Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Sarangan ke Perpisahan: Kontak Terakhir Muhammad Mirdasy yang Tak Terlupakan

Iklan Landscape Smamda
Dari Sarangan ke Perpisahan: Kontak Terakhir Muhammad Mirdasy yang Tak Terlupakan
Agus Wahyudi, Prof. Abdul Mu'ti, penulis, dan Muhammad Mirdasy di Hotel Novotel, Solo. Foto: Dok/Pri

 

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Allohummafirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.

Senin, 6 April 2026 pukul 14.20 WIB, kabar itu datang dari dokter Tommy, Direktur RS UMM. Tak lama berselang, Ali Mu’thi—yang saat itu bersama saya sedang melakukan survei di Red Hotel, Sarangan, Magetan—menguatkan kabar tersebut. Seketika, waktu seperti berhenti. Ada bagian dari perjalanan hidup yang terasa ikut terputus.

Saya kehilangan seorang sahabat dekat. Saudara seperjuangan. Bagi saya, Muhammad Mirdasy bukan sekadar tokoh. Dia adalah bagian dari perjalanan panjang yang kami rajut bersama sejak muda—sejak kami ditempa dalam satu kawah candradimuka yang sama: Jawa Timur.

Kami pernah berada dalam satu garis sejarah kepemimpinan. Muhammad Mirdasy memimpin PW Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur periode 1998–2002, sebuah masa penuh dinamika di tengah transisi besar bangsa pascareformasi.

Estafet kepemimpinan itu kemudian dilanjutkan oleh Imam Sugiri (2002–2006), dan saya sendiri pada periode 2006–2010.

Namun yang paling bermakna bukanlah jabatan yang silih berganti itu. Lebih dari itu, kami dipersatukan oleh satu napas perjuangan. Kami tidak sekadar melanjutkan kepemimpinan, tetapi saling menguatkan. Dari situlah tumbuh persaudaraan—yang tidak dibangun oleh struktur, melainkan oleh hati.

Dari Sarangan ke Perpisahan: Kontak Terakhir Muhammad Mirdasy yang Tak Terlupakan
Penulis, Muhammad Mirdasy, Ali Mu’thi, Tjatur Prijambodo, dan Imam Sugiri: Foto: Dok/Pri

Bersama di Lapangan: HWFC dan Ujian di Masa Pandemi

Takdir kembali mempertemukan kami dalam satu medan pengabdian yang berbeda. Saat PWM Jawa Timur mengambil langkah besar dengan membeli klub Liga 2 dan mendirikan Hizbul Wathan Footbal Club (HWFC), kami kembali dipersatukan.

Saya dipercaya sebagai Presiden klub. Muhammad Mirdasy sebagai Manajer, Hasan Ubaidilah sebagai Direktur Keuangan, dan Agus Wahyudi sebagai Sekretaris.

Di masa pandemi COVID-19, peran itu bukan perkara ringan. Pembiayaan menjadi tantangan besar, sementara pengelolaan organisasi profesional harus tetap berjalan.

Dalam situasi sulit itu, Mirdasy menunjukkan kualitasnya yang sesungguhnya. Berbulan-bulan kami bersama di Solo dan Yogyakarta. Ia mendampingi saya tanpa lelah. Hampir tidak pernah meninggalkan tim. Selalu hadir, selalu siap.

Di situlah saya melihat keteguhannya dalam bekerja, kesabarannya menghadapi dinamika tim, dan terutama komitmen serta loyalitasnya yang luar biasa.

Dia bukan tipe yang banyak bicara atau tampil di depan. Namun, ia adalah sosok yang bisa diandalkan sepenuhnya—diam, tapi kokoh.

Dari Sarangan ke Perpisahan: Kontak Terakhir Muhammad Mirdasy yang Tak Terlupakan
Bersama para aktivis Pemuda Muhammadiyah. Foto: Dok/Pri

Family Gathering: Rumah Besar yang Kita Rawat

Di luar semua itu, ada satu ruang yang selalu mempertemukan kami kembali sebagai keluarga: Family Gathering (Famgath) kader “Sang Surya”.

Selama hampir 14 tahun, kegiatan ini kami rawat bersama sebagai ruang silaturahmi lintas generasi. Sebuah tempat pulang bagi para kader—untuk mengingat kembali perjalanan, merawat kebersamaan, dan menghidupkan kehangatan.

Kegiatan Famgath diinisiasi oleh almarhum Nadjib Hamid, sosok panutan Angkatan Muda Muhammadiyah. Sejak itu, Family Gathering menjadi lebih dari sekadar agenda. Ia menjadi rumah besar.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Dan Mirdasy adalah bagian yang tak terpisahkan dari rumah itu. Ia tidak sekadar hadir, tetapi ikut menjaga ruh kebersamaan yang ada di dalamnya.

Empat hari sebelum kepergiannya, Muhammad Mirdasy menelepon saya. Suaranya terdengar parau, namun tetap menyimpan tanggung jawab yang sama seperti yang selalu saya kenal.

Dia menyampaikan izin. Tidak bisa mengikuti survei dan rapat panitia di Hotel Kintamani karena kondisi kesehatannya menurun. Saat itu, saya dan beberapa teman sedang melakukan survei di Sarangan, Magetan.

Melihat kondisi itu, saya segera meminta beliau untuk dirawat di RS Siti Khodijah Sepanjang—tempat yang saya kenal baik karena pernah menjadi Ketua MPKU PCM Sepanjang—agar mendapatkan pelayanan maksimal.

Namun, Mirdasy memilih dirawat di RS UMM Malang, atas permintaan Prof. Nazarudin Malik, Rektor UMM.

Itulah percakapan terakhir kami.

Dari Sarangan ke Perpisahan: Kontak Terakhir Muhammad Mirdasy yang Tak Terlupakan
Hasan Ubaidillah, penulis, dan Muhammaad Mirdasy di lapangan sepak bola di Sidoarjo. Foto: Dok/Pri

Pertemuan Terakhir di ICU

Ahad malam, 5 April 2026, saya datang menjenguk di ICU RS UMM. Saya hadir bersama Prof. Ma’mun Murod (Rektor UMJ), Prof. Mundakir (Rektor Umsura ), Dr. Nur Subeki (Wakil Rektor III UMM), Tsalis Rifa’i, MM (Ketua PDM Malang), Baroni, MM (tokoh FOKAL IMM), Abdul Musawir Yahya (Komisaris Independen Pertamina Geothermal Energy), Agus Wahyudi (Pemred PWMU), serta dokter Tommy, Direktur RS UMM.

Di ruang itu, tidak banyak yang bisa kami lakukan. Kami hanya berdiri. Memandang. Berdoa. Muhammad Mirdasy terbaring dengan berbagai alat medis yang melekat di tubuhnya. Dalam diam, kami menyimpan harap. Ada keinginan menahan waktu. Ada doa-doa yang tak terucap.

Namun, Allah memiliki kehendak yang lebih baik.

Muhammad Mirdasy akhirnya berpulang. Dan saya tersadar, persaudaraan ini tidak pernah benar-benar berakhir. Ia hanya berpindah—dari ruang kebersamaan menjadi ruang doa.

Yang tertinggal adalah kenangan yang tak tergantikan: tentang perjalanan panjang di organisasi, tentang kebersamaan di lapangan, tentang tawa di setiap Family Gathering, dan tentang suara parau terakhir yang penuh tanggung jawab.

Selamat jalan, sahabatku.

Tidak semua orang meninggalkan jejak. Namun engkau meninggalkan jejak dalam hati banyak orang.

Terima kasih atas persahabatan, kebersamaan, dan kesetiaan dalam perjuangan. Kami akan melanjutkan apa yang telah kita rawat bersama.

Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosamu, menerima amal ibadahmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Amin. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 08/04/2026 16:31
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡