Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menghabiskan Jatah Gagal, Jejak Sunyi Mirza Menuju Golden Ticket ITS

Iklan Landscape Smamda
Menghabiskan Jatah Gagal, Jejak Sunyi Mirza Menuju Golden Ticket ITS
Mirza Gulam Ahmad, saat aktif memimpin IPM Smamuga 2024-2025 (Zulkifli/PWMU.CO)
Oleh : Zulkifli

Tidak semua keberhasilan lahir dari gemerlap panggung. Sebagian justru tumbuh dari ruang-ruang sunyi, dari doa yang lirih, dan dari kegagalan yang tak pernah diumbar. Itulah kisah Mirza Gulam Ahmad, siswa SMA Muhammadiyah 3 (Smamuga) Tulangan, yang kini menjejakkan kakinya ke Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melalui jalur istimewa, golden ticket program studi S1 Biologi.

Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan perjalanan panjang seorang anak buruh bangunan yang tak pernah berhenti percaya pada ikhtiar.

Dari Rumah Sederhana, Tumbuh Mimpi Besar

Lahir di Sidoarjo, 20 Juli 2007, Mirza tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan, sementara sang ibu adalah ibu rumah tangga. Dalam keterbatasan itulah, nilai-nilai kerja keras dan kesabaran tertanam kuat.

Tak ada kemewahan, tak ada jalan pintas. Yang ada hanyalah doa orang tua yang tak pernah putus dan usaha yang terus dirawat.

“Alhamdulillah, saya bersyukur dan bangga,” ucap Mirza singkat saat ditanya tentang keberhasilannya.

Namun di balik kalimat sederhana itu, tersimpan rasa haru yang tak mudah diungkapkan dengan kata-kata.

Antara Organisasi dan Prestasi

Mirza bukan hanya pelajar biasa. Ia adalah Ketua Umum IPM Smamuga periode 2024–2025. Peran itu menuntutnya untuk aktif, berpikir, dan bergerak. Di sisi lain, ia juga harus menjaga prestasi akademiknya.

Di sinilah ujian sesungguhnya: membagi waktu, menentukan prioritas, dan tetap konsisten. Menurutnya, salah satu kunci keberhasilannya adalah keberanian untuk mencoba dan kesiapan menghadapi kegagalan.

Ia menyiapkan segala hal dengan matang, mulai dari dokumen hingga essay yang menjadi penentu golden ticket. Essay itu bukan sekadar tulisan, tetapi cerminan gagasan dan kontribusi yang pernah ia lakukan selama berorganisasi.

Biologi dan Masa Depan

Ketertarikan Mirza pada dunia biologi, khususnya fisiologi botani, menjadi alasan kuat dalam menentukan pilihan jurusan. Baginya, ilmu adalah jalan untuk memberi manfaat.

Ia bermimpi, suatu saat bisa berkarier sebagai praktisi industri atau akademisi. Mimpi yang tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk membanggakan orang tua dan memberi dampak bagi masyarakat.

Sekolah yang Menjadi Rumah Tumbuh

Selama tiga tahun di Smamuga, Mirza menemukan lebih dari sekadar ruang belajar. Ia menemukan lingkungan yang menumbuhkan.

Guru-guru yang membimbing, teman-teman yang positif, serta suasana akademik yang kompetitif menjadi bagian penting dalam prosesnya.

“Semua ini hasil dari usaha dan doa yang dijalankan bersama,” ungkapnya.

Ia menyadari, keberhasilannya hari ini bukanlah kerja individu semata, melainkan hasil dari kolaborasi banyak pihak.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Tentang Konsistensi dan Proses

Bagi teman-temannya, Mirza bukan sosok yang tiba-tiba bersinar. Ia telah lama menunjukkan konsistensinya. Sayyid Muqorrobin, rekan satu organisasi, menyebut Mirza sebagai pribadi yang disiplin dan tahu arah.

Menurutnya, dari awal ikut IPM, Mirza sudah kelihatan serius dan konsisten, jadi pencapaiannya itu wajar, bukan tiba-tiba. Yang paling menonjol itu, Mirza juga bisa membagi waktu antara organisasi dan belajar, serta tetap bertanggung jawab.

“Yang bisa ditiru bukan hanya hasilnya, tapi prosesnya. Dia konsisten dan tahu prioritas,” ujarnya.

Pernyataan itu menegaskan bahwa keberhasilan bukanlah kebetulan, melainkan akumulasi dari kebiasaan baik yang dilakukan terus-menerus.

Di tengah euforia kelulusan, Mirza justru memilih berbagi pesan sederhana namun dalam.

“Kita perlu banyak mencoba dan banyak gagal untuk menghabiskan jatah gagal kita,” katanya.

Sebuah kalimat yang mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi mereka yang pernah jatuh, kalimat itu adalah penguat.

Ia juga mengingatkan pentingnya doa, ridha orang tua, dan bimbingan guru sebagai fondasi utama dalam meraih kesuksesan.

Harapan yang Terus Menyala

Wali kelasnya, Rani Widjayanti, S.Pd, melihat Mirza sebagai sosok yang utuh: cerdas, santun, dan bertanggung jawab. Ia berharap Mirza tetap rendah hati dan menjaga integritas di jenjang berikutnya.

Sementara bagi siswa lain yang memilih bekerja, Bu Rani begitu sapaan akrabnya juga berpesan bahwa setiap orang memiliki jalan suksesnya masing-masing, baik melalui kuliah maupun bekerja.

“Kuliah ataupun tidak kuliah (kerja) semua itu ada jalan kesuksesannya masing-masing, tetap disyukuri jangan patah semangat. Be proud for yourself and be brave to your life,” uar guru Bahasa Jawa yang juga mahir bahasa Inggris itu.

Sebuah Awal, Bukan Akhir

Bagi Mirza, golden ticket ini bukan garis akhir. Justru ini adalah langkah awal menuju perjalanan yang lebih panjang. Dari desa kecil di Sidoarjo, ia kini melangkah ke dunia yang lebih luas. Membawa mimpi, harapan, dan doa yang tak pernah padam.

Kisahnya mengajarkan bahwa sukses bukan milik mereka yang paling sempurna, tetapi milik mereka yang paling sabar dalam berproses. Dari Mirza, kita belajar satu hal bahwa setiap kegagalan yang kita lewati hari ini, sejatinya sedang membuka pintu keberhasilan di masa depan. (*)

Revisi Oleh:
  • Amanat Solikah - 05/04/2026 22:29
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡