Direktur Sekolah Kepemimpinan Nasional (SKN) 2025, Dr. Abdullah Sumrahadi, menegaskan bahwa ukuran kepemimpinan sejati bukanlah popularitas, melainkan integritas dan dampak nyata bagi masyarakat.
Pesan ini ia sampaikan dalam sambutan pembukaan SKN 2025 yang digelar pada Selasa (11/11/22025) di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya (BBPPMPVSB), Sleman, DI Yogyakarta.
“Kepemimpinan adalah soal integritas, bukan popularitas sesaat. Ini tentang keberanian menebar manfaat, bukan sekadar banyak bicara,” ujar Abdullah.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengutip pepatah Jawa ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha — yang berarti berjuang tanpa membawa massa, menang tanpa merendahkan lawan, berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, dan kaya tanpa harta berlimpah.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi ruh utama pendidikan kepemimpinan Muhammadiyah selama 13 hari pelaksanaan SKN 2025.
Menjawab Krisis Kepemimpinan di Era Digital
Abdullah kemudian menyoroti tantangan besar yang dihadapi para pemimpin masa kini. Ia menilai, krisis kepemimpinan di era digital tidak lagi semata berkaitan dengan kemiskinan atau birokrasi, melainkan krisis berpikir bebas di tengah derasnya arus informasi.
Mengutip pemikiran Franklin Foer dalam buku A World Without Mind: The Existential Threat of Big Tech, Abdullah mengingatkan bahaya monopoli informasi oleh raksasa teknologi seperti Google dan Meta.
“Perusahaan-perusahaan besar kini berupaya mengotomatisasi cara berpikir manusia hingga mengikis kemampuan kita untuk melakukan kontemplasi pribadi,” jelasnya.
Kondisi ini, lanjut Abdullah, menuntut pemimpin masa depan memiliki daya kritis, kemandirian berpikir, dan orisinalitas gagasan. Ia menekankan bahwa seorang pemimpin tidak hanya harus mampu memimpin masyarakat, tetapi juga menjaga ruang berpikir agar tetap otonom dan berdaulat dari dominasi algoritma.
Nilai Islam sebagai Kompas Kepemimpinan
Menutup sambutannya, Abdullah menegaskan bahwa nilai-nilai Islam harus menjadi kompas moral kepemimpinan di era modern.
Bagi Muhammadiyah, keislaman bukan sekadar identitas keagamaan, tetapi juga sumber kebijaksanaan yang membentuk karakter, keadilan, dan integritas pemimpin.
“Pemimpin Muhammadiyah harus hadir dengan keteguhan nilai, keluasan wawasan, dan kepekaan sosial. Dari sanalah lahir kepemimpinan yang beradab untuk Indonesia berkemajuan,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments