Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Ancaman Kursi ke Rekor MURI: Nyali dan Nada Edy Susanto Membangun Mudipat

Iklan Landscape Smamda
Dari Ancaman Kursi ke Rekor MURI: Nyali dan Nada Edy Susanto Membangun Mudipat
Penulis (kiri) bersama Kepala SD Mudipat Edy Susanto M,Pd. Foto: Mudipat
pwmu.co -

Petang itu, Jumat (6/1/2026), suasana Laboratorium IPA Lantai 4 Gedung Belajar C ADEC, Jalan Pucang Anom No. 116–118 Surabaya, berasa berbeda.

Ruangan yang biasanya dipenuhi aroma bahan praktikum dan deretan mikroskop, berubah menjadi ruang refleksi dan inspirasi.

Para guru duduk menyimak dengan saksama dalam Pelatihan Menulis Inspiratif Tahun Pelajaran 2025/2026. Kebetulan, saya—sebagai Pemimpin Redaksi PWMU.CO—didaulat menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut.

Di hadapan mereka hadir Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 4 (Mudipat) Surabaya, Edy Susanto, M.Pd. Dia datang belakangan karena diberi amanah menutup kegiatan tersebut.

Namun sebelumnya, Edy berbagi cerita inspiratif. Dia membuka lembar demi lembar memori perjuangannya. Tentang sekolah yang dulu jauh dari kata favorit, tentang ancaman, laporan polisi, hingga tentang nada-nada musik yang mengantarkan Mudipat menorehkan rekor nasional.

“Banyak pengalaman selama menjadi guru dan kepala sekolah. Jauh sebelum Mudipat maju dan menjadi sekolah favorit seperti sekarang, saya ikut membangun bersama guru-guru lain,” tuturnya.

Hari ini, nama Mudipat Surabaya dikenal sebagai salah satu sekolah dasar Muhammadiyah yang paling diperhitungkan. Prestasi akademik dan nonakademik datang silih berganti. Mengukuhkan reputasinya di tingkat lokal maupun nasional.

Lebih dari itu, Mudipat telah menjelma menjadi kawah candradimuka bagi lahirnya para calon kepala sekolah–tempat ditempanya kepemimpinan, ketangguhan manajerial, dan visi pendidikan yang progresif.

Di balik capaian itu, Mudipat bukan sekadar ruang belajar bagi siswa, tetapi juga laboratorium kepemimpinan bagi para guru. Di sanalah ide-ide diuji, keberanian mengambil keputusan diasah, dan budaya mutu ditanamkan secara konsisten.

Tidak mengherankan jika banyak figur pemimpin sekolah yang lahir dari rahim institusi ini, membawa semangat pembaruan dan standar tinggi ke tempat pengabdian mereka berikutnya.

Namun, menurut Edy, pencapaian itu bukan hasil kerja instan. “Semua tidak mudah, penuh tantangan,” katanya.

Dia masih mengingat betul masa-masa awal membenahi kultur sekolah. Disiplin diperkuat, pembiasaan ibadah ditegakkan, dan standar mutu dinaikkan. Tetapi setiap perubahan, selalu memiliki risiko.

Salah satu peristiwa yang tak pernah ia lupakan adalah ketika ia memberi sanksi kepada seorang siswa yang sering tidak memakai seragam sekolah saat salat berjamaah.

Bagi Edy, itu bagian dari komitmen pendidikan karakter. Namun bagi orang tua siswa tersebut, keputusan itu dianggap berlebihan.

Seorang wali murid datang dengan emosi meluap. Perdebatan tak terhindarkan. Bahkan kursi di ruang itu sempat terangkat.

“Saya persilakan kalau mau melempar,” kenang Edy, mengulang kalimat yang ia ucapkan saat itu.

Ruangan hening sejenak ketika ia menceritakan bagian ini. Para guru yang mengikuti pelatihan seperti bisa membayangkan ketegangan situasi tersebut.

Namun kursi itu akhirnya tidak pernah melayang. Emosi mereda, dan peristiwa itu menjadi salah satu ujian mental kepemimpinannya.

Bagi Edy, mempertahankan prinsip kadang memang tidak populer. Tetapi ia percaya, sekolah yang kuat harus berdiri di atas nilai yang jelas.

Dilaporkan ke Polisi

Tantangan lain datang dalam bentuk laporan ke polisi dan bahkan pengaduan ke Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Penyebabnya adalah miskomunikasi terkait siswa yang belum membayar biaya sekolah.

Situasi itu menegangkan. Sebagai kepala sekolah, namanya dipertaruhkan. Reputasi lembaga ikut terseret. Namun Edy memilih menghadapi semuanya secara terbuka.

Dia menjelaskan persoalan secara profesional dan transparan. Komunikasi diperbaiki. Kesalahpahaman diluruskan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Edy menghadapi semua itu dengan keyakinan kalara niatnya baik untuk lembaga dan anak-anak, kita hadapi saja,” ujarnya.

Pengalaman-pengalaman itu, menurutnya, membentuk daya tahan. Kepemimpinan bukan soal kenyamanan, melainkan keberanian mengambil keputusan dan kesiapan menanggung risikonya.

Jika urusan disiplin dan manajemen sekolah sudah cukup menyita energi, Edy justru menambah tantangan baru: mengaktifkan musik di sekolah.

Pada awalnya, keputusan itu tidak mulus. Ada yang mempertanyakan urgensinya. Ada yang khawatir musik akan mengganggu fokus akademik. Tidak sedikit yang menentang.

“Tapi saya jalan terus. Masa itu yang jadi kepala sekolah Pak Sholihin Fanani. Beliau mendukung,” katanya sambil tersenyum.

Edy bukan hanya pendidikan. Dia juga memiliki keterampilan memainkan berbagai alat musik. Baginya, musik bukan sekadar hiburan, melainkan media pendidikan karakter: melatih kerja sama, disiplin, rasa percaya diri, dan keberanian tampil.

Edy mulai merekrut puluhan siswa yang memiliki bakat bermain musik. Anak-anak kecil itu—sebagian masih sangat belia—dikumpulkan, dilatih, dan diseleksi. Dari puluhan anak tersebut, terbentuklah satu grup band yang diberi nama Mentic Band.

Mentic Band itu menjelma menjadi ruang bertumbuh bagi keberanian, kedisiplinan, dan rasa percaya diri anak-anak yang tengah belajar menemukan panggungnya. Di sana, mereka tidak hanya berlatih memainkan nada, tetapi juga belajar bekerja sama, menghargai proses, dan menguatkan satu sama lain dalam setiap penampilan.

Latihan demi latihan dijalani. Tampil di berbagai acara, dari panggung sekolah hingga event di luar kota. Perlahan, eksistensi Mentic Band diakui.

Puncaknya terjadi pada Mei 2006. Mentic Band memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai grup band dengan pemain berusia termuda—rata-rata 6 hingga 7 tahun.

Sebuah capaian yang tak hanya membanggakan Mudipat, tetapi juga menjadi bukti bahwa keberanian berinovasi bisa melahirkan sejarah.

Dari Satu Band ke Banyak Prestasi

Setelah Mentic Band lahir, gelombang kreativitas di Mudipat tak terbendung. Grup-grup band lain bermunculan. Kegiatan seni tumbuh berdampingan dengan prestasi akademik.

Anak-anak belajar bahwa sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai, tetapi juga ruang menemukan jati diri.

Prestasi demi prestasi diraih. Bukan hanya di tingkat regional, tetapi juga nasional. Mudipat pelan-pelan bertransformasi menjadi sekolah yang diperhitungkan masyarakat.

“Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mendorong keberadaan sekolah semakin maju dan diakui oleh masyarakat,” tegas Edy kepada para guru peserta pelatihan.

Pesan itu ia sampaikan bukan dalam bentuk teori manis, melainkan lewat kisah nyata yang penuh peluh dan ketegangan.

Di akhir sesi pelatihan yang berlangsung mulai pukul 14.00 hingga 19.00 WIB itu, Edy menekankan satu hal penting: pengalaman tidak boleh berhenti sebagai cerita lisan.

“Pengalaman-pengalaman itu harus didokumentasikan agar bisa dibagi kepada khalayak luas,” ujarnya.

Bagi Edy, menulis adalah cara mengabadikan jejak. Sekolah-sekolah Muhammadiyah, menurutnya, memiliki begitu banyak kisah inspiratif. Tentang perjuangan guru, inovasi pembelajaran, hingga keberanian mengambil risiko. Jika tidak ditulis, cerita-cerita itu akan hilang bersama waktu. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu