Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dokter Soewandhie: RSUD Kota Surabaya, Ketua Persebaya, Ketua PMI, dan Ketua Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Dokter Soewandhie: RSUD Kota Surabaya, Ketua Persebaya, Ketua PMI, dan Ketua Muhammadiyah
Foto: Potret dr. Mohamad Soewandhie. Foto: Dok/Achmad Zaki Yamani

Rumah Sakit ini awalnya adalah bernama Poli Penyakit Kelamin Tambakrejo yang berdiri pada 1964. Dua tahun kemudian berkembang Puskesmas Tambakrejo, yang kemudian menjadi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tambakrejo pada 1998.

Pada 20 Mei 2002, Wali Kota Surabaya Bambang DH secara resmi menamai RSUD ini dengan Dokter Soewandhie. Rumah sakit milik Pemkot Surabaya ini bertipe kelas B. Lokasi tepatnya berada di Jl. Tambak Rejo 45-47, Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Simokerto. Persis bersebarangan jalan dengan Kaza Mall.

Dokter Mohamad Soewandhie yang dijadikan nama RSUD ini adalah pahlawan medis Surabaya. Berperan penting dalam merawat para pejuang dalam pertempuran 10 November 1945. Lahir di di Caruban, Madiun pada 10 November 1901, sebagian besar hidupnya dihabiskan di Kota Surabaya. Bersama tokoh nasional lain, ia turut mengisi dinamika memajukan kota metropolitan ini.

Dalam peristiwa pertempuran 10 November 1945, Dokter Soewandhie adalah salah satu dokter yang berperan penting. “Jasa dr. Soewandhie dalam pertempuran Surabaya sangat besar. Ia banyak merawat para pejuang yang terluka akibat pertempuran,” jelas pegiat sejarah Begandring Soerabaia, Achmad Zaki Yamani.

Dokter Soewandhie tentu saja bukan satu-satunya dokter yang ada pada masa revolusi. Tapi pada masa revolusi kemerdekaan itu, Soewandhie adalah Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Surabaya yang pertama.

“Karena peran dan jasanya, Dokter Soewandhie kemudian diangkat menjadi Ketua PMI Jatim,” imbuhnya tentang PMI yang berdiri pada 17 September 1945.

Ketika terjadi pertempuran 10 November, ribuan orang gugur dalam pertempuran. Serta tidak terhitung berapa korban yang terluka. Rumah Sakit Centrale Burgelijke Ziekeninrichting (CBZ) Simpang tempat pejuang terluka dirawat sudah tidak bisa lagi menampung. Maka sejak 15 November 1945, Soewandhie memimpin evakuasi korban luka ke luar kota. Berbagai moda transportasi dikerahkan untuk mengevakuasi sekitar 3 ribu pejuang terluka.

Selain membooking jawatan kereta api, evakuasi itu juga menggunakan mobil, dokar, hingga cikar. “Siang dan malam dihabiskan untuk menggordinir petugas medis menggotong korban ke stasiun Gubeng, untuk diberangkatkan ke rumah sakit luar Surabaya,” cerita salah satu putrinya, Sundari, dalam buku Siapa dan siApa 50 Tokoh Muhammadiyah Jawa Timur Seri I.

Tak ketinggalan, suami dari Iniek Ismari yang dinikahinya di Kediri pada 28 Mei 1929 ini pun harus ikut mengungsi. Tentu saja ikut mendirikan beberapa rumah sakit darurat di pengungsian. Dalam pengungsian itu, Dokter Soewandhie memecah rombongan menjadi dua kelompok besar. Kelompok yang satu mengungsi ke Madiun, yang lain ikut Soewandhiee ke Kediri.

Barulah setelah perang selesai, Soewandhie kembali ke Surabaya beserta kelurganya. Dokter Soewandhie kemudian dipercaya untuk menjabat sebagai direktur CBZ Simpang. Rumah sakit ini dibangun era Daendels pada 1808, yang dulunya melayani pasien militer maupun sipil. Kini lahannya telah beralih fungsi menjadi pusat perbelanjaan Delta Plaza Surabaya atau Surabaya Plaza.

Dalam jenjang pendidikan, Soewandhie sebenarnya sempat mengenyam bangku kuliah di School tot Opleiding voor Indische Arts (STOVIA) di Jakarta. Namun kemudian pindah, meneruskan di Nederlands Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya pada tahun 1926-an. Pada tahun yang sama, terlibat menjadi salah satu pengasuh Balai Kesehatan Muhammadiyah Surabaya.

Pendidikannya di NIAS berhasil dituntaskan pada 1932, dan berhak menyandang gelar dokter. Ia pun dipercaya untuk memimpin Balai Kesehatan Muhammadiyah Surabaya yang saat itu sudah pindah ke lokasi sekarang, Jl KH Mas Mansyur No. 180-182.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Statusnya sebagai dokter di amal usaha Muhammadiyah itu dijalaninya hingga 1939. Sebab, Soewandhie mesti pindah ke Rumah Sakit CBZ setelah resmi diangkat sebagai dokter pemerintah. Meskipun demikian ia masih tetap sebagai pengasuh di Balai Kesehatan Muhammadiyah yang telah lama diasuhnya itu.

Masih sebagai dokter, Soewandhie pun berperan dalam dunia olah raga di Surabaya. Ia merupakan salah satu pendiri Surabayase Inlandsche Voetbalbond (SIVB) pada 18 Juni 1927 bersama Residen Surabaya, M. Pamoedji.

Bahkan ia pernah tercatat sebagai Ketua Umumnya pada tahun 1938. “… dan pada era kepemimpinan dr Soewandhie ini nama Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB) diganti menjadi Persatuan Sepak Bola Indonesia Soerabaja (Persibaja),” begitu tulis Portal Bonekwani. Nama Persibaja pada 1959, ia sekali lagi berubah menjadi Persatuan Sepak Bola Surabaya (Persebaya) hingga sekarang.

Masih sebagai dokter, Soewandhie juga tercatat sebagai salah satu pendiri organisasi Poetra Soerabaja atau “POESOERA” pada 26 September 1936. Selain Soewandhie, berbagai tokoh elit politik, cendekiawan, dan ulama ikut membidangi kelahiran organisasi ini. Yaitu KH. Mas Mansur, dr Soetomo, H. Nawawi Amin, H. Hoesein, H. Manan Edris, Koesnan Efendi, dr. Yahya, dan dr. Samsi.

Soewandhie juga terlibat dalam Pusat Tenaga Rakyat (Putera), badan bentukan Jepang yang dimotori oleh Soekarno, Moh Hatta, K.H. Mas Mansur dan Ki Hajar Dewantara. Di sini ia ditunjuk sebagai seksi olah raga. Ia memang seorang olahragawan, khususnya sepakbola. Dia memang seorang pendekar pencak silat Setia Hati Terate, sebuah perguruan yang berpusat di Madiun.

Kariernya di Muhammadiyah cukup panjang. Sejak masuk Surabaya pada 1926, dia langsung aktif sebagai salah satu pengelola Balai Kesehatan Muhammadiyah. Profesi ini dijalaninya hingga pensiun sebagai dokter pada 1961. Bahkan di Rumah Sakit yang kini menjadi RS PKU Muhammadiyah Surabaya itu, ia diangkat sebagai direkturnya selama 7 tahun: 1932-1939.

Sementara dalam struktur Muhammadiyah, Soewandhie dipercaya sebagai Ketua Muhammadiyah Cabang Surabaya. Selama 4 periode: 1951-1963. Ketika Muhammadiyah Surabaya dipecah menjadi 5 cabang pada 1963, dia sebenarnya terpilih sebagai Ketuanya untuk mengkordinirnya di tingkat Kota Surabaya.

Namun pada saat itu Muhammadiyah Cabang Surabaya Tengah menginginkan Dokter Soewandhie sebagai Ketua. Dia pun memilih Ketua Cabang Surabaya kawasan Tengah, sementara Muhammadiyah Surabaya dipimpin oleh  KH. M. Anwar Zain. Soewandhie memegang amanah Ketua Cabang Surabaya kawasan Tengah ini hingga tahun 1966.

Selain itu, sosok yang wafat pada 16 Maret 1987 ini juga tercatat sebagai salah satu tokoh utama pembentukan Perwakilan Pengurus Besar (PB) Muhammadiyah di Jatim. Ketika lembaga ini pertama kali dibentuk pada 1951, para pendirinya adalah KH Abdulhadi, Soewandhie, Nurhasan Zain, M. Saleh Ibrahim dan Rajab Gani. Lembaga inilah yang hari ini menjadi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Jatim. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡