasi untuk menyelaraskan visi dan memperkuat koordinasi MPID PDM se-Jawa Timur dalam pengelolaan bidang pustaka, informasi, dan digitalisasi di lingkungan persyarikatan. Konsolidasi tersebut diharapkan dapat memperkuat peran MPID di tingkat daerah dalam mendukung kerja-kerja dokumentasi dan pengarsipan sejarah Muhammadiyah.

Dalam forum tersebut, Prof. Achmad Jainuri menyampaikan bahwa pembaruan dalam Muhammadiyah tidak dapat dipahami secara sempit hanya sebagai agenda pemberantasan takhayul, bid‘ah, dan khurafat (TBC). Ia menegaskan bahwa pemberantasan TBC merupakan bagian dari proses pembaruan, tetapi bukan agenda utama gerakan.

“Pembaruan Muhammadiyah tidak bisa direduksi hanya pada isu TBC. Itu penting, tetapi bukan fokus utama gerakan,” ujar dia dalam paparannya.

Jainuri menjelaskan, hal tersebut tercermin dari struktur awal persyarikatan yang lebih dahulu membentuk Majelis Kesehatan dan Majelis Pendidikan sebelum Majelis Tabligh pada tahun 1919. Menurutnya, fakta historis ini menunjukkan bahwa orientasi Muhammadiyah sejak awal adalah pada kerja-kerja sosial dan peningkatan kesejahteraan umat.

Lebih lanjut, Jainuri menyampaikan bahwa perkembangan Muhammadiyah perlu dipahami sebagai gerakan amar ma’ruf nahi munkar yang berorientasi pada tujuan utama persyarikatan, yaitu memajukan kesejahteraan bangsa. Ia menyebut bahwa tujuan tersebut dilandasi oleh nilai uluhiyah dan insaniyah dengan akidah tauhid sebagai fondasi gerakan.

“Tujuan Muhammadiyah adalah memajukan kesejahteraan bangsa. Itu yang menjadi arah besar gerakan, dengan tauhid sebagai dasar utamanya,” katanya.

Dalam FGD Riset Sejarah Muhammadiyah Jatim, Prof. Achmad Jaenuri Soroti Pembaruan Gerakan (2)
FGD Riset Sejarah Muhammadiyah Jatim Bahas Arah Pembaruan Gerakan (Jabir/PWMU.CO)

Dalam konteks nilai dasar gerakan, Al-Qur’an, menurut Jainuri, tidak dipahami secara tekstual semata, melainkan sebagai sumber nilai yang perlu diterjemahkan dalam praksis sosial. Pendekatan ini, sebagaimana ia kutip, pernah disebut oleh Ahmad Syafii Maarif sebagai “kalam yang menjadi tindakan”.

“Ajaran Islam tidak berhenti sebagai wacana normatif, tetapi harus hadir dalam tindakan nyata yang menjawab persoalan sosial,” ungkapnya.

Jainuri juga menjelaskan bahwa rumusan ideologis Muhammadiyah bersifat tentatif dan diturunkan sebagai justifikasi filosofis bagi program-program keumatan. Dokumen seperti Muqaddimah Anggaran Dasar, Anggaran Dasar, dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dipahami sebagai manifestasi ideologi persyarikatan yang terus berkembang seiring perubahan konteks sosial dan tantangan zaman.

Dia turut menyinggung konteks historis Islam modern di Indonesia pada awal abad ke-20, ketika basis santri masih terbatas di beberapa wilayah. Muhammadiyah yang lahir di Yogyakarta, menurutnya, berkembang dengan corak dakwah yang menyesuaikan karakter sosial-keagamaan setempat.

“Karakter keislaman di setiap daerah berbeda. Karena itu, pendekatan dakwah Muhammadiyah tidak bisa diseragamkan,” ujarnya.

Menutup paparannya, Jainuri menyampaikan sejumlah gagasan strategis dalam penguatan gerakan Muhammadiyah, antara lain institusionalisasi gagasan, diseminasi dan diversifikasi pemikiran, pengayaan gagasan melalui forum keilmuan, serta perumusan ideologi sebagai acuan pelaksanaan program dan analisis kondisi sosial. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu