Terik matahari Ahad (27/9/2026) tidak menyurutkan langkah lebih dari 600 jamaah keluarga besar Muhammadiyah dari lima kecamatan kawasan Bengawan Jero. Mereka memadati Lapangan Muhammadiyah Kecamatan Glagah untuk mengikuti Pengajian Bengawan Jero.
Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ruang untuk menimba ilmu dan mempererat silaturahmi. Pengajian juga menjadi momentum menghadirkan dakwah yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat melalui layanan pemeriksaan dan pengobatan gratis.
Perpaduan antara pengajian dan pelayanan kesehatan itu menjadi gambaran bahwa dakwah dapat dilakukan melalui berbagai jalan. Tidak hanya melalui mimbar, tetapi juga melalui pelayanan, profesi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam tausiyah H. Masfuk, SH. Ia mengajak warga Muhammadiyah untuk tidak ragu dalam melangkah dan mengembangkan gerakan yang memberikan manfaat nyata bagi umat.
“Warga Muhammadiyah harus berani dan tidak boleh ragu dalam melangkah dan bergerak. Gerakan dakwah jamaah akan menghasilkan dampak yang positif, khususnya untuk ekonomi keumatan,” pesannya.
Mantan Bupati Lamongan dua periode itu juga menyampaikan kekagumannya terhadap Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam besar dunia dengan ribuan amal usaha dan aset yang tersebar di berbagai bidang.
Namun, menurutnya, kebesaran Muhammadiyah tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya aset atau amal usaha. Kebesaran persyarikatan harus tercermin dari seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat.
Salah satu bentuknya adalah amal usaha di bidang kesehatan.
Masfuk menilai rumah sakit Muhammadiyah harus terus dijaga bukan sekadar sebagai lembaga pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai instrumen dakwah persyarikatan.
“Orang datang ke RS Muhammadiyah dengan niat berobat, kita layani penuh dengan ketulusan hati, biar pesan dan sentuhan dakwah terasa. Kemudian pulang dari rumah sakit dalam keadaan sembuh. Itu merupakan bentuk dakwah kita,” ungkapnya.
Dakwah Melalui Pelayanan
Pesan tersebut terasa relevan dengan pelaksanaan pemeriksaan dan pengobatan gratis yang berlangsung di sela Pengajian Bengawan Jero.
Layanan kesehatan itu mendapat sambutan antusias dari jamaah. Mereka tidak hanya mengikuti pengajian, tetapi juga memanfaatkan kesempatan untuk memeriksakan kondisi kesehatan.
Arief AR, koordinator lapangan kegiatan pengobatan gratis, mengaku bangga sekaligus terharu melihat antusiasme jamaah.
Menurutnya, jamaah tetap hadir meskipun harus menempuh perjalanan cukup jauh dan mengikuti kegiatan di tengah terik matahari.
“Ini menunjukkan bahwa kekuatan Muhammadiyah sesungguhnya ada pada jamaahnya. Ketika ada ruang untuk belajar, bersilaturahmi, dan berbuat untuk umat, jamaah hadir dengan penuh semangat,” ujarnya.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang pengabdian bagi para apoteker yang tergabung dalam Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).
Arief mengatakan, keterlibatan para apoteker merupakan bentuk kepedulian profesi terhadap masyarakat. Terlebih, kegiatan tersebut berlangsung tidak lama setelah peringatan Hari Apoteker Sedunia pada 25 September.
“Kami dari Ikatan Apoteker Indonesia siap berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan bersama Muhammadiyah. Semoga kolaborasi seperti ini dapat terus dilakukan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ungkap Arief AR yang juga Wakil Ketua IAI Wilayah Jawa Timur.
Dengan demikian, profesi tidak berhenti sebagai pekerjaan. Profesi menjadi jalan untuk mengabdi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bermuhammadiyah dengan Gembira
Semangat pengabdian juga disampaikan Agus Sutrisno, Ketua Forkom Deglabin. Ia mengaku bangga dapat menjadi bagian dari gerakan Muhammadiyah melalui pengabdian di Rumah Sakit Muhammadiyah.
Menurutnya, bermuhammadiyah tidak harus selalu berlangsung dalam suasana formal dan kaku. Justru terdapat kegembiraan ketika kader dapat berkumpul, belajar, melayani, sekaligus membangun jejaring dengan berbagai kalangan.
“Bangga menjadi kader Muhammadiyah yang berkhidmat di RS Muhammadiyah. Bermuhammadiyah dengan gembira, bisa berpartisipasi dalam pemeriksaan gratis, bisa ikut ngaji, mendapatkan ilmu, sekaligus mendapatkan relasi dan jejaring lintas profesi,” tuturnya.
Dalam kegiatan tersebut, Forkom juga melibatkan sejumlah tenaga dari Klinik Muhammadiyah Deket, salah satu amal usaha Muhammadiyah di bidang kesehatan.
Bagi Agus, keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa ketika potensi yang dimiliki persyarikatan disatukan, akan lahir gerakan yang lebih besar dan memberikan manfaat lebih luas.
“Kita libatkan teman-teman dari Klinik Muhammadiyah Deket yang juga merupakan amal usaha Muhammadiyah. Kita bergerak bersama untuk umat dan persyarikatan,” tegasnya.
Pengajian Bengawan Jero akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertemuan jamaah. Kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana dakwah Muhammadiyah dapat terus bergerak dari ilmu menuju amal dan dari amal menuju kemanfaatan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments