Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dosen UMS Temukan Terapi Yoga dan Spiritualitas untuk Bantu Lansia Atasi Depresi

Iklan Landscape Smamda
Dosen UMS Temukan Terapi Yoga dan Spiritualitas untuk Bantu Lansia Atasi Depresi
Wachidah Yuniartika. Foto: UMS
pwmu.co -

Kesepian pada usia senja tidak selalu terlihat. Seorang lansia mungkin masih bisa berjalan, berbincang, dan menjalani aktivitas sehari-hari. Namun, kehilangan pasangan, berhenti bekerja, atau jarang bertemu anak-anak bisa membuat hidup terasa hampa.

Kondisi itu kerap dianggap wajar sebagai bagian dari proses menua. Padahal, jika dibiarkan, kesepian dapat berkembang menjadi persoalan kesehatan mental, termasuk depresi.

Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Wachidah Yuniartika, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.K, mencoba menjawab persoalan tersebut melalui pendekatan yang memadukan gerakan yoga ringan, latihan kesadaran diri (mindfulness), dan spiritualitas.

Terapi yang dikembangkannya bernama mindful yoga. Pendekatan ini tidak hanya mengajak lansia menggerakkan tubuh dan mengatur pernapasan, tetapi juga menyediakan ruang untuk merenung, mendekatkan diri kepada Allah, dan berbagi cerita dengan sesama.

Gagasan itu berangkat dari pengalamannya saat menempuh pendidikan spesialis keperawatan komunitas.

Wachidah melihat pemerintah daerah sebenarnya telah memberikan perhatian terhadap kesehatan mental lansia. Namun, gambaran mengenai jumlah dan kondisi lansia yang mengalami depresi belum sepenuhnya diketahui.

Ia kemudian melakukan skrining bersama mahasiswa di sejumlah posyandu lansia di Kecamatan Baki, Sukoharjo.

“Survei menunjukkan banyak lansia mengalami depresi, meski sebagian besar masih berada pada kategori ringan hingga sedang,” jelas Wachidah saat ditemui di ruangannya, Jumat (9/10/2026).

Temuan tersebut menjadi titik awal untuk mencari pendekatan yang dapat membantu lansia menjaga kesehatan mental, sekaligus memungkinkan pendampingan dilakukan di lingkungan tempat tinggal mereka.

Yoga yang Mengajak Lansia Mendekat kepada Allah

Dalam artikel ilmiahnya yang bertajuk Mindful Yoga Therapy for Elderly Depression: Community-Based Nonpharmacological Approach, Wachidah menjelaskan pendekatan terapi nonfarmakologis berbasis komunitas untuk membantu lansia menghadapi depresi.

Sebelum merancang intervensi, ia dan tim menggali pengalaman lansia melalui wawancara dengan mereka, keluarga, serta kader kesehatan.

Cerita yang muncul relatif serupa. Sebagian lansia kehilangan pasangan hidup. Ada yang harus berhenti bekerja setelah puluhan tahun aktif mencari nafkah. Sebagian lainnya menghabiskan banyak waktu sendirian karena anak-anak mereka bekerja sejak pagi hingga sore.

Keluarga terkadang menganggap perubahan tersebut sebagai hal biasa karena orang tua sudah lanjut usia.

“Menurut keluarga, itu dianggap biasa karena mereka sudah sepuh. Padahal kalau kondisi seperti itu dibiarkan, lama-kelamaan bisa berkembang menjadi gangguan mental,” jelasnya.

Wachidah kemudian mengembangkan mindful yoga dengan memasukkan unsur spiritual Islam. Selama sekitar 30–45 menit, peserta melakukan peregangan ringan, latihan pernapasan, dan relaksasi. Sesi juga diisi perenungan selama 5–10 menit.

Pada bagian ini, lansia diajak menarik napas, melafalkan istigfar, dan membangun keyakinan bahwa mereka masih dapat menjalani kehidupan secara sehat dan mandiri, serta memperkuat kedekatan dengan Allah.

“Jadi proses menerima diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan menjadi bagian penting dalam membantu lansia menghadapi depresi,” imbuhnya.

Bagi Wachidah, kesehatan mental lansia tidak cukup dilihat dari kondisi fisik. Perasaan kehilangan, kebutuhan untuk didengarkan, dan hubungan spiritual juga perlu mendapat perhatian.

74,3 Persen Peserta Tak Lagi Menunjukkan Gejala Depresi

Efektivitas pendekatan tersebut diuji melalui penelitian terhadap 70 lansia. Sebanyak 35 orang masuk kelompok intervensi yang mengikuti mindful yoga, sedangkan 35 lainnya menjadi kelompok kontrol atau pembanding.

Intervensi diberikan kepada lansia Muslim yang mengalami depresi ringan hingga sedang selama 12 minggu, dengan frekuensi dua hingga tiga kali setiap pekan.

Hasilnya menunjukkan perubahan pada kelompok yang mengikuti terapi. Sebelum intervensi, seluruh peserta dalam kelompok tersebut mengalami depresi. Setelah 12 minggu, sebanyak 74,3 persen peserta tidak lagi menunjukkan gejala depresi berdasarkan pengukuran penelitian.

“Nilai rata-rata depresi kelompok intervensi turun signifikan dari 8,00 menjadi 4,74,” jelas Wachidah.

Perubahan juga terlihat dalam aktivitas sehari-hari. Lansia yang sebelumnya enggan datang ke posyandu mulai hadir tanpa perlu diundang. Mereka bahkan lebih aktif mengikuti pengajian di masjid.

SMPM 5 Pucang SBY

“Bahkan tanpa undangan mereka sudah bertanya, ‘Bu, kapan posyandu lagi?’ Yang dulu pendiam sekarang justru banyak cerita tentang kondisi kesehatannya,” kenangnya.

Bagi Wachidah, perubahan perilaku tersebut menjadi gambaran bahwa pendampingan kelompok dapat membuka kembali ruang interaksi yang sebelumnya berkurang dalam kehidupan lansia.

Tiga Hal yang Membantu Menekan Depresi

Wachidah menjelaskan, perubahan yang dialami peserta tidak semata-mata berasal dari gerakan yoga. Ada tiga unsur yang saling melengkapi dalam pendekatan mindful yoga.

Pertama, aktivitas fisik ringan. Gerakan yang dilakukan secara perlahan membantu lansia tetap aktif tanpa memberikan beban berlebihan pada tubuh. Latihan pernapasan dan relaksasi juga membantu mengurangi ketegangan serta mengelola kecemasan.

Kedua, pendekatan spiritual. Lansia memperoleh kesempatan untuk merenungkan keadaan diri, melafalkan istigfar, dan membangun penerimaan terhadap perubahan hidup yang mereka alami.
Ketiga, dukungan sosial. Unsur ini menjadi bagian penting karena terapi dilakukan bersama-sama, bukan secara individual.

Selama tiga bulan pendampingan, para lansia memiliki kesempatan untuk berbincang sebelum sesi dimulai. Mereka dapat menceritakan keseharian, pengalaman kehilangan, maupun kesulitan yang dihadapi.

Percakapan itu perlahan membangun rasa kebersamaan. Mereka menyadari bahwa kesulitan yang dialami bukan hanya milik diri sendiri.

“Akhirnya mereka merasa, ternyata bukan hanya saya yang mengalami ini,” ujar Wachidah.

Ia juga menceritakan seorang lansia yang tetap mampu berjalan sendiri meskipun telah kehilangan suami dan anak-anaknya sibuk bekerja. Pengalaman itu menjadi pembanding bagi peserta lain yang membutuhkan alat bantu untuk bergerak.

Pertemuan rutin membuat para lansia memiliki teman untuk berbagi pengalaman. Mereka tidak hanya mendapatkan pendampingan, tetapi juga kesempatan untuk merasa diterima dan didengarkan.

Dalam konteks ini, terapi kelompok menghadirkan sesuatu yang mungkin selama ini kurang mereka dapatkan: ruang untuk berinteraksi dan menyadari bahwa mereka tidak menghadapi persoalan hidup sendirian.

Bukan Pengganti Pengobatan Profesional

Meski hasil penelitian menunjukkan perubahan positif, Wachidah menegaskan bahwa mindful yoga bukan pengganti pengobatan profesional bagi penderita depresi berat.

Terapi ini lebih tepat ditempatkan sebagai pendekatan pendukung, terutama untuk upaya promotif dan preventif serta membantu lansia dengan gejala depresi ringan hingga sedang.

Skrining tetap diperlukan sebelum intervensi diberikan. Lansia yang mengalami depresi berat perlu dirujuk agar memperoleh penanganan profesional sesuai kebutuhannya.

Wachidah berharap mindful yoga dapat diterapkan secara berkelanjutan melalui posyandu lansia.

Untuk mendukung keberlanjutan program, ia telah melatih bidan desa dan kader kesehatan agar dapat membantu pelaksanaan terapi, dengan tetap memperhatikan kebutuhan pendampingan tenaga kesehatan.

Ia juga mengembangkan model intervensi yang lebih inklusif di Desa Gedongan, Kecamatan Baki, Sukoharjo. Kali ini, peserta tidak dibatasi pada satu latar belakang agama. Lansia dari berbagai keyakinan diajak mengikuti terapi yang dipadukan dengan kegiatan rekreasi.

Jika sebelumnya sesi spiritual diisi dengan refleksi dan istigfar, pada model baru tersebut kegiatan perenungan dan doa disesuaikan dengan keyakinan masing-masing peserta.

Tujuannya tetap sama: menghadirkan ruang yang membantu lansia merasa lebih tenang, terhubung dengan orang lain, dan memperoleh dukungan dalam menjalani masa tua. Hasil penelitian lanjutan itu ditargetkan rampung pada akhir Oktober 2026.

Bagi lansia, perhatian tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang rumit. Pertemuan rutin, kesempatan bercerita, gerakan tubuh yang sesuai kemampuan, dan ruang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dapat menjadi bagian dari ikhtiar menjaga kesehatan mental pada usia senja. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 10/10/2026 06:20
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu