SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) kembali menghadirkan terobosan dalam kegiatan Darul Arqam dengan mengusung tema “Membentuk Generasi Islam Berkarakter dan Berkemajuan di Era Digitalisasi serta Mengabdi untuk Masyarakat” pada Senin (23/2/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Smamita menghadirkan dai muda dari Kementerian Agama Republik Indonesia, Ustadz Muhammad Iqbal Rahman, S.Pd., yang juga menjabat Sekretaris Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Mojokerto.
Kegiatan yang berlangsung penuh antusias ini dirancang tidak hanya sebagai penguatan spiritual, tetapi juga menjadi ruang dialog kritis bagi pelajar dalam menghadapi tantangan dakwah di era digital. Para siswa diajak memahami bagaimana teknologi—mulai dari media sosial hingga kecerdasan buatan—dapat dimanfaatkan sebagai sarana syiar Islam yang santun, mencerahkan, dan inklusif.
Dalam paparannya, Ustadz Muhammad Iqbal Rahman menekankan bahwa Generasi Z memiliki peran strategis dalam ekosistem digital saat ini. Mereka tidak hanya menjadi pengguna aktif media sosial, tetapi juga content creator yang mampu membentuk opini publik serta memengaruhi cara pandang masyarakat.
Karena itu, generasi muda perlu dibekali pemahaman yang kuat agar mampu memanfaatkan ruang digital sebagai sarana dakwah yang positif, konstruktif, dan berkeadaban. Menurutnya, dakwah di era digital tidak cukup hanya menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga harus disertai sikap bijak, santun, dan menghargai perbedaan.
Ia mengingatkan bahwa maraknya hoaks keagamaan, ujaran kebencian, serta narasi intoleran di media sosial menjadi tantangan serius yang harus dihadapi bersama. Dalam konteks tersebut, Generasi Z diharapkan hadir sebagai agen perubahan yang mampu menangkal informasi menyesatkan sekaligus menghadirkan konten edukatif yang mencerahkan.
“Generasi muda hari ini adalah wajah Islam di ruang digital. Apa yang kita unggah, komentari, dan sebarkan akan membentuk persepsi publik tentang Islam itu sendiri,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa pesan Islam yang rahmatan lil ‘alamin harus disampaikan dengan pendekatan yang relevan, kreatif, dan tetap berlandaskan akhlak mulia.
Ustadz Iqbal juga menegaskan pentingnya moderasi beragama sebagai sikap hidup yang tercermin dalam keseharian, termasuk saat berinteraksi di media sosial. Menurutnya, moderasi beragama bukan sekadar wacana atau konsep teoretis, melainkan praktik nyata yang diwujudkan melalui sikap saling menghormati, tidak mudah menghakimi, serta mengedepankan dialog yang sehat.
“Moderasi beragama bukan sekadar konsep, tetapi praktik keseharian, termasuk saat bermedia sosial. Gen Z harus menjadi teladan dalam berdakwah yang cerdas, damai, dan berkeadaban,” tegasnya.
Materi yang disampaikan mendapat respons positif dari para peserta. Mereka diajak untuk lebih kritis dalam menyaring informasi, bertanggung jawab dalam membuat dan menyebarkan konten, serta menjadikan media sosial sebagai ladang amal dan sarana dakwah yang membawa manfaat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments