Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Dunia ke Diri: Dialektika Keterlemparan dan Kepulangan Eksistensial

Iklan Landscape Smamda
Dari Dunia ke Diri: Dialektika Keterlemparan dan Kepulangan Eksistensial
Oleh : Harun Ahmad Dosen di Universitas Insan Budi Utomo, Malang
pwmu.co -

Di jalan panjang nan suntuk, manusia berjalan tanpa pernah benar-benar mengetahui dari mana ia memulai.

Jalan memang tidak pernah netral; ia selalu membawa beban waktu, jejak sejarah, dan gema langkah-langkah yang tak pernah sepenuhnya kita pilih.

Dunia tidak menanti persetujuan dari kita untuk hadir.

Ia sudah berada di sana —mendahului kesadaran, kehendak, maupun segala kemungkinan untuk berkata “tidak”.

Seolah-olah gema itu telah lebih dahulu diucapkan dalam bentuk yang lebih sunyi:

“di jalan panjang dan suntuk”

“mereka baru saja balik dari”

pulang ke dalam dirinya” (Ibrahim Gibra, 7 Syawal 1447 H/27 Maret 2026 M)

Puisi Gibra ini tidak sekadar melukiskan perjalanan; ia menyiratkan sesuatu yang lebih dalam—sebuah kepulangan yang terlambat disadari, atau mungkin sebuah kesadaran yang baru saja tiba setelah perjalanan yang terlalu panjang.

“Mereka” adalah kita: para pejalan yang terlalu lama berada di luar diri, hingga kepulangan menjadi peristiwa yang terasa asing, bahkan ketika ia sedang berlangsung.

Dalam keheningan yang merayap di antara langkah, manusia perlahan menyadari: ia tidak datang sebagai subjek yang utuh.

Ia datang sebagai kekurangan, sebagai jarak, sebagai pertanyaan yang belum menemukan jawabannya.

Ada sesuatu yang selalu tertinggal di belakang—atau mungkin justru belum pernah ditemukan di depan.

Maka berjalan menjadi lebih dari sekadar bergerak; ia adalah upaya yang tak selesai untuk mengejar diri yang terus menghindar.

Di situlah tegangan bermula: antara keberadaan yang dijalani dan makna yang belum teraih. Antara dunia yang memaksa hadir dan diri yang belum sempat menjadi.

Keterlemparan: Fakta Awal yang Tak Terelakkan

Manusia tidak pernah memilih untuk berada di jalan ini.

Ia telah dilemparkan—Geworfenheit—ke dalam dunia yang telah memiliki arah, bahasa, dan aturan sebelum ia sempat bertanya.

Jalan panjang itu adalah faktisitas: ia adalah waktu yang sudah berjalan, relasi yang sudah terjalin, batas-batas yang tidak bisa dihapus hanya dengan keinginan.

Di sepanjang jalan, manusia bertemu dengan keramaian yang aneh.

Wajah-wajah yang mirip, suara-suara yang seragam, langkah-langkah yang mengikuti ritme yang sama.

Di sanalah ia tenggelam dalam das Man —“mereka” yang anonim, yang berbicara tanpa benar-benar memiliki suara, yang hidup tanpa benar-benar memilih hidupnya sendiri.

Dalam keramaian itu, diri menjadi kabur, larut dalam kebiasaan, hilang dalam rutinitas yang terasa wajar.

Keletihan pun datang, tetapi bukan sekadar keletihan tubuh.

Ia adalah keletihan yang tidak dapat dijelaskan, semacam lelah yang muncul karena berjalan terlalu jauh tanpa tahu ke mana sebenarnya hendak tiba.

Keletihan eksistensial—tanda samar bahwa ada jarak yang terbuka antara manusia dan dirinya sendiri, jarak yang belum sempat ia sadari.

Ketersesatan dan Kejatuhan: Hilangnya Diri dalam Dunia

Di titik tertentu, jalan tidak lagi terasa sebagai perjalanan, melainkan sebagai jebakan.

Manusia jatuh—Verfallen—ke dalam dunia yang penuh distraksi, penuh peran, penuh tuntutan yang tidak pernah benar-benar ia pilih.

Ia menjalani hidup seperti naskah yang telah ditulis orang lain.

Dalam bayangan pemikiran eksistensial, keadaan ini menyerupai bad faith—sebuah pengingkaran halus terhadap kebebasan.

Manusia bersembunyi di balik topeng: peran sosial, identitas yang diwariskan, kebiasaan yang tidak pernah dipertanyakan.

Ia berkata, “Beginilah aku,” padahal yang ia maksud adalah, “Beginilah aku diharapkan.”

Dunia pun berubah menjadi ruang pelarian.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Bukan lagi tempat perjumpaan dengan diri, melainkan tempat untuk melupakan diri.

Jalan yang “suntuk” itu tidak hanya panjang dalam waktu, tetapi juga padat oleh kekosongan makna.

Langkah demi langkah menjadi repetisi tanpa refleksi. Kehidupan berjalan, tetapi keberadaan tidak sungguh-sungguh dialami.

Dan di tengah itu semua, jarak semakin melebar—jarak antara siapa yang dijalani dan siapa yang mungkin dapat menjadi.

Momen Retak: Kesadaran yang Mengganggu

Namun, tidak semua jalan berlangsung tanpa retak.

Ada saat-saat tertentu ketika ritme yang biasa tiba-tiba terhenti.

Keheningan menjadi lebih tajam, langkah terasa lebih berat, dan dunia yang sebelumnya terasa akrab mendadak menjadi asing.

Di situlah anxiety muncul—bukan sebagai ketakutan terhadap sesuatu yang jelas, tetapi sebagai kegelisahan tanpa objek.

Ia adalah getaran halus yang mengoyak kenyamanan semu.

Dalam kecemasan itu, manusia tidak lagi bisa bersembunyi di balik das Man.

Ia berhadapan dengan dirinya sendiri, dengan kemungkinan-kemungkinan yang selama ini ia hindari.

Kecemasan bukanlah penyakit; ia adalah panggilan.

Ia membuka ruang kosong di mana kebebasan dapat muncul.

Dalam retakan itu, manusia mulai melihat bahwa ia telah berjalan jauh—tetapi menjauh dari dirinya sendiri.

“Baru saja balik”—sebuah momen yang rapuh.

Belum kokoh, belum pasti, tetapi menentukan.

Seperti langkah pertama yang ragu setelah tersadar bahwa arah sebelumnya keliru. Kepulangan belum selesai, tetapi ia telah dimulai.

Kepulangan sebagai Lompatan: Dari Kehilangan ke Keputusan

Kepulangan tidak selalu berlangsung perlahan.

Ada saat ketika ia menuntut keberanian untuk melompat—leap of faith.

Sebuah keputusan yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh rasio, tetapi harus diambil agar keberadaan tidak terus terjebak dalam pengulangan yang kosong.

Manusia, dalam kesadarannya, menemukan kenyataan yang sulit dihindari: ia bebas.

Dan kebebasan itu bukan anugerah yang ringan, melainkan beban yang tak bisa ditolak.

Ia tidak dapat lagi menyalahkan dunia sepenuhnya. Ia harus memilih—dan dalam memilih, ia membentuk dirinya sendiri.

Kepulangan ke diri berarti menerima tanggung jawab itu.

Tidak ada lagi tempat bersembunyi. Tidak ada lagi alasan untuk menunda.

Jalan yang sebelumnya tampak memaksa kini menjadi ruang keputusan.

Namun kebebasan tidak membawa kenyamanan.

Ia membawa kecemasan baru, beban baru, kesadaran bahwa setiap langkah adalah pilihan yang tak dapat diwakilkan.

Kepulangan bukan sekadar kembali; ia adalah keberanian untuk menjadi.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡