Dosen Program Doktor Studi Islam sekaligus Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dr. Sholikhul Huda, M.Fil.I, terpilih sebagai invited speaker pada ajang bergengsi Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS+) ke-24. Tahun ini, AICIS mengusung tema “Islam, Ecotheology, and Technological Transformation: Multidisciplinary Innovations for an Equitable and Sustainable Future.”
Konferensi ilmiah internasional tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Jakarta, pada Rabu-Jumat (29–31/10/2025).
AICIS tahun ini diikuti oleh para cendekiawan Muslim dari berbagai negara, di antaranya Inggris, Mesir, Singapura, Nigeria, Prancis, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat. Forum akademik tahunan ini menjadi ruang dialog global tentang perkembangan Islam kontemporer, isu sosial, serta tantangan kemanusiaan lintas negara.
Dalam forum tersebut, Dr. Sholikh mempresentasikan hasil risetnya yang didanai oleh BRIN–LPDP, berjudul “Community-Based Deradicalization and Local Peacebuilding: A Case Study of Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) Lamongan Indonesia.”
Penelitian ini menyoroti model deradikalisasi mantan narapidana terorisme (napiter) yang digagas oleh Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) di Lamongan, Jawa Timur, sebagai pendekatan peacebuilding from below—pembangunan perdamaian yang berangkat dari komunitas akar rumput.
Menurut Dr. Sholikh, pendekatan YLP membuktikan bahwa deradikalisasi lebih efektif jika mengintegrasikan dimensi ekonomi, spiritual, dan sosial, bukan semata berbasis intervensi keamanan.
“Eks-napiter perlu diberi ruang untuk diakui dan berpartisipasi dalam masyarakat agar rekonsiliasi benar-benar terwujud,” ujarnya.
Kehadiran Dr. Sholikh dalam forum internasional ini menegaskan kontribusi akademisi Muhammadiyah dalam memperkaya wacana global mengenai Islam moderat, perdamaian, dan kemanusiaan. Selain menjadi ajang diseminasi hasil riset, partisipasinya juga memperkuat posisi Universitas Muhammadiyah Surabaya sebagai kampus riset yang berorientasi pada isu-isu strategis kebangsaan dan global.
Menutup presentasinya, Dr. Sholikh menyampaikan pesan moral yang mendalam:
“Teroris juga manusia, maka perlakuan terhadap mereka pun harus dengan pendekatan kemanusiaan.”
Pandangan tersebut, lanjutnya, merupakan refleksi dari nilai Islam rahmatan lil-‘alamin yang menempatkan setiap manusia sebagai subjek kemanusiaan yang layak dihargai dan dibimbing menuju jalan perdamaian. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments