Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Di Balik 73 Golongan: NU, Muhammadiyah, dan Harmoni Polifoni Islam Nusantara

Iklan Landscape Smamda
Di Balik 73 Golongan: NU, Muhammadiyah, dan Harmoni Polifoni Islam Nusantara
Ilustrasi AI
Oleh : Nashrul Muminin Content Writer

Islam bukanlah suara tunggal yang kaku, melainkan sebuah simfoni besar yang terdiri dari banyak nada, warna, dan pemahaman. Sejak awal sejarahnya, umat Islam telah mengalami dinamika perbedaan yang melahirkan berbagai aliran dan organisasi.

Hadis Nabi yang menyebutkan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan sering dijadikan rujukan untuk memahami keragaman ini. Namun, tidak jarang pula disalahpahami sebagai legitimasi untuk saling menyalahkan.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً”
Artinya: “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan.” (HR. Tirmidzi).

Hadis ini sejatinya bukan sekadar peringatan, tetapi juga ajakan untuk menjaga persatuan di tengah perbedaan.

Dalam perjalanan sejarah, perbedaan dalam Islam lahir dari dua faktor utama: politik dan teologi. Konflik politik pasca wafatnya Nabi melahirkan kelompok besar seperti Sunni, Syiah, dan Khawarij. Sementara itu, perdebatan teologis melahirkan aliran seperti Mu’tazilah, Murji’ah, Qadariyah, dan Jabariyah.

Hal ini menunjukkan bahwa Islam berkembang melalui dialektika pemikiran yang dinamis dan hidup.

Di Indonesia, wajah Islam berkembang dalam bentuk yang lebih kontekstual dan kultural. Dua organisasi besar, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, menjadi representasi penting dari harmoni tersebut.

Nahdlatul Ulama (NU) hadir dengan pendekatan tradisional dan kultural, menjaga warisan ulama klasik serta praktik keagamaan yang membumi seperti tahlilan, maulid, dan ziarah.

Sementara Muhammadiyah tampil sebagai gerakan tajdid (pembaruan) yang menekankan pemurnian ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, serta pendekatan rasional dan modern.

Perbedaan ini bukanlah pertentangan, melainkan saling melengkapi.

Perbedaan antara NU dan Muhammadiyah justru menciptakan harmoni yang unik. Seperti orkestra, keduanya memainkan nada yang berbeda, tetapi menghasilkan keselarasan yang indah.

Inilah yang dapat disebut sebagai polifoni Islam Nusantara—keragaman yang tidak memecah, tetapi memperkaya.

Al-Qur’an sendiri telah menegaskan pentingnya persatuan:

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

“وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا”
(QS. Ali Imran: 103)

Artinya: “Berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah bercerai-berai.”

Ayat ini menjadi fondasi bahwa perbedaan tidak boleh berujung pada perpecahan, melainkan harus dikelola dengan hikmah dan ilmu.

Dalam konteks Indonesia, semangat ini juga diperkuat oleh konstitusi. UUD 1945 Pasal 29 ayat (2) menjamin kebebasan beragama bagi setiap warga negara, menegaskan bahwa keberagaman adalah bagian dari sistem yang dijaga.

Perbedaan antara aliran klasik dan organisasi modern seperti NU dan Muhammadiyah terletak pada pendekatan. Aliran klasik lebih fokus pada perdebatan teologis, sedangkan organisasi modern lebih menekankan praktik sosial dan dakwah.

Secara ringkas:

  • NU: tradisional, berbasis mazhab, kultural
  • Muhammadiyah: modernis, langsung ke dalil, rasional

Namun, keduanya tetap berada dalam satu tujuan besar: membangun umat.

Memahami konsep 73 golongan bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menyadari bahwa keragaman adalah realitas yang tidak terhindarkan.

Yang terpenting bukanlah label golongan, tetapi sejauh mana nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin diwujudkan dalam kehidupan.

Indonesia telah memberikan contoh bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan. NU dan Muhammadiyah tidak saling meniadakan, melainkan menjadi dua pilar besar yang menjaga keseimbangan umat.

Pada akhirnya, Islam bukan tentang siapa yang paling benar secara klaim, tetapi siapa yang paling membawa manfaat, kedamaian, dan keadilan. Di tengah perbedaan, harmoni adalah pilihan—dan Indonesia telah membuktikannya.

Revisi Oleh:
  • Satria - 09/04/2026 04:02
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡